Hubungi kami di

Histori

Kadisbudpar Batam bawa Asosiasi Pariwisata Batam Telusuri Peninggalan Sejarah di Pulau Buluh

Terbit

|

Sumur Tua di Pulau Buluh, salahsatu tempat yang dikunjungi oleh Rombongan Asosiasi Pariwisata Batam. Foto: @Ist.

ASOSIASI Pariwisata yang berdomisili di Batam menelusuri beberapa peninggalan sejarah yang ada di Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Kota Batam.

Penelusuran ini dipimpin langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata didampingi direktur eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Batam (BPPD), Edi Sutrisno, Camat Bulang, Ramadhan Zuhri dan Lurah Pulau Buluh, Borhan, pada Jum’at (4/2), usai menyalurkan bantuan kepada korban musibah kebakaran di Pulau Buluh.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah sumur atau perigi tua sedalam 7 meter. Sumur ini mewakili situs tertua yang masih dapat dideteksi jejaknya di pulau bersejarah itu.

Kondisi sumur tersebut terlihat sudah tidak terawat dan ditumbuhi rerumputan dan lumut hijau.

Kemudian rombongan melanjutkan melihat pasar pertama Batam, Bangunan Lama Tionghoa, bekas bangunan Kantor Camat Pertama Batam, dan diakhiri ke Toa Pekong Puluh Buluh yang kini berganti nama menjadi Vihara Samudra Bhakti.

Direktur eksekutif BPPD Batam, Edi Sutrisno mengisahkan, sumur atau perigi tua tersebut dulunya dijadikan sebagai sumber air tawar bagi warga setempat selama beratus tahun silam.

BACA JUGA :  Akhir April, Dokumen Lengkap Jembatan Babin Diserahkan ke Kementerian PUPR

Katanya lagi, sumur tersebut terbuat dari susunan bata berlabel Batam, produksi pabrik Batam Brick Works yang dibangun oleh Raja Ali Kelana pada sekitar tahun 1896.

Diceritakannya, Pulau Buluh memiliki sejarah dan tak terpisahkan dari perkembangan Batam.

“Pusat pemerintahan pertama atau kantor kecamatan pertama dulunya adalah Pulau Buluh, kemudian baru berpindah ke Belakang Padang sekitar tahun 1953 dan setelah Batam menjadi kota administratif pada tahun 1983 maka pusat pemerintahan berada di Batam,” katanya.

Ia juga menjelaskan, Pulau Buluh mempunyai pasar pertama di Batam. Bentuk bangunan gedungnya hingga sekarang masih dipertahankan warga Tionghoa yang ada di Pulau ini.

“Inilah ciri-ciri pasar lama, gedung ini dulunya dimiliki oleh toke Tionghoa,” pungkasnya.

Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Kepri, Donna Justitia mewakili asosiasi lainnya mengaku baru mengetahui kalau di Pulau Buluh ternyata banyak terdapat bangunan peninggalan bersejarah.

Donna merasa senang karena bisa ikut melihat langsung objek-objek bersejarah tersebut.

BACA JUGA :  Ratusan Warga Jalani Tes Swab, 40 Terkonfirmasi Positif

“Ini bisa dikemas dan dijadikan paket wisata sejarah kedepannya,” sebut Donna.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata menuturkan, Pulau Buluh memiliki hubungan linear dengan Batam, karena dari kerajaan Riau Lingga melalui Yang Dipertuan Besar dan disyahkan oleh Yang Dipertuan Muda yang berada di Penyengat, bahwa menunjuk pemimpin di dua kawasan Nongsa dan Puluh Buluh yang diberi gelar amir yang dalam bahasa arab berarti pemimpin.

Amir Nongsa sepertinya sudah mulai terangkat dalam konsep pelestarian dan pemajuan budaya.

“Ada Satu lagi yang perlu kita angkat kembali, yakni amir Pulau Buluh. Memang kalau secara tamadun yang lebih tua adalah Amir Nongsa,” jelas Ardi.

Ditambahkannya, amir Pulau Buluh memerintah Pulau Buluh. Masih banyak peninggalan-peninggalan berada di pulau ini.

“Apapun yang berbau sejarah jangan diubah dulu. Ada Tim Ahli Cagar Budaya atau TACB yang mengkurasinya,” pesan Ardi kepada masyarakat Pulau Buluh.

(*/zhr)

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid