SEBAGAI bagian dari penguatan infrastruktur keamanan maritim nasional, Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) meresmikan 12 gedung baru yang tersebar di tiga zona operasional, yakni Barat di Batam, Tengah di Manado, dan Timur di Ambon.
Kegiatan peresmian dipusatkan di Mako Bakamla Zona Barat, yang terletak di Jalan Trans Barelang Jembatan IV, Setokok, Bulang, Kota Batam Kamis (23/04/2026).
Peresmian ini menandai rampungnya pembangunan bertahap sejak 2023 dengan total anggaran mencapai Rp533 miliar.
Kepala Bakamla RI, Laksdya TNI Irvansyah mengatakan, pembangunan tersebut mencakup kantor markas komando (mako), pusat komando dan pengendalian (puskodal), serta rumah susun bagi personel di masing-masing zona.
Khusus di Batam, fasilitas yang dibangun menjadi yang terbesar di antara seluruh zona yang ada di Indonesia.
“Dengan adanya pembangunan ini, Bakamla bisa melaksanakan tugas lebih baik lagi ke depan dan mendukung keamanan serta keselamatan di laut, khususnya di wilayah Kepri,” ungkap Irvansyah dalam keteranganya.
Menurutnya, keberadaan infrastruktur baru ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas Bakamla dalam menjaga keamanan dan keselamatan laut, terutama di wilayah strategis seperti Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaran internasional.
Selain memperkuat fungsi kelembagaan, pembangunan fasilitas tersebut juga membawa dampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Di Batam, lahan seluas sekitar 16 hektare yang diberikan pemerintah daerah dimanfaatkan tidak hanya untuk operasional, tetapi juga fasilitas publik.
Sejumlah sarana seperti gedung serbaguna dan klinik dirancang agar dapat diakses oleh masyarakat umum. Bahkan, Bakamla menyiapkan jalur khusus agar warga bisa masuk tanpa harus melalui prosedur keamanan ketat seperti di kawasan militer.
Langkah ini dinilai sebagai upaya mendorong keterlibatan masyarakat sekaligus membuka akses terhadap layanan dasar di kawasan yang berkembang pesat.
Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan ikut memicu pertumbuhan ekonomi lokal di sekitar kawasan pembangunan.
“Kami ingin ini menjadi rumah bersama, tempat berdiskusi dan mencari solusi untuk pembangunan di Kepri, sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Kepala Bakamla.
Dengan kombinasi penguatan infrastruktur dan pendekatan inklusif kepada masyarakat, Bakamla menempatkan pembangunan ini tidak hanya sebagai proyek strategis nasional, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat konektivitas sosial dan ekonomi di wilayah pesisir.
(*)


