Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Ribuan Warga Terdampak Perubahan Desil Ajukan Perubahan Data
    12 jam lalu
    Asap Karhutla Sumatra Sampai ke Kepri hingga Singapura & Malaysia
    12 jam lalu
    Rp3,77 Miliar Bantuan Alat Tangkap untuk 210 Nelayan di Batam
    13 jam lalu
    Layanan Air Bersih di Batam Memburuk, Ombudsman Kepri Turun ke Lapangan
    14 jam lalu
    Juli 2026: Turis Asing ke Batam Turun 10,78 Persen
    14 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Dari Letnan Asworth ke Brandes; Inkripsi Prasasti Budha di Karimun
    2 hari lalu
    Pembaca Lansia
    3 hari lalu
    Pasokan Anggur Lokal di Bintan Jadi Peluang Petani
    5 hari lalu
    Lomba Jong di Pantai Wan Seri Beni Bintan
    5 hari lalu
    Negeri Lingga, 1861 (Bagian 2)
    7 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tanjung Lamun, Batam
    5 jam lalu
    Gunung Kijang, Bintan
    11 jam lalu
    Gedung Beringin, Batam
    2 minggu lalu
    Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
    3 minggu lalu
    Inflasi Kota Batam Juli 2026 Stabil di Angka 3,49 Persen
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
BenarNews.org

Indonesia Hadapi Darurat Petani, Pemerintah Luncurkan “Petani Milenial” Bergaji Besar

Editor Admin 2 tahun lalu 743 disimak
Sebuah foto udara menunjukkan seorang petani menyemprotkan pupuk ke atas sawah di Lhoknga, Aceh, pada 28 November 2024. © F. Chaideer Mahyuddin / AFPDisediakan oleh GoWest.ID

INDONESIA sedang menghadapi krisis pertanian. Petani semakin menua, sementara kaum muda enggan mengambil alih akibat stigma yang masih melekat bahwa pertanian adalah pekerjaan kotor dan berbayaran rendah.


UNTUK mengatasi hal ini, pemerintah meluncurkan program “Petani Milenial” yang bertujuan menarik perhatian generasi muda untuk kembali ke ladang dengan janji lahan, peralatan, dan pendapatan minimal Rp10 juta per bulan.

Namun, kalangan petani dan ahli meragukan program ini, mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan janjinya serta keberhasilan dalam merekrut individu yang tepat.

Didik Purwanto, petani berusia 40 tahun yang kembali ke dunia pertanian setelah kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19, mengaku kesulitan untuk mendaftar program Petani Milenial karena lokasi dia di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tidak tercakup program.

“Siapa sih yang tidak tergiur sama uang Rp10 juta, kami ingin tahu programnya. Apakah kita diberikan peralatan modern dan canggih, atau hanya mengolah dan merawat lahan pemerintah,” kata Didik kepada BenarNews.

“Jika masih konvensional saya kok ragu petani muda bakalan mau. Karena kerjaannya berat lho. Anak muda jaman sekarang disuruh nyangkul, bajak dan nyemplung ke sawah pasti tidak mau,” kata dia.

Kesenjangan antara visi pemerintah dan kenyataan di lapangan menjadi tantangan yang dihadapi sektor pertanian Indonesia.

Banyak petani muda, seperti Didik, yang berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup, meragukan apakah program Petani Milenial benar-benar menarik seperti yang dijanjikan.

Banyak kalangan di komunitas pertanian berpendapat bahwa meskipun program pemerintah memiliki niat baik, sering kali program tersebut tidak tepat sasaran dalam mengatasi tantangan mendalam yang membuat pertanian menjadi profesi yang tidak menarik.

Tantangan tersebut meliputi risiko finansial, pendapatan yang tidak stabil, dan kerja keras yang melelahkan dalam bertani tradisional, yang tidak ingin dijalani oleh generasi muda, meskipun dengan adanya teknologi modern.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman tetap optimistis, dengan menyatakan bahwa lebih dari 20.000 anak muda telah mendaftar untuk program ini.

“Ada bonus demografi 52%, ada sumber daya alam melimpah, ada teknologi buatan anak bangsa, dan milenial ini tidak mungkin dia ikut, tidak mungkin mau terlibat, kalau tidak menguntungkan,” kata Amran bulan lalu.

Program ini membagi hasil pertanian dengan sistem 70-30, di mana 70% keuntungan diberikan kepada petani dan 30% kepada pemilik lahan, katanya.

Kementerian Pertanian telah merekrut 3.000 petani milenial yang aktif terlibat dalam persiapan lahan dan produksi pertanian, dengan tujuan meningkatkan partisipasi menjadi 50.000 orang untuk mengolah 3 juta hektare lahan di seluruh Indonesia, tambahnya.

Entang Sastraatmadja, ketua Asosiasi Petani Indonesia, mengungkapkan keraguan bahwa anak muda benar-benar tertarik pada dunia pertanian, mengatakan bahwa banyak peserta program petani milenial berasal dari kalangan menengah ke atas dan kurang memiliki pengalaman langsung dalam bertani.

“Petani milenial sepertinya tidak akan mampu menyelesaikan masalah yang selama ini menjerat kehidupan kaum muda yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga petani gurem dan buruh tani,” kata Entang kepada BenarNews.

“Mereka seolah-olah tampil hanya sebagai penonton, menyaksikan anak muda perkotaan yang telah memproklamirkan diri sebagai Petani Milenial itu.”

Firminus Dodi, 35 tahun, saat bertani di lahan pertanian miliknya di Kalimantan Barat, tahun 2023. [Dok pribadi]

Sektor pertanian Indonesia semakin tertekan. Meskipun merupakan negara agraris, sebagian besar pertanian di Indonesia berskala kecil dan dilakukan secara subsisten, dengan lebih dari 15 juta petani Indonesia mengolah lahan yang lebih kecil dari 0,5 hektar, menurut data Badan Pusat Statistik.

Banyak petani yang berpenghasilan di bawah garis kemiskinan, dengan pendapatan yang sangat bergantung pada fluktuasi pasar dan pola cuaca yang tak menentu, kata para ahli.

“Kalau pendapatan bagus pasti mau kita,” kata Yadi Sofyan Noor, Ketua KTNA (Keluarga Tani Nelayan Andalan), kepada BenarNews.

“Tapi banyak anak muda yang mempertanyakan benar nggak ini? Kalau menanamnya di atas 5 hektare sih mungkin saja, tapi kalau 1 hektare mana mungkin,” kata dia.

Bayu Krisnamurthi, mantan wakil menteri pertanian, mengatakan bahwa ia percaya Indonesia sudah memiliki cukup banyak petani, tetapi mereka kekurangan sumber daya dan dukungan.

Bayu menjelaskan bahwa sekitar setengah dari petani Indonesia sebetulnya terjebak dalam profesi ini, dengan banyak dari mereka bekerja sebagai buruh tani untuk orang lain.

“Banyak anak muda yang sudah berhasil di dunia pertanian. Ini yang harus kita tekankan. Kita akan terus dorong agar sektor pertanian dapat menjadi pilihan karier yang menarik, bahkan menjanjikan,” kata dia dalam rilis yang diterima BenarNews.

Ia memperingatkan bahwa meskipun teknologi dapat menarik sebagian anak muda untuk beralih ke pertanian yang lebih menguntungkan, tetapi sektor ini terutama pertanian padi, menghadapi tantangan mendalam yang memerlukan lebih dari sekadar solusi teknologi.

Firminus Dodi, mantan guru berusia 35 tahun yang berasal dari Kalimantan Barat yang mendaftar program Petani Milenial, mengatakan ia terjun ke ladang karena cinta dengan ilmu alam.

Ia menjelaskan, di bidang hortikultura, ia bisa menjual jagung pipilan senilai Rp5000/kg, sementara jika sudah dikemas untuk pakan ternak bisa bertambah menjadi Rp8000/kg.

“Kalau dihitung ya penghasilannya bahkan bisa mencapai lebih dari Rp10 juta,” ujar Dodi.

Ia mengakui merubah pola pikir pemuda untuk menjadi petani tidaklah mudah.

“Di Indonesia ini kan petani dikenal kumuh, hitam, kucel dan miskin sehingga minat anak muda kurang. Tetapi sekarang banyak teknologi seperti drone dan aplikasi yang disesuaikan dengan HP juga jadi memudahkan,” kata dia.

Kaitan Darurat petani, Petani milenial
Admin 3 Desember 2024 3 Desember 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Kenaikan PPN jadi 12% dan Rencana Pengampunan Pajak Dianggap Tidak Adil
Artikel Selanjutnya Temukan Mikroplastik dalam Kosmetik, Pemerintah Diminta Lakukan Pemeriksaan

APA YANG BARU?

Tanjung Lamun, Batam
Wilayah 5 jam lalu 53 disimak
Gunung Kijang, Bintan
Wilayah 11 jam lalu 83 disimak
Ribuan Warga Terdampak Perubahan Desil Ajukan Perubahan Data
Artikel 12 jam lalu 129 disimak
Asap Karhutla Sumatra Sampai ke Kepri hingga Singapura & Malaysia
Artikel 12 jam lalu 149 disimak
Rp3,77 Miliar Bantuan Alat Tangkap untuk 210 Nelayan di Batam
Artikel 13 jam lalu 120 disimak

POPULER PEKAN INI

Diduga Dampak Karhutla, Langit Batam Mulai Diselimuti Kabut Asap
Artikel 4 hari lalu 388 disimak
Negeri Lingga, 1861 (Bagian 2)
Histori 7 hari lalu 313 disimak
BMKG Batam: “Cuaca Kota Batam Awal Bulan September Cerah Berawan”
Artikel 4 hari lalu 303 disimak
Pasokan Anggur Lokal di Bintan Jadi Peluang Petani
Lingkungan 5 hari lalu 293 disimak
Lomba Jong di Pantai Wan Seri Beni Bintan
Budaya 5 hari lalu 286 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?