Hubungi kami di

Khas

Era Milenial : “Mencermati Gaya Hidup dan Pola Konsumsi Yang Sudah Berubah

iqbal fadillah

Terbit

|

LAPORAN PwC yang diluncurkan beberapa tahun lalu dan berjudul “People strategy for the digital age” menemukan bahwa para CEO meyakini teknologi berdampak pada seluruh aspek bisnis.

Seiring dengan perombakan total strategi fundamental perusahaan, maka strategi perusahaan tentang SDM juga harus dirombak. Diperlukan perancangan ulang pekerjaan secara besar-besaran.

Laporan ini merupakan hasil dari survei atas 1.322 CEO dari 77 negara.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri mengingatkan, adanya perubahan-perubahan gaya hidup, konsumsi, konsumen di ekonomi digital ini.  Yang pertama, sebut Presiden,  ada pergeseran perniagaan. Menurutnya, ada pergeseran perdagangan dari dunia offline menuju dunia online.

“Kita sudah hadapi itu, sudah ada. Daripada orang jauh-jauh ke toko atau ke mall kena macet di jalan, ngantri di kasir. Cuma keluarkan  hape, keluarkan smartphone, buka aplikasi, tik tik tik tik tik, tinggal tunggu barangnya diantar sampai ke rumah,” ungkap Jokowi pada acara Economic Talkshow “Ekonomi Baru di Era Digital” sekaligus pembukaan Indonesia Business & Development Expo, di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (20/9) pagi.

Presiden mengaku,  sekarang dirinya pesan gado-gado tidak perlu datang ke warung gado-gado.

“Tinggal minta Go Food, 30 menit datang. Beli sate tidak usah datang ke warung sate. Tinggal Go Food 30 menit paling lama satu jam, satenya datang. Ingin nasi Padang juga sama, kalau dirinya di Istana ini ingin nasi Padang ya sudah. “Klik klik klik klik 30 menit, nasi Padangnya nongol,” ucapnya.

Media sosial, yang mengakibatkan pergeseran dari konsumen barang lebih ke konsumsi pengalaman, konsumsi experience.

Ilustrasi : The Zweig Letter

“Yang populer sekarang adalah orang posting di Facebook, posting ke Instagram, posting ke twitter,” lanjutnya.

Menurut Jokowi, sekarang orang atau kita tidak lagi terlalu mengejar barang-barang bermerek. Tidak lagi terlalu ke barang-barang branded.

“Anak muda udah ngomong, wah kuno kayak gitu itu. Beli barang branded, beli barang yang  bermerek, sudah kuno,” ujarnya.

Tapi sekarang yang diincar orang, lanjut Presiden Jokowi, adalah kenang-kenangan, memori, pengalaman-pengalaman itu yang dikeluarkan. Kemudian dipasang untuk selama-lamanya di Facebook, dipajang di Instagram, dan dikeluarkan di Youtube.

Yang ketiga menurutnya adalah sharing ekonomi. Sebuah revolusi pada sisi suplai, atau sisi ketersediaan.

“Ini juga harus kita lihat, apakah ada pergeseran, apakah ada perubahan, iya. Sekali lagi sharing ekonomi sebuah revolusi pada sisi suplai. Gojek, Grab, Uber, We Work,” ungkapnya.

Dulu, dulu, kata Presiden, orang harus beli mobil. Sekarang tinggal pesan di smartphone, datanglah mobil on demand, pakai Go Car, pakai Grab Car silahkan, pakai Uber silakan.

Dulu, lanjut Presiden, orang harus beli rumah. Negara lain menurutnya sudah mulai banyak orang yang menggunakan transaksi online untuk urusan kediaman.

“Sekarang tinggal lihat-lihat, lihat-lihat di aplikasi. Bisa sewa kamar atau bahkan sewa rumah tapi hanya untuk satu hari, untuk dua hari, atau untuk satu minggu, atau untuk satu bulan. Pakai Air BnB, pakai Expedia”.

“Di Jakarta sudah banyak saya lihat, di Bandung sudah banyak dan di kota-kota besar yang lain sudah banyak, sudah mulai yang seperti itu,” lanjutnya lagi.

Ia mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam menghadapi perubahan ini. Perubahan yang terjadi bukan hanya pada pola konsumsi. Tapi juga pola kerja. Banyak yang akan berubah.

“Pengusaha hati-hati, yang ingin memulai berusaha juga hati-hati. Ini peluang tetapi juga ada ancaman,” tutur Presiden seraya menambahkan, banyak sekali orang yang bekerja dalam ekonomi digital. Kerjanya  sangat fleksibel, sangat dinamis.

Orang-orang yang menjadi supir Gojek, supir Grab, supir Uber, orang-orang yang menyewakan satu kamar di rumahnya ke turis melalui airBNB atau Expedia, lanjut Presiden, orang-orang seperti ini mereka seringkali kerjaan utamanya bukan sopir atau punya hotel.  Namun, sopir atau menyewakan kamar menjadi sampingan yang mengisi waktu, atau menguangkan sarana yang nganggur.

“Semuanya nanti akan efisien, efisien, efisien, efisien seperti itu. Nggak ada kamar-kamar kosong atau rumah kosong. Udah sewain aja. Kamar kosong sewain aja, rumah kosong sewain aja,” terangnya.

Hal ini, lanjutnya tentunya akan berdampak pada struktur pengeluaran/ spending atau belanja. Perubahan-perubahan seperti ini, jika tidak cermat dan teliti, bisa menyebabkan kita  kaget dan tidak siap.

Ia lantas mengambil contoh. Dulu orang harus keluar duit Rp50 ribu-Rp75 ribu untuk beli DVD. Sekarang ratusan ribu video gratis di youtube, di facebook, di instagram. Semua bisa dilihat dan langsung diakses. Dulu orang harus keluar duit untuk beli buku, beli koran, beli majalah. Sekarang, segala macam berita dan tulisan gratis ada di internet.

Semuanya ini, menurut Jokowi, tentunya akan berdampak sangat dahsyat pada sisi produksi. Karena itu, ia meminta agar produsen lebih berhati-hati mencermati, meneliti, melihat pola pergeseran tersebut.

Strategi Pemerintah

MENGENAI strategi pemerintah dalam menghadapi perubahan-perubahan itu, Jokowi mengemukakan :

Pertama, keleluasaan untuk eksperimentasi harus diberikan kepada seluruh masyarakat. Karena inovasi memerlukan eksperimen.

“Hal-hal yang baru harus dicoba, dan ini memerlukan cost dan biaya. Berarti start up jangan dicekik dengan regulasi berlebihan. Jangan terlalu diatur-atur,” tegasnya seraya menambahkan, tugas dirinya untuk menggempur peraturan agar semakin sedikit dan lincah melakukan inovasi.

Ilustrasi : GDILab

Kedua, mengejar infrastruktur ICT karena ini jadi kunci. Itu sebabnya, Jokowi mengaku dirinya selalui menanyakan mengenai perkembangan Palapa Ring, karena ini jadi kunci.

Ketiga, menurut Jokowi, kita akan fokus ke cyber security.

Ia menyebutkan, beberapa bulan lalu, pemerintah telah membentuk Badan Cyber dan Sandi Negara.

“Ini dalam proses bentuk kelembagaannya,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar jangan sampai kejadian aplikasi digital yang mengumpukan jutaan pelanggan, dibobol dan data pelanggan dibocorkan lalu dijual ke orang yang tidak bertanggung jawab.

(*/dha)

 

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook