Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • đź”´ Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Warga Batam Jaga Kewaspadaan, Potensi Hujan Petir Masih Ada
    4 jam lalu
    Harga Terus Meningkat, Emas Jadi Favorit Berinvestasi Warga Batam
    15 jam lalu
    Belanja Pegawai Pemko Batam Tembus 36 Persen APBD Batam
    21 jam lalu
    Rapat Paripurna DPRD Batam Diskors, Usulan Perpindahan Yefri Picu Polemik Komposisi Komisi
    21 jam lalu
    Harga Pertamax dan BBM Non-Subsidi di Batam Naik Lagi per 10 Juni 2026
    23 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kalah Dari Australia, Nova Arianto Segera Evaluasi Tim Garuda Muda
    4 jam lalu
    Gagal ke Final, Tim Garuda U19 Kalah Tipis dari Australia
    5 jam lalu
    “Sagu-Sagu di Tepian Sungai Lingga’
    5 jam lalu
    Pendaftaran PPDB Kepri 2026 Dibuka
    12 jam lalu
    Gol Tunggal Ole Romeny Menangkan Timnas Garuda Atas Mozambik
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah (Sultan Riau Lingga Keempat 1857 – 1883)
    6 jam lalu
    Penduduk Batam Kategori Miskin 3,81 persen, Lingga Tertinggi di Kepri 9 persen
    2 hari lalu
    Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
    3 hari lalu
    Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
    5 hari lalu
    Data Inflasi di Propinsi Kepri Semester I 2026
    6 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    5 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    11 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • đź”´ Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Bahasa – Bahasa Daerah di Indonesia yang Sudah Punah

Editor Admin 8 tahun lalu 2.4k disimak

INDONESIA kaya budaya. Termasuk bahasanya. Menurut jumlah penuturnya, 5 bahasa yang terbanyak digunakan di Indonesia adalah :

Bahasa Jawa, Melayu – Indonesia, bahasa Sunda, Madura dan Batak.

Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.

Namun seiring zaman, sebanyak 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia dinyatakan punah saat ini. Selain itu, ada empat bahasa daerah yang dinyatakan kritis dan dua bahasa daerah mengalami kemunduran.

Bahasa yang punah tersebut berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahas daerah Ibo dan Meher.

“Ada juga 16 bahasa yang stabil tapi terancam punah dan ada 19 bahasa yang masuk dalam kategori aman,” tutur Kepala Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa Jakarta Ganjar Harimansyah dilansir Kompas (10/2).

Saat ini, menurut Ganjar, hingga Oktober 2017 ada 652 bahasa yang telah diidentifikasi dan divalidasi dari 2.452 daerah pengamatan di wilayah Indonesia.

“Namun jika akumulasi persebaran bahasa daerah per provinsi, bahasa di Indonesia berjumlah 733 dan jumlahnya akan bertambah karena bahasa di Nusa Tengga Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum teridentifikasi,” ungkap Ganjar.

Menurut dia, ada beberapa penyebab kepunahan bahasa antara lain penyusutan jumlah penutur, perang, bencana alam yang besar, kawin campur antarsuku, sikap bahasa penutur dan letak geografis. Dia mencontohkan bahasa-bahasa di Maluku yang jumlah penuturnya hanya 0,76 persen.

“Setiap tahun beberapa bahasa daerah yang ada di Indonesia terancam punah atau mengalami penurunan status. Unesco pada 2009 juga mencatat sekitar 2.500 bahasa di dunia termasuk lebih dari 100 bahasa daerah di Indonesia terncam punah. Sedangkan sebanyak 200 bahasa telah punah dalam 30 tahun terakhir dan 607 tidak aman,” kata Ganjar.

Untuk regulasi perlindungan bahasa dan sastra daerah, menurut Ganjar, seharusnya adalah tugas pemerintah daerah setempat. Namun di Indonesia, hanya ada satu peraturan daerah yang mengatur tentang pelindungan bahasa daerah dan sastra Indonesia yaitu Provinsi Sumatra Utara.

“Harus ada pelindungan akan bahasa daerah, karena kepunahan bahasa berarti kematian kekayaan batin kelompok etnis pengguna bahasa,” pungkasnya.

Sementara itu, Antariksawan Yusuf, Ketua Sengker Kuwung Blambangan, mengatakan, untuk melestarikan bahasa daerah yang ada di Banyuwangi, komunitasnya sudah menerbitkan 18 buku yang berbahasa daerah Using yang ditulis oleh penulis-penulis asal Banyuwangi.

“Ada novel atau cerpen dalam berbahasa daerah Using atau artikel yang berkaitan dengan Banyuwangi. Ini adalah sebagai usaha kami untuk melestarikan bahasa Using termasuk juga hari ini pelatihan menyusun kamus yang ke depannya adalah untuk mengembangkan kamus bahasa Using yang telah disusun oleh Hasan Ali pada tahun 2002 lalu,” tuturnya.

“Mereka” yang Nyaris Punah

BERDASARKAN situs riset linguistik dan telaah bahasa dunia, Ethnologue, Indonesia menempati urutan kedua dengan bahasa lokal terbanyak di dunia. Situs itu menyebut, Indonesia memiliki 707 bahasa daerah.

Namun, tidak semua bahasa daerah tersebut berstatus aman.

Berdasarkan data Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, laman Liputan6 juga merilis ada 11 bahasa daerah yang menyandang status punah pada bulan Oktober 2017 kemarin.

Infografik : © Liputan 6

Ini mengkhawatirkan mengingat Indonesia sebenarnya kaya bahasa.

Soal bahasa yang ada di Indonesia, laman National Geographic Indonesia menyebut, saat ini 13 bahasa daerah yang jumlah penuturnya lebih dari 1 juta orang atau terbanyak. Sementara 14 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah.

Laman tersrbut mengupas bahwa sejauh ini terdapat 14 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah. Sementara itu, satu bahasa lagi hanya digunakan oleh satu orang dan dinyatakan nyaris musnah.

Dari empat belas bahasa yang punah itu, 10 bahasa dari Maluku Tengah, yakni bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Serua, Te’un, Palumata, Loun, Moksela, Naka’ela, dan Nila. Dua bahasa lainnya dari Maluku Utara, yakni Ternateno dan Ibu. Adapun dua bahasa berasal dari Papua, yakni Saponi dan Mapia.

“Ada juga bahasa daerah yang masih digunakan masyarakat namun jumlahnya cukup kecil di bawah 100 orang ada yang malah jumlahnya enam orang dan satu orang bagaimana kalau cuma satu orang dia mau berkomunikasi, ini cukup memprihatinkan,” lanjut dia.

Jumlah penyebaran bahasa daerah di Indonesia kata dia tidak sama dengan jumlah penduduk. Ia contohkan di Indonesia Timur jumlah bahasa daerah lebih banyak ketimbang wilayah padat. Bahasa Daerah terbanyak terdapat di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan sedikit di Jawa dengan 20 bahasa.

 

Kaitan Bahasa daerah, indonesia, punah, top
Admin 11 Februari 2018 11 Februari 2018
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya 1,1 Ton Sabu di Dalam Kapal Ikan
Artikel Selanjutnya Google Pixel si “Ponsel Cacat”?

APA YANG BARU?

Warga Batam Jaga Kewaspadaan, Potensi Hujan Petir Masih Ada
Artikel 4 jam lalu 63 disimak
Kalah Dari Australia, Nova Arianto Segera Evaluasi Tim Garuda Muda
Sports 4 jam lalu 82 disimak
Gagal ke Final, Tim Garuda U19 Kalah Tipis dari Australia
Sports 5 jam lalu 94 disimak
“Sagu-Sagu di Tepian Sungai Lingga’
Histori 5 jam lalu 103 disimak
Sultan Sulaiman II Badrul Alamsyah (Sultan Riau Lingga Keempat 1857 – 1883)
Tokoh 6 jam lalu 102 disimak

POPULER PEKAN INI

Data, Kuota dan Distribusi BBM Bersubsidi di Batam
Statistik 6 hari lalu 775 disimak
Potong 17 Hewan Qurban, Rangkaian Kegiatan Idul Qurban Masjid Al-Ishlaah Resmi Ditutup
Artikel 4 hari lalu 763 disimak
Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
Peristiwa 5 hari lalu 698 disimak
Data Inflasi di Propinsi Kepri Semester I 2026
Statistik 6 hari lalu 662 disimak
Bagaimana Kota Pesisir Pengaruhi Kesehatan Terumbu Karang: Kisah dari Batam dan Natuna
Catatan Netizen 5 hari lalu 617 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?