BAU menyengat yang diduga berasal dari tumpahan minyak yang mencemari pesisir pantai Kampung Tanjungtalok, Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, mulai dikeluhkan warga setempat.
Melansir dari Batampos.co.id, Seorang warga bernama Ati mengatakan, minyak yang diduga berupa solar atau oli tersebut terlihat jelas menggenangi kawasan pesisir, terutama di bawah rumah panggung milik warga.
“Entah itu solar atau oli, tapi minyaknya terlihat jelas di pesisir pantai dan baunya sangat menyengat,” ujar Ati belum lama ini.
Menurutnya, tumpahan minyak itu berada tepat di bawah rumah panggung sejumlah warga sehingga menimbulkan ketidaknyamanan, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi.
“Kasihan warga, apalagi yang punya bayi. Baunya menyengat sekali,” katanya.
Plt Kepala Pangkalan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Uban, Alfaizul melaporkan dari keterangan RT setempat, tumpahan minyak tersebut mulai terlihat sejak tanggal 2 Januari 2026, sekitar pukul 07.00 WIB.
“Tumpahan minyak di sekitar pantai dan disertai bau menyengat, hingga mengganggu kenyamanan warga sekitar,” kata Alfaizul di Bintan, Rabu (7/01/2025).
Dia mengatakan telah menurunkan Tim Rescue Pangkalan PLP Tanjung Uban guna memantau langsung lokasi tumpahan minyak di Desa Teluk Sasah.
Dari hasil pemantauan di lapangan, kata dia, tumpahan minyak masih terjadi di lokasi kejadian meskipun volumenya sudah mulai berkurang.
Sementara itu Kepala Dusun Desa Teluk Sasah, Wahyudi, membenarkan adanya pencemaran minyak di wilayah pesisir tersebut.
Ia menyebutkan, tumpahan minyak pertama kali ditemukan sekitar empat hari lalu dan hingga kini masih menyisakan dampak, meski volumenya mulai berkurang.
“Empat hari lalu minyaknya cukup banyak. Sekarang memang sudah berkurang, tapi baunya masih terasa,” ujar Wahyudi.
Ia mengatakan, pemerintah desa telah menindaklanjuti keluhan masyarakat dengan turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
Menurut Wahyudi, pencemaran minyak tersebut telah berdampak pada aktivitas ekonomi dan keseharian warga pesisir.
Warga yang biasa mencari kerang, rumput laut, dan gonggong mendapati hasil tangkapan mereka tercemar minyak.
“Rumput laut dan gonggong yang dikumpulkan warga jadi berminyak. Kepiting yang ditangkap juga berminyak,” jelasnya.
Tak hanya itu, warga yang memiliki kelong juga terdampak. Jaring dan bubu kelong menjadi kotor akibat minyak, sementara ikan enggan mendekat ke area kelong.
“Jaring dan bubu jadi berminyak. Ikan juga tidak mau mendekat, kemungkinan karena bau minyak,” tambahnya.
Wahyudi berharap instansi terkait segera turun tangan untuk menelusuri sumber tumpahan minyak tersebut agar pencemaran tidak kembali terjadi.
“Kami berharap ada penanganan dan sumber minyaknya bisa diketahui, supaya aktivitas warga bisa kembali normal,” pungkasnya.
(*/batampos)


