Hubungi kami di

Hidup Sehat

Antara DEPRESI Dan JUNK FOOD

nien bagaskara

Terbit

|

Otak dan tubuh kita bekerja setiap saat tanpa henti, oleh karena itu dibutuhkan energi dan bahan bakar untuk melakukan semua pekerjaan itu. Bayangkan jika tubuh dan otak Anda adalah sebuah mobil mewah yang membutuhkan perawatan yang sangat baik?


BAGAIMANA MAKANAN DAPAT MEMPENGARUHI MOOD DAN PERASAAN ANDA?

MENURUNKAN PRODUKSI SEROTONIN

SEROTIN merupakan hormon yang membantu untuk mengatur tidur, nafsu makan, suasana hati, dan suhu tubuh. Hormon ini 95% diproduksi di saluran pencernaan yang terhubung dengan jutaan sel saraf, sehingga bukan tidak mungkin apa yang Anda makan akan berpengaruh pada mood Anda.

Penelitian yang dilakukan seperti kami lansir dari laman hellosehat.com menyebutkan bahwa kelompok yang sering mengonsumsi makanan berlemak tinggi dan rendah untuk kandungan zat gizi lainnya, memiliki kadar serotonin yang lebih sedikit.

Maka, konsumsi makanan seperti junk food, tidak hanya membuat cadangan lemak Anda bertambah, namun juga membuat suasana hati menjadi kurang baik dan mudah untuk mengalami stress.

JUNK FOOD TIDAK MEMILIKI BAKTERI PROBIOTIK YANG DIPERLUKAN TUBUH

Makanan seperti junk food biasanya tidak memiliki zat gizi yang baik dan hanya mengandung lemak yang tinggi akibat proses pemasakannya dengan cara menggoreng pada suhu sangat tinggi. Tentunya, makanan yang seperti itu, tidak mengandung bakteri probiotik yang berguna membantu tubuh untuk mencerna makanan maupun minuman.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa bakteri probiotik dapat meningkatkan hormon serotonin, yaitu hormon ‘bahagia’. Sedangkan kekurangan bakteri probiotik akan menyebabkan orang mengalami stress dan depresi.

Penelitian menyebutkan bahwa orang yang memiliki bakteri probiotik dalam tubuhnya, memiliki tingkat stress dan kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang bakteri probiotiknya sedikit.

Penelitian lain membandingkan kelompok yang sering memakan makanan western food sepertijunk food dengan kelompok mengonsumsi makanan tradisional dan hasil penelitian itu diketahui bahwa kelompok yang mengonsumsi junk food mengalami tingkat stress  25-35% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok satunya.

Hal ini disebabkan karena makanan tradisional terdiri dari berbagai bahan makanan yang kaya zat gizi, sedangkan western food hanya memiliki kadar lemak yang tinggi.

MENINGKATKAN STRESS OKSIDATIF DALAM TUBUH

Stress oksidatif adalah proses yang alami terjadi dalam tubuh akibat terlalu banyak zat radikal bebas yang diproduksi oleh tubuh. Stress oksidatif dapat dipicu oleh konsumsi lemak yang berlebihan, seperti lemak trans yang terdapat di berbagai jenis junk food.

Jika proses ini terus terjadi di dalam tubuh, maka tubuh akan merasa ‘jenuh’ dan memicu depresi berat pada seseorang. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, menunjukkan bahwa orang yang mengalami depresi berat memiliki tingkat radikal bebas lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak dalam tekanan.

Penelitian yang melibatkan setidaknya 675 kasus depresi, membuktikan bahwa kelompok yang mengonsumsi makanan yang mengandung lemak trans tinggi, seperti pastrydan  junk food, memiliki tingkat depresi yang tinggi.

Sedangkan kelompok yang sering mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tidak jenuh seperti, alpukat, minyak zaitun, dan berbagai macam kacang-kacangan memiliki tingkat depresi yang lebih rendah. Pada penelitian lain, konsumsi makanan tinggi lemak dapat meningkatkan risiko terkena depresi sebanyak 48%. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook