Hubungi kami di

Catatan Netizen

Lebih Dekat dengan Vassa Mustikahati, Anak Batam Peraih Beasiswa di Oxford University

Terbit

|

Vassa Mustikahati. F Ist

MENGENYAM pendidikan di kampus ternama dunia, bisa jadi merupakan mimpi yang ingin digapai generasi muda saat ini. Namun tahukah, salah satu anak kelahiran Batam ternyata ada yang mendapat beasiswa penuh dari pemerintah untuk studi di University of Oxford, kampus bergengsi dunia di Inggris. Siapa dia?

Perkenalkan, dia adalah Vassa Mustikahati, anak asli Melayu, Kota Batam, Kepulauan Riau. Pada bulan Maret 2022, ia diterima pada program Master of Science in Education (Child Development and Education) di University of Oxford, Inggris.

Di bulan Juli 2022, ia diinyatakan lolos seleksi Beasiswa Perguruan Tinggi Utama Dunia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang diberikan oleh Kementerian Keuangan RI untuk mendukung perkuliahannya selama di Oxford yang akan dimulai bulan Oktober 2022 mendatang.

Sebelumnya, ia mengenyam pendidikan program kelas internasional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) dan The University of Queensland (UQ), Australia.

“Saya menyelesaikan 2 tahun pertama perkuliahan saya di UI dan 2 tahun terakhir di UQ,” kata mahasiswi kelahiran Bandung, 25 Maret 1999 tersebut.

Selama berkuliah di UI, ia banyak mengikuti kepanitiaan dan organisasi di kampus, salah satunya ikut bergabung pada organisasi paguyuban mahasiswa asal Kepulauan Riau, yaitu Anak Awak UI. Selain di kampus, ia juga banyak mengikuti aktivitas di luar kampus.

“Di tahun kedua perkuliahan, saya sempat mengikuti Asia Youth Cultural Exposure di Bangkok, Thailand dan tim saya mendapatkan penghargaan Best Presentation. Sempat juga menjadi relawan dengan mengajar anak-anak kurang mampu di Jakarta,” terang anak bungsu dari pasangan Hardi S Hood dan Kustrini.

Pengalaman luar biasa tersebut meningkatkan minatnya pada bidang pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Saya menyelesaikan kuliah dengan nilai yang baik dan juga aktif berorganisasi, saya mendapatkan beasiswa penuh dari The University of Queensland selama periode perkuliahan saya di sana,” ucap alumni SMAS Djuwita National Plus Batam ini.

Selama berkuliah di UQ, ia banyak mengisi waktu yang bermanfaat melanjutkan menjadi relawan untuk berbagai acara kampus dan mengikuti internship secara online dari Indonesia.

Ia mendapat apresiasi ‘Excellence in Volunteering’, ‘Employability Award’, dan UQ Future Leader dari pihak kampus atas keaktifannya pada kegiatan nonakademik baik di dalam maupun di luar kampus.

“Saya juga dapat menyelesaikan kegiatan akademik saya dengan baik dan mendapatkan penghargaan ‘Dean’s Commendation for Academic Excellence’ pada semester akhir studi saya di UQ,” ungkap mahasiswi 23 tahun ini.

Berkat ketekunannya, ia lulus dari UQ dengan predikat Distinction, dan lulus dari UI dengan predikat Cum Laude pada bulan September tahun 2021.

Vassa, panggilan akrabnya, mengaku sangat bersemangat menempuh pendidikan di kampus terbaik dunia, baik di dalam maupun luar negeri karena terinsipirasi dari sang ibu. Pasalnya, sang ibu juga menempuh pendidikan S2 saat ia berada di dalam kandungan.

BACA JUGA :  Wagub Minta Tambahan Vaksin Untuk Kepri

“Ibu saya mengandung anak bungsunya yaitu saya sambil menempuh pendidikan Magister Pendidikan Luar Sekolah di Bandung, yang mungkin tanpa saya sadari ikut memacu semangat saya untuk berpendidikan tinggi,” ucapnya.

Selain menjadi relawan Inspiration Factory Foundation, di kota asalnya ia mengabdikan ilmunya di TK Nabilah Batam selama kurang lebih satu bulan. Pengalaman ini meningkatkan minatnya di bidang PAUD.

“Saat ini, saya sedang bekerja sebagai Early Childhood Specialist di Buumi Playscape, Jakarta. Disini juga saya mendapatkan banyak ilmu tentang pendidikan anak usia dini, banyak membuat kurikulum berbasis bermain untuk anak, dan media pembelajaran lainnya untuk anak usia dini,” sebutnya.

Ia mengaku tidak pernah bermimpi dapat berkuliah di University of Oxford, karena rasanya hal itu tidak akan pernah terjadi. Namun, di dalam hatinya selalu membara keinginan untuk mengenyam pendidikan S2 pada bidang Child Development, karena kecintaanya terhadap PAUD.

“Saya percaya pendidikan anak usia dini sangat penting untuk mendukung kemampuan dan minat belajar pada jenjang pendidikan selanjutnya. Untuk mendukung pendidikan anak usia dini, diperlukan ilmu tentang perkembangan anak yang menyesuaikan dengan tumbuh kembangnya,” terangnya.

Ia percaya, generasi penerus bangsa harus mendapatkan kualitas pendidikan yang terbaik. Untuk itu, juga harus mendapatkan ilmu dari universitas yang terbaik untuk bisa mendukung perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Sebelum diterima di Oxford, wanita berhijab ini melakukan riset terkait universitas yang menyediakan program bidang Child Development. Kampus tersebut yakni University of Oxford dan University College London (UCL).

“Saya akhirnya jatuh cinta dengan kurikulum yang mereka tawarkan kepada mahasiswanya. Saya pun memberanikan diri untuk mendaftar pada kedua universitas terbaik dunia ini. Meskipun saat itu rasanya kemungkinan diterimanya sangat kecil, saya bertekad untuk tetap mencoba. Alhamdulillah saya diterima di kedua universitas ini,” ungkapnya.

Di tengah proses aplikasi untuk program S2 ini, ia dihadapkan dengan hal-hal yang terjadi di luar kendalinya. Dari mulai meragukan kemampuan diri sendiri, mengkhawatirkan hal buruk di masa depan yang belum tentu terjadi, hingga terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna. Ia dihadapkan dengan berbagai rasa keraguan dan ketakutan akan penolakan.

Namun, berkat dukungan penuh dari keluarga dan kerabat dekatnya, akhirnya ia.berhasil mengumpulkan keberanian untuk melawan keraguan dalam dirinya tersebut.

Alasan pertama dan yang paling utama ia memilih University of Oxford adalah bidang ilmu yang ingin ia pelajari lebih dalam, dapat didukung dengan baik di universitas yang masuk peringkat nomor dua terbaik dunia versi QS World University Rankings 2022 tersebut. Kampus di mana artis Maudy Ayunda juga pernah mengenyam pendidikan tersebut, juga memiliki kurikulum yang sangat komprehensif dan aplikatif. Selain itu, jumlah murid yang diterima pada program ini juga sangat sedikit, hanya 16 orang.

BACA JUGA :  Destinasi dan Usaha Pariwisata Diminta Punya Sertifikat CHSE

Selain itu, University of Oxford juga dikenal sebagai universitas yang memiliki tradisi yang sangat unik. Selain kegiatan akademik yang sangat menarik untuk dipelajari, Oxford juga menunjang kegiatan non-akademik lainnya untuk diikuti oleh peserta didiknya.

“Mahasiswa yang diterima juga sangat beragam dan berasal dari negara yang berbeda-beda, dengan pengalaman mereka masing-masing. Saya berharap dapat bertukar pikiran dengan teman-teman berbagai negara dan juga mahasiswa dari Indonesia lainnya,” terangnya.

Tak lupa, ia memberikan tips kepada anak muda Batam khususnya dan Kepri pada umumnya agar bisa lulus di kampus impian. Menurutnya, hal yang penting untuk dilakukan yakni jangan takut untuk mencoba dan jangan pernah membiarkan orang lain mematahkan mimpi tersebut. Di manapun berada, usahakan untuk memberikan yang terbaik. Hal yang terpenting adalah bagaimana bisa berproses menjadi versi terbaik bagi diri sendiri.

“Dalam prosesnya, jangan lupa untuk selalu mengapresiasi diri sendiri atas semua hal yang sudah kita lewati. Meskipun ada kemungkinan dihadapkan dengan hasil yang tidak sesuai, kita juga harus memiliki keterampilan untuk menghargai segala sesuatu yang telah kita upayakan,” katanya.

Awalnya, ia memilih jurusan Psikologi karena ketertarikannya untuk memiliki pekerjaan yang bisa berinteraksi langsung dengan orang lain. Psikologi adalah jurusan yang berfokus pada studi ilmiah tentang perilaku individu dan kolektif, dasar perilaku fisik dan lingkungan, serta analisis dan penanganan masalah dan gangguan perilaku. Ilmu Psikologi berorientasi pada manusia dan mempelajari lebih dalam tentang pola perilaku manusia dan bagaimana cara pikiran bekerja.

“Keinginan saya untuk mempelajari lebih dalam tentang Psikologi juga berangkat dari mimpi saya untuk bisa memiliki pekerjaan yang bermanfaat untuk masyarakat luas,” ucapnya.

Selama menjalani studi S1 dan pengalaman-pengalaman yang ia jalani, ketertarikannya mengerucut kepada kapasitas psikologi anak usia dini melalui pendekatan pendidikan. Berbagai penelitian menunjukkan usia 0-5 tahun adalah usia emas atau dikenal dengan istilah the golden age, di mana usia yang amat berharga untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki seorang anak. Oleh karena itu, persepsi masyarakat, terutama pemerintah terhadap anak usia dini harus segera dibenahi kalau pemerintah menginginkan generasi bangsa yang unggul.

Sejalan dengan itu, sambung dia, dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling mendasar, dan pendidikan anak usia dini yang berkualitas akan sangat berkontribusi terhadap kualitas pendidikan pada jenjang selanjutnya.

“Ibaratnya membangun sebuah gedung, pendidikan anak usia dini adalah landasan yang akan berpengaruh terhadap kekuatan dan ketahanan gedung yang dibangun,” pungkasnya (leo).

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid