Hubungi kami di

Khas

BP Batam dan ATB Siapkan Alternatif Antisipasi Krisis Air

Terbit

|

Keterangan Pers bersama antara BP Batam dengan ATB Batam terkait penanganan krisis air di Batam. Photo : GoWest Indonesia

BADAN Pengusahaan (BP) Batam bersama PT Adhya Tirta Batam (ATB) menyiapkan langkah antisipasi terhadap ancaman krisis air. Langkah antisipasi tersebut untuk mencegah Dam Duriangkang yang menyuplai 70 persen air di Batam, akan shut down pada Juli 2020 mendatang.

Beberapa langkah yang disiapkan diantaranya rationing atau penggiliran, memompa air dari Waduk Tembesi, hingga menyiapkan hujan buatan. 

Saat acara keterangan pers bersama antara BP Batam dengan pihak ATB Batam pada Kamis (5/3) di ruang Marketing BP Batam, Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan Binsar Tambunan, didampingi Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus menjelaskan, saat ini Batam sangat kekurangan air hujan atau air baku.

BACA JUGA :  Bandara Hang Nadim Siap Jadi Bandara Tangguh

Sehingga selain rationing atau penggiliran, dengan melibatkan Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT), mereka juga akan membicarakan dengan BPPT untuk menggunakan teknologi modifikasi cuaca penerapan teknologi TMC BPPT.

“Mereka sudah pernah melakukan, membuat hujan dengan menambah garam untuk mengubah arah angin,” kata Binsar menjelaskan.

Pada prosesnya, teknologi modifikasi cuaca ini membutuhkan biaya sekitar Rp100 juta. Dimana, sebelumnya akan dibuat kajian selama 14 hari kerja.

Pompa Air

LANGKAH lain yang disiapkan adalah memompa air dari Dam Tembesi ke waduk terdekat. Saat ini, Dam Tembesi sudah disiapkan. Namun lelang pengelolaan belum dilakukan, sehingga air di Dam Tembesi belum bisa dimanfaatkan.

BACA JUGA :  China Berambisi Jadi Negara Inovator Teknologi Terbesar di Dunia Pada 2035

Jika itu dilakukan, maka bisa menghasilkan air bersih sekitar 660 meter kubik per detik ke Dam Muka Kuning yang jadi Dam terdekat dengan Dam Tembesi. Pada prosesnya, dibutuhkan dua buah pompa untuk memenuhi suplay air ke Dam Mukakuning, dengan perkiraan biaya Rp 45,7 miliar.

Rencana tersebut, masih akan dibicarakan dengan ATB. Jika dipandang mendesak, maka langkah itu akan diambil.

Langkah antisipasi diakui penting, karena kondisi air di Batam sudah menghawatirkan. Saat ini, BP dan ATB hanya punya waktu 10 hari mengambil langkah, sebelum rationing atau penggiliran. Sehingga kemungkinan rationing diakui tak terhindarkan.

*(Bob/GoWestId)

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid