Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    BP Batam Dukung Pemerintah Pusat: Penataan Lahan & Laut Harus Ada Kepastian Hukum
    2 hari lalu
    Amsakar Lantik 2 Pejabat Eselon II, Geser Ratusan ASN di “Babak Pertama” Rotasi 2026
    2 hari lalu
    Cuaca Panas Masih Terasa di Batam, Waspadai Hujan Angin dan Petir
    2 hari lalu
    Pemko Batam Segera Lakukan Perombakan Struktur OPD Terbaru
    3 hari lalu
    Selasa (4/08), BMKG Perkirakan Cuaca Batam Cenderung Berubah
    3 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Persib Bandung Jumpa Persebaya Surabaya di Final Piala Presiden 2026
    3 hari lalu
    Piala AFF 2026, Indonesia Kalah Telak dari Vietnam 3-0
    3 hari lalu
    Piala AFF 2026, Taklukan Timor Leste (0-3) Pasukan Garuda Duduki Peringkat 2 Klasemen Grup A
    7 hari lalu
    30 “Siswa” Lansia Pulau Buluh Kembali Menggebu di Bangku Sekolah
    7 hari lalu
    Taman Yang Hilang & Pembangunan Yang Tak Terukur
    7 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    2 minggu lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    3 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    1 bulan lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    1 bulan lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
VOA Indonesia

Masih Banyak Orang Tua Minder Punya Anak Disabilitas

Editor Admin 2 tahun lalu 537 disimak
Dr. Ayu Sriwahyuni menggelar camp di rumahnya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak anak pasar dan anak anak dgn HIV (dok. pribadi).Disediakan oleh GoWest.ID

HARI Anak Nasional (HAN) datang dan pergi dalam 40 tahun ini. Namun, orang tua belum memahami makna HAN. Dan semakin nyata bila terkait anak disabilitas. Pasalnya, masih banyak orang tua yang minder punya anak disabilitas sehingga tidak memberikan pendidikan.


SEJAK 1979, Indonesia mempunyai undang-undang khusus untuk kesejahteraan anak, bahkan mendedikasikan hari khusus sebagai Hari Anak Nasional (HAN), yang secara resmi ditetapkan pada 1984. Tetapi apakah resonansi hari tersebut sudah sampai ke anak-anak, apalagi anak-anak disabilitas?

Belum, cetus Dian Inggrawati Soebangil. Motivator bagi anak-anak disabilitas, khususnya penyandang tuli, melalui juru bahasa isyarat Louretta Rehuel Jusuf dari Indonesian Sign Language Interpreter (INASLI), Dian mengatakan bahwa walau sudah ada HAN dalam 40 tahun ini, situasi anak Indonesia tidak banyak berubah. Masih banyak yang harus dilakukan untuk optimalisasi anak, cetusnya.

Apalagi untuk anak disabilitas, kata Dian, yang sudah 9 tahun ini tercatat sebagai aparat sipil negeri (ASN) di Kementerian Sosial, masih banyak orang tua yang merasa minder sehingga menyembunyikan anak disabilitas. Ia memperkirakan, 20% orang tua menutupinya sehingga tidak ada data pasti jumlah disabilitas.

Dian Inggrawati Soebangil (ketiga dari kiri), ASN Kemensos bersama remaja tuli pengibar bendera upacara 17 Agustus (dok. pribadi)

Dian hanya tahu jumlah anak yang tuli di Indonesia antara satu dan satu setengah juta. Jumlah sebenarnya, ia yakin, lebih banyak dari itu, mungkin dua kali lipatnya. Karena dianggap aib, orang tua tidak memberi anak disabilitas pendidikan dan kesempatan aktualisasi diri secara optimal.

Sebaliknya pada pihak pemerintah, ada dua beban, ujar Dr. Ayu Sriwahyuni Astria, SpJ. Psikiater di Bali ini aktif berkecimpung dalam lembaga swadaya masyarakat Yayasan Lentera Anak Bali untuk pemberdayaan anak. Ia mengatakan bahwa sekolah di Indonesia umumnya tidak siap menerima anak disabilitas.

“Infrastrukturnya, gurunya, juga tidak siap menerima karena mereka menggunakan kurikulum umum yang cukup berat (bagi anak disabilitas). Dan akses untuk mendapatkan pendidikan itu masih langka saat ini. Jadi, sarana prasarana totally masih sangat, sangat minim.”

Dr. Yuni memperkirakan hanya sekitar 5% disabilitas yang mengenyam pendidikan tinggi. Jumlah itu semakin sedikit untuk jenjang Strata-3, apalagi melanjutkan pendidikan di luar negeri.

“Mungkin hanya satu orang dari empat juta, lima juta, anak (disabilitas) di Indonesia.”

Dr. Ayu Sriwahyuni (kedua dari kanan) berjalan-jalan dengan anak-anak sekolah informal berbasis pasar Badung dan Kumbasari Denpasar (dok. pribadi)

Yuni dan Dian sama-sama menekankan peran orang tua yang justru harus terbuka dan aktif mencari sumber daya yang bisa membantu mengembangkan kemampuan anak disabilitas supaya anak mendapat kesempatan sebanyak dan seluas mungkin untuk mencoba banyak hal dan menjajal kemampuan otak dan jiwanya.

Seperti anak disabilitas umumnya, Dian masuk sekolah luar biasa. Tidak betah, dia pindah ke sekolah negeri, dan terus melanjutkan pendidikan sampai meraih sarjana komunikasi dari universitas swasta di Jakarta.

Berkaca dari pengalamannya, Dian menyarankan orang tua untuk memperkenalkan anak disabilitas ke beragam kegiatan supaya anak mengasah kemampuan dan bakat, dan berprestasi. Orang tua justru kunci kemandirian anak, kata Dian yang aktif mengikuti berbagai lomba keterampilan tingkat nasional dan internasional. Ia menyandang gelar Runner up 2 Miss Deaf World pada 2011 yang diselenggarakan di Ceko; dan masuk top 5 Miss Deaf International di Turki pada 2012.

Bagaimana anak bisa berkembang kalau masih banyak orang tua, kata Dr. Yuni, yang justru menutupi keberadaan anak disabilitas? Para orang tua, kata Yuni, “Selfstigma ya, menstigma diri bahwa ini aib.”

Padahal, kata Dr. Yuni, anak adalah karunia Tuhan. Peran orang tua adalah mencari dan membuka kelebihan anak tersebut.

Dr. Ayu Sriwahyuni dari Yayasan Lentera Anak Bali (paling kanan) memberi penguatan kepada anak-anak dengan HIV (ADHA) untuk mengejar cita-cita (dok. pribadi).

Bantuan dari komunitas maupun pemerintah, banyak, kata Yuni. Ia merujuk pada situasi di Bali. Sayangnya, hampir semua terkait bantuan pangan.

“Yang susah mereka akses adalah pendidikan. Minimal untuk menolong diri sendiri dan ada keterampilan-keterampilan, itu yang tidak dicari dan tidak ada juga yang jemput bola, dinas-dinas sosial atau pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak juga tidak mencari sehingga data, kita sulit karena itu tadi, selfstigma sehingga tidak melaporkan.”

Pendidikan, menurut Rina Prasarani, adalah mantera pembuka peluang kerja dan memutus rantai kemiskinan yang mengakrabi orang disabilitas pada umumnya. Rina bekerja sebagai customer service call center di hotel bintang lima di Jakarta, satu-satunya disabilitas di sana. Ia percaya itu diawali dengan keputusannya menempuh pendidikan di sekolah umum.

Rina Prasarani (dok. pribadi)

“Akhirnya aku jadi tidak setara dengan anak-anak lainnya karena harus berusaha lebih keras. Yang lainnya mencatat, aku harus merekam, mengulang lagi, terus mencatat sendiri atau fotokopi, dulu zamannya begitu karena enggak bisa menyalin dari papan tulis. Anak disabilitas kalau bersekolah di sekolah umum itu enggak setaranya itu. Yang lain bisa dengan mudah menulis, yang lain bisa dengan mudah membaca, yang lain bisa dengan mudah mengikuti apa kata guru yang kadang kadang bahasanya juga tidak terlalu mudah, kita harus bekerja dua, tiga, empat kali lipat dari anak anak reguler lainnya.”

Hasilnya, Rina bisa hidup mandiri dan menghidupi dua anaknya. Anak keduanya menyandang disabilitas ganda: netra dan perkembangan mental.

Terkait Hari Anak, Rina mengatakan, umumnya ibu pasti ingin anaknya bahagia. Tetapi, ia mengakui, di Indonesia tidak mudah bagi ibu dengan anak disabilitas, apalagi dalam kasus Rina, dia juga disabilitas. Pertama, kata Rina yang aktif dalam organisasi netra dan perempuan disabilitas, terkait pengetahuan.

“Masih banyak ibu yang menganggap, kalau anak disabilitas sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, hilang masa depan dan… bagi orang umum disabilitas identik dengan tidak berdaya, harus dibantu, objek of charity. Mereka tidak punya bayangan bagaimana seorang anak itu tetap dapat berfungsi walaupun misalnya ia kehilangan penglihatannya. Walaupun dia kehilangan pendengarannya. Haknya itu sama sebetulnya dengan anak pada umumnya.”

Dalam peringatan Hari Anak Nasional, Rina, juga Dian dan Dr. Yuni, mengajak orang tua merenungkan apakah sudah memberi hak-hak anak? Untuk anak disabilitas, pemenuhan hak itu tentu perlu ada penyesuaian.

Rina mengatakan, “Itu yang disebut dengan aksesibilitas, reasonable accomodation gitu ya. Cara pandang yang tepat. Itu semua akan membentuk support system yang baik untuk anak untuk bisa menikmati hak-haknya.” 

[ka/ab]

Kaitan disabilitas, Hari anak, orang tua
Admin 23 Juli 2024 23 Juli 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB) Batam
Artikel Selanjutnya Pemerintah sebut Indonesia darurat kurang dokter; datangkan dokter asing solusinya?

APA YANG BARU?

BP Batam Dukung Pemerintah Pusat: Penataan Lahan & Laut Harus Ada Kepastian Hukum
Artikel 2 hari lalu 214 disimak
Amsakar Lantik 2 Pejabat Eselon II, Geser Ratusan ASN di “Babak Pertama” Rotasi 2026
Artikel 2 hari lalu 303 disimak
Cuaca Panas Masih Terasa di Batam, Waspadai Hujan Angin dan Petir
Artikel 2 hari lalu 345 disimak
Persib Bandung Jumpa Persebaya Surabaya di Final Piala Presiden 2026
Sports 3 hari lalu 311 disimak
Pemko Batam Segera Lakukan Perombakan Struktur OPD Terbaru
Artikel 3 hari lalu 237 disimak

POPULER PEKAN INI

Selasa (4/08), BMKG Perkirakan Cuaca Batam Cenderung Berubah
Artikel 3 hari lalu 378 disimak
Cuaca Panas Masih Terasa di Batam, Waspadai Hujan Angin dan Petir
Artikel 2 hari lalu 345 disimak
Menteri ATR/Kepala BPN Ungkap Wilayah Perairan Batam Banyak di Kavling Tanpa Prosedur yang Sah
Artikel 4 hari lalu 336 disimak
Piala AFF 2026, Indonesia Kalah Telak dari Vietnam 3-0
Sports 3 hari lalu 314 disimak
Persib Bandung Jumpa Persebaya Surabaya di Final Piala Presiden 2026
Sports 3 hari lalu 311 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?