Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Cuaca di Kota Batam Jum’at (3/07) Diprediksi Cerah Berawan
    12 jam lalu
    Tiket Kapal Pelni Batam-Belawan Ludes, Dipicu Diskon Libur Sekolah
    17 jam lalu
    Polisi Ringkus YP Pelaku Penipuan Ibadah Umrah di Bandara Hang Nadim
    23 jam lalu
    Bunuh dan Buang Bayi Baru Lahir, Polisi Amankan Seorang Wanita Muda
    24 jam lalu
    Digitalisasi Bansos, Masyarakat Bisa Ajukan Bantuan Sosial Secara Online
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Susul Kanada dan Meksiko, Tuan Rumah Amerika Masuk Babak 16 Besar
    21 jam lalu
    Dramatis Belgia Kontra Senegal, Belgia Unggul 3-2
    23 jam lalu
    Dual Gol Harry Kane ke Gawang Kongo Bawa Inggris ke Babak Selanjutnya
    1 hari lalu
    Catatan Rekor Mengesankan Iringi Meksiko Lolos ke Babak 16 Besar
    2 hari lalu
    Sepeda Pancal
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    4 hari lalu
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    6 hari lalu
    Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
    6 hari lalu
    Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
    1 minggu lalu
    Ikan Lepu (Lion Fish)
    1 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    1 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Matinya Toko Buku

Editor Admin 8 tahun lalu 1.9k disimak

PENJUALAN buku ritel tidak pernah mudah di Jakarta, atau di belahan mana pun di dunia,” demikian terpacak pada akun Instagram Aksara Indonesia.

Daftar Isi
Keniscayaan Perubahan ZamanSulitnya Berjualan Buku Impor

Mereka menutup dua jaringannya, di Cilandak Townsquare (6 April 2018), dan Pacific Place (15 April 2018). Setelah 17 tahun berkiprah dan sempat melebarkan jaringan penjualannya di sejumlah tempat, Aksara akhirnya harus “balik kandang” ke Kemang, toko tersisa yang merupakan tempat lahirnya mereka.

“Di saat kami mengucapkan selamat tinggal pada toko kami di mal, babak baru menunggu. Lokasi kami yang asli di Kemang, sekarang tengah diubah menjadi pusat kegiatan perayaan seni, fotografi, sinema, kedai kopi dan tentunya buku,” tulis akun Instagram Aksara Indonesia.

Sejumlah warganet di Instagram dan Twitter mengomentari hal tersebut.

Mereka menyayangkan, menyatakan kesedihan, dan berucap terima kasih.

“Aksara tutup ya? Sayang sekali..” tulis @rakprats

Sementara @mreihanf menulis, “Sedih Aksara tutup, makin sedih ga bisa dateng pas diskon besar.”

“Sedih banget Aksara Citos sudah mau tutup, mana kelewat lagi sale-nya,” tulis @Afterdinner7pm.

Keniscayaan Perubahan Zaman

Aldo Zirsov, pemilik ribuan buku yang beberapa bukunya tersebut sempat raib saat dikirim dari Amerika Serikat di Indonesia, mengatakan bahwa tutupnya beberapa gerai Aksara merupakan sesuatu yang sudah bisa diprediksi.

Menurutnya, penutupan toko fisik untuk produk-produk cetak termasuk musik dan film, memang sudah berlangsung lama di seluruh belahan dunia seiring makin berkembangnya teknologi dan informasi. Apalagi sejumlah perusahaan daring raksasa seperti misalnya Amazon, menjadi ancaman yang serius bagi eksistensi toko fisik.

“Aksara sebenarnya bisa bertahan sampai tahun 2018 ini sudah cukup bagus juga, saya tidak tahu pemiliknya sampai subsidi seberapa banyak supaya dia bisa terus eksis. Tapi itu [tutup] sebenarnya sudah bisa diprediksi,” ujarnya.

Selain itu, Aldo menyebut bahwa jaringan bisnis juga menjadi salah satu faktor yang menentukan kekuatan sebuah toko fisik. Ia membandingkan Aksara dengan Periplus dan Kinokuniya yang merupakan ritel yang jaringannya internasional. Sementara Aksara yang hanya punya toko di Jakarta, pasarnya akan sangat terbatas.

Dalam persaingan penjualan buku (impor) yang telah begitu ramai, Aldo melihat Aksara tidak mengoptimalkan kanal daring yang hari ini menjadi keniscayaan.

“Kalau hanya konsumennya terbatas di Jakarta atau Jawa secara umum, online juga tidak genjot, saya enggak heran dia [Aksara] tutup sebenarnya, dari sisi bisnis,” ujar Aldo.

Sebagai peminat dan pembeli buku, ia beberapa kali sempat belanja di Aksara dan toko buku impor lainnya di Indonesia. Namun tambahnya, hari ini konsumen punya banyak pilihan untuk mendapatkan buku, termasuk buku-buku impor. Pembeli bisa mendapatkan buku dengan harga yang jauh lebih murah dengan membeli secara online.

“Asal kita mau sedikit bersabar saja. Toh, hanya dengan menunggu paling tidak tiga minggu, buku itu juga sampai,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa beberapa penjual buku daring yang bukan penerbitnya langsung, biasanya juga punya buku-buku bekas yang ditawarkan kepada calon pembeli, yang harganya tentu lebih jauh murah. Sementara toko buku fisik kadang tidak bisa kompromi dengan harga.

Masa depan penjualan buku, menurut Aldo, adalah toko daring yang independen dalam artian dikelola oleh satu atau dua orang saja. Mungkin bisa pasangan suami istri, keluarga, atau siapa pun yang intinya bisa menekan biaya pegawai dan tidak perlu sewa tempat.

Aksara kini tengah mempersiapkan sebuah konsep baru di tempat lamanya di Kemang. Mereka menyebutnya sebagai “pusat kegiatan perayaan seni, fotografi, sinema, kedai kopi dan tentunya buku”.

Menurut Aldo, jika memang konsep barunya benar seperti itu, tidak akan terlalu membantu dalam meningkatkan pengunjung dan pembeli. Alasannya, tempat seperti itu sudah terlalu banyak saingannya di Jakarta dan pasar milenial tidak pernah loyal dengan tempat.

“’Oke gue experience, sekali tempat selesai, besok gue pindah tempat lain.’ Itu dilemanya anak milenial. Anak zaman now bilangnya gitu. Hehehe..” ujarnya.

Sulitnya Berjualan Buku Impor

Apa yang disampaikan Aldo tentang situasi penjualan buku impor kiwari yang ceruk pasarnya mayoritas sudah dikuasai penjual daring, sehingga mendesak sejumlah toko buku fisik untuk segera gulung tikar, diutarakan juga oleh Richard Oh, yang dulu memiliki toko buku Quality Buyers (QB) World Books yang telah tutup.

Ia tak merasa kaget dengan kondisi Aksara hari ini. Menurutnya, persoalan menjual buku impor di Indonesia adalah karena tidak ada peraturan dan kesepakatan yang bisa mengembalikan buku ke penerbit.

Kondisi ini berbeda dengan di luar negeri.

Ada sejumlah toko buku yang jika dalam beberapa bulan bukunya tidak laku, bisa dikembalikan ke penerbit.

“Kita di Indonesia enggak mungkin, karena kalau kita sudah pesan atau bukunya udah kita taruh dan enggak terjual, ya kita akan kumpul terus buku akhirnya. Stok yang enggak bisa dijual akibatnya akan menumpuk di gudang. Kalo dia numpuk, ya jadi discount dan cash flow jadi enggak lancar,” ungkapnya.

 

Sumber : Tirto / Instagram / Slideshare

 

Kaitan ebook, mati, milenial, Toko buku, top
Admin 18 April 2018 18 April 2018
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Saat Satu Zona Batam Jadi KEK
Artikel Selanjutnya Mobil Terbang Pertama di Dunia Siap Dipasarkan

APA YANG BARU?

Cuaca di Kota Batam Jum’at (3/07) Diprediksi Cerah Berawan
Artikel 12 jam lalu 82 disimak
Tiket Kapal Pelni Batam-Belawan Ludes, Dipicu Diskon Libur Sekolah
Artikel 17 jam lalu 75 disimak
Susul Kanada dan Meksiko, Tuan Rumah Amerika Masuk Babak 16 Besar
Sports 21 jam lalu 131 disimak
Polisi Ringkus YP Pelaku Penipuan Ibadah Umrah di Bandara Hang Nadim
Artikel 23 jam lalu 147 disimak
Dramatis Belgia Kontra Senegal, Belgia Unggul 3-2
Sports 23 jam lalu 130 disimak

POPULER PEKAN INI

Akomodasi Keluhan Warga, Pemko Batam Alihkan Proyek TPS ke 140 Bin Kontainer
Lingkungan 6 hari lalu 497 disimak
Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
Statistik 6 hari lalu 392 disimak
Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
Rupa 6 hari lalu 317 disimak
Lebih Mudah dan Murah, Trans Batam Resmi Layani Tujuan Bandara Hang Nadim
Artikel 3 hari lalu 292 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 4 hari lalu 281 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?