KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana menutup sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi selaras dengan kebutuhan industri strategis nasional. Saat ini, arah pengembangan industri Indonesia dipusatkan pada delapan sektor utama, meliputi kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menyebut bahwa penguatan 8 industri strategis perlu didorong agar dapat tumbuh dengan target yang ambisius, yakni di kisaran lebih dari 12–15%.
Sejumlah Prodi Akan Disesuaikan hingga Ditutup
Untuk memastikan lulusan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan sektor-sektor prioritas tersebut, Kemdiktisaintek akan melakukan penataan prodi. Menurut Badri, langkah ini perlu dilakukan melalui proses pemilahan dan evaluasi, termasuk kemungkinan penutupan prodi yang dianggap tidak relevan, agar kampus bisa meningkatkan tingkat kesesuaian dengan kebutuhan industri.
Ia menambahkan bahwa penyesuaian dapat dilakukan melalui pembaruan kurikulum dan pengembangan prodi yang baru, sesuai dengan delapan bidang industri strategis yang menjadi fokus.
Perguruan Tinggi Diminta Beralih dari Konsep Market-Driven
Badri juga menyoroti bahwa sebagian besar kampus saat ini menggunakan strategi market-driven, yakni membuka prodi mengikuti tren yang sedang “laku” di masyarakat. Namun, ia meminta para rektor mempertimbangkan kebijakan ini lebih serius.
Kemdiktisaintek mendorong kampus untuk bersedia menutup prodi yang tidak lagi sesuai, serta melakukan kajian agar prodi yang berjalan lebih relevan. Selain itu, kementerian juga berencana mengeluarkan kebijakan seperti skema interdisipliner maupun major-minor untuk mendukung penyesuaian tersebut.
Delapan Sektor Strategis Jadi Penggerak Ekonomi Berbasis Sains-Teknologi
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa delapan sektor prioritas strategis nasional berperan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sains dan teknologi. Kedelapan sektor tersebut mencakup energi, pertahanan, digitalisasi (termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor), hilirisasi dan industrialisasi, kesehatan, pangan, maritim, serta material dan manufaktur maju.
Fauzan menegaskan strategi ini juga melibatkan kerja sama lintas kementerian, termasuk integrasi antara sains-teknologi-industri guna memperkuat perekonomian.
Dukungan SDM melalui Beasiswa STEM Industri Strategis
Sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan meluncurkan program beasiswa baru jenjang S2 dan S3, yaitu Beasiswa STEM Industri Strategis Tahun 2026. Beasiswa ini menargetkan pengembangan SDM untuk industri strategis pada bidang kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim.
Selain itu, terdapat pula dua bidang pendukung industri strategis, yaitu kebijakan publik dan hukum, serta bisnis dan ekonomi, termasuk jalur kewirausahaan dan industri kreatif.
(ham/setkab/detikcom)


