“BAH, siapa lawan Panglima Sampit di kampung Jodoh?” Pertanyaan dari anak ketiga saya yang masih duduk di kelas 1 SD. Ia baru selesai membaca sebuah tema pelajaran di buku ajarnya. Besok, akan menjalani ujian di kelas.
“Maksudnya?”
“Aku tanya yang ada di buku ini, siapa lawan dari panglima Sampit di kampung Jodoh? Kamu kan udah dewasa, pasti bisa jawab!” Ia kemudian memperlihatkan sampul depan buku yang dipelajari.
Oleh: Bintoro Suryo
IA sering memerankan diri sebagai guru saat selesai mempelajari sesuatu di rumah. Kemudian, menanyakan beberapa jawaban dari materi yang dipelajari kepada saya. Untuk menguji pemahaman dan ingatannya sendiri.
Saya baca sekilas judul sampulnya, kemudian memberi jawaban; “Oh, mungkin Hang Tuah?”
“Bodoh sekali kamu, Bah! Masak gak tau. Ini kan pelajaran anak kelas satu SD! Kamu itu udah dewasa?!” katanya yang membuat saya tertawa.
“Jadi apa jawabannya? Bawa sini bukunya, Babah mau lihat”
“Jawabannya panglima Awang Sendang!”
Ia tidak segera menyerahkan buku yang dipegang, tapi melanjutkan dengan pertanyaan kedua: “kalo ini, kampung Tanjung Riau dibuka oleh to’ Keling dan to’ Usu atas perintah dari pulau Penyengat pada tahun berapa?” Tetap dengan wajah serius, ia kembali menanti jawaban saya.
“Hmm, kapan ya? Mungkin pada tahun 1800? Jawab saya asal, sambil tersenyum.
“Iihh, kenapa bodoh sekali kamu, Bah! Jawabannya tahun 1918! Ni, kamu dengar; Tanjung Riau dibuka oleh to’ Keling dan to’ Usu atas perintah dari pulau Penyengat pada tahun 1918!” Ia membaca ulang salah satu teks narasi tentang sejarah kampung tersebut di buku itu.
“Masa sih, coba sini Babah liat bukunya”.
Bukankah masa pemerintahan kesultanan Riau Lingga yang berpusat di pulau Penyengat sudah dibubarkan pada 1911? Apa penulisnya sedang mempraktikkan ‘sulap waktu’?, pikir saya.
“Pertanyaan ketiga; cik Awang juga mempunyai nama lain dengan gelar yaitu?” Antusias, ia masih tetap melanjutkan pertanyaannya ke saya.
“Hah, mana sini bukunya. Babah mau liat dulu”.
Ia kemudian menyerahkan buku materi pelajaran tersebut. Saya langsung melihat pada bab yang dipelajari dan menjadi materi bahan uji besok; Pelajaran 6 : Legenda Kampung Tua.
Alamak!
BUKU tipis ini terbitan tahun 2008. Merupakan bahan ajar muatan lokal untuk pelajaran Seni dan Budaya. Niat baiknya; agar siswa mengenal lebih dalam tentang kekhasan daerahnya sendiri. Ini bagian dari program pemerintah pusat yang dijalankan di daerah. Materinya disusun, dibuat dan diterbitkan di masing-masing daerah.
Bukunya dirancang untuk memuat materi kurikulum lokal yang fokus pada potensi, keunikan, nilai-nilai, tradisi, budaya, serta kearifan lingkungan. Agar siswa mengenal dan memahami keunggulan daerahnya. Menjadi identitasnya, kelak di kemudian hari saat dewasa.
Terobosan yang baik, sebenarnya.
TAPI, materi di bagian ini, seperti tidak melalui kontrol kualitas yang benar. Kalimat dan tata bahasanya tidak rapi. Penempatan tanda bacanya juga tidak jelas. Dalam satu paragraf yang berisi hingga 8 baris kalimat misalnya, hanya ditemukan satu tanda titik. Dan, hampir seluruh narasi seperti itu.
Kalimat panjang dengan jejalan narasi begitu, rasanya sulit dicerna dengan baik oleh siswa. Apalagi oleh siswa kelas satu yang sebenarnya baru bisa belajar membaca. Yang paling mudah bagi mereka adalah; melihat daftar pertanyaan di akhir cerita, lantas mencari jawaban dalam narasi dan menghapalkannya.
Ini lebih tepat disebut naskah dasar. Ditulis, tapi perlu banyak perbaikan. Banyak penempatan huruf besar dan kecilnya juga tidak jelas. Berantakan sekali. Alur cerita berputar membingungkan.
Dari sisi isi; bagian pelajaran ini, menurut saya, cenderung menyesatkan pemahaman mereka. Isinya merupakan kumpulan cerita rakyat dan legenda tentang asal muasal kampung tua yang ada di Batam. Tapi, tidak ada catatan penegas/disclaimer. Jadi, isinya cenderung dipercaya anak-anak sebagai uraian fakta sejarah.
Seperti draft tulisan awal, tapi sudah dicetak dan disajikan sebagai bahan ajar untuk siswa SD kelas 1. Dan, buku ini merupakan bahan ajar muatan lokal lintas generasi hingga kini.
Penulis sebenarnya tidak salah menggabungkan fakta sejarah seperti latar belakang, peristiwa, tempat, atau tokoh nyata di masa lalu dengan unsur imajinatif; dialog, karakter fiksi, atau alur cerita dongeng. Tapi perlu menempatkan ‘garis pembatas’ yang tegas.
Sastrawan, alm. BM Samsudin sebenarnya juga pernah melakukan seperti itu puluhan tahun lalu. Karya beliau juga dijadikan buku bahan ajar untuk memenuhi muatan lokal dalam materi pelajaran di sekolah. Tapi, isinya punya garis pembatas yang bisa dipahami sebagai sebuah karya fiksi. Tulisannya rapi sehingga mudah dipahami.
Buku “Cerita Rakyat dari Batam”. Tujuan akhir dari cerita dongeng-dongengnya, bukan pada penghapalan cerita dan tokoh-tokoh imajinatif di dalamnya. Tapi lebih pada memberi porsi ruang membaca lebih banyak kepada anak-anak usia dini. Juga untuk memicu daya imajinasi mereka dalam memahami dan membayangkan kondisi wilayah Batam masa lalu, serta tradisi budaya yang melekat. Itu jadi evaluasi untuk pesan moralnya.
Dalam bukunya, ia juga menggunakan beberapa tokoh dan fakta sesuai data sejarah. Kemudian digabung dengan karakter dan alur cerita fiksi. Ia membungkusnya sebagai dongeng cerita rakyat untuk anak-anak.
BM Samsudin teliti dalam penempatan data sejarah sesuai ruang dan waktu di alur cerita, sebelum menggabungkan dengan unsur imajinatif. Ia tidak menciptakan pemahaman baru yang bertabrakan. Seperti pada materi bahan ajar anak saya di atas, sulap waktu?
Oh ya, Panglima Awang Sendang yang ditanyakan anak saya tadi, juga dikenal sebagai Panglima Ladi dalam buku ajar tersebut.
Mungkin tokoh karakter itu yang sempat disematkan sebagai nama salah satu flyover di Batam beberapa tahun lalu ‘Laksamana Ladi’. Penamaan yang bikin heboh masyarakat di Batam. Dinafikan banyak pengamat sejarah sebagai tokoh nyata yang pernah ada, kemudian dicabut sebagai label resmi jembatan layang yang membentang di sekitar wilayah Sei Ladi Batam itu.
“UDAH kamu baca, Bah? Berarti sekarang kamu udah tau juga tentang sejarah kampung-kampung di Batam, kan?’ kata anak ketiga saya polos.
“Iya, udah Babah baca. Tapi kalo besok kamu gak bisa jawab pertanyaan ujiannya, trus nilai kamu jelek, Babah gak marah,” kata saya tersenyum.
“Serius?” Matanya membulat karena senang.
“Ya, serius. Bunda juga gak akan marah. Tenang aja”.
(*)


