Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Kabar Duka: Putra Bungsu Presiden Soekarno, Guruh Soekarnoputra Tutup Usia
    15 jam lalu
    Polisi Gadungan Asal Lampung Peras Perempuan Tanjung Uban Rp20 Juta Lewat Tinder
    1 hari lalu
    Iming-Iming “SIM C Tanpa Antre” Berujung Jerat Pidana
    1 hari lalu
    Bahas Kebebasan Pers se-Asia Tenggara, Fesmed Selat Malaka AJI 2026 Sukses Digelar di Batam dan Tanjungpinang
    1 hari lalu
    Ancaman Krisis Air, Energi, dan Minimnya Serapan Kerja di Proyek Data Centre Batam
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang 2-0 atas Singapura Timnas Garuda Buka Peluang
    17 jam lalu
    Perluasan Kolam Retensi Untuk Tekan Titik Banjir di Batam
    1 hari lalu
    Indonesia Pecah Telur di Aichi-Nagoya 2026, Tim Beregu Putra Bulutangkis Sumbang Emas Pertama
    1 hari lalu
    Timnas Basket 3×3 Indonesia Kawinkan Gelar Juara SEABA U17 2026 di Batam
    5 hari lalu
    Batam 10K 2026 Diikuti 2.500 Pelari
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    5 hari lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    1 minggu lalu
    Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
    2 minggu lalu
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    3 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Menengok Sejarah Gowok

Editor Admin 4 tahun lalu 869 disimak

“…Maksud kedatanganku kemari adalah ingin menyerahkan anakku Bagus Sasongko kepada Nyai Lindri. Dia akan nyantrik di sini beberapa waktu lamanya. Kuserahkan anakku sepenuhnya ke tanganmu, Nyai, supaya dia nanti memperoleh bekal kehidupan ketika akan memasuki alam kedewasaan,” kata Wedana Randu Pitu ketika mengantarkan putranya kepada seorang wanita dewasa yang dikenal dengan sebutan gowok dalam novel Nyai Gowok karangan Budi Sardjono.

Di masa silam, tradisi memberikan pendidikan berumah tangga, termasuk di dalamnya pendidikan seks, kepada calon suami yang tengah mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan dilakukan oleh masyarakat di wilayah Jawa, salah satunya di daerah Banyumas. Tradisi ini dinamakan gowokan.

Minimnya informasi mengenai seluk-beluk kehidupan rumah tangga, serta pandangan bahwa membicarakan pendidikan seks merupakan hal yang tabu, membuat para orang tua khawatir anak mereka tak bahagia dalam berumah tangga. Kekhawatiran itu mendorong lahirnya gagasan agar laki-laki yang hendak menikah dididik terlebih dahulu oleh orang yang telah berpengalaman.

Tugas untuk mendidik lelaki muda atau calon suami dilakukan oleh seorang wanita yang dianggap memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehidupan rumah tangga. Wanita ini bertindak seolah-olah seorang istri yang mengajarkan laki-laki yang hendak menikah bagaimana menjadi suami yang baik. Wanita ini dinamakan gowok.

M. Koderi dalam Banyumas: Wisata dan Budaya yang disunting Ahmad Tohari, menyebut tak semua wanita dapat menjadi gowok. “Tugas semacam itu merupakan keahlian tersendiri,” tulis Koderi.

Oleh karena itu, ada sejumlah persiapan yang harus dilakukan seorang gowok sebelum menjalankan tugasnya. Salah satunya keahlian dalam mengendalikan diri dan menghadapi godaan, sehingga saat menjalankan tugasnya tidak terjadi hal-hal di luar batas.

Dalam menjalankan tugasnya, gowok akan mendapat gaji atau upah dari orangtua yang menitipkan anaknya.

R. Prawoto dalam tulisannya, “Huwelijksgebruiken en met het Huwelijk Verwants Verhouding in Oude Ost-Banjoemas”, di majalah Tijdschrift voor Indische Taal- , Land- en Volkenkunde LXXI tahun 1931, menyebut gowok memiliki tarif tertentu yang bervariasi antara f.0,25 dan f.0,30 per hari. Biasanya orangtua yang menitipkan putranya kepada gowok berasal dari keluarga terpandang yang memiliki cukup uang. Sehingga, selain mendapat upah berupa uang, gowok juga mendapat tambahan beras, kelapa, dan lain-lain sebagai ungkapan terima kasih.

Meski mendapat upah dan beragam bingkisan tambahan, gowok tak bisa sembarangan dalam bertugas. Ia harus memenuhi kontrak yang dibuat dengan orangtua lelaki yang ia bimbing. Jika gowok –yang jarang atau tidak pernah terjadi– gagal memenuhi kewajibannya, Prawoto menyebut gowok diwajibkan untuk mengembalikan peningset atau seserahan yang diterimanya.

Selama membimbing pemuda untuk bersiap menjadi seorang suami, gowok biasanya bertindak selayaknya seorang istri dan menantu. “Ia harus memasak makanan untuk pemuda itu dan keluarganya, menyediakan kayu bakar, membawa pemuda itu ke tanah tempat ia bekerja, membawakan makanan, mengurus pakaian dan harta miliknya, menerima kunjungan untuknya, dll.,” tulis Prawoto.

Sementara itu, menurut Koderi, bila masa “pendidikan” yang dijalani telah rampung, gowok akan melaporkan hasilnya kepada orangtua pemuda yang menjadi muridnya. “Setelah anaknya lulus menjalani gowokan, barulah orangtua mengirim undangan untuk perkawinan anaknya,” tulis Koderi.

Pembahasan mengenai gowok dan tradisi gowokan menarik minat sejumlah pengarang. Novel dan tulisan mengenai gowok bermunculan, salah satunya Nyai Gowok karya Budi Sardjono.

Dalam novel tersebut, Budi mencoba merunut sejarah kehadiran gowok di pulau Jawa. Ia menyebut Goo Wook Niang sebagai perempuan yang pertama kali memperkenalkan cara mendidik anak lelaki yang beranjak dewasa dengan diajak tinggal di rumahnya selama beberapa hari.

Menurut Budi, kegiatan itu telah dilakukan Goo Wook Niang sejak masih tinggal di Tiongkok. “Dan, hanya anak-anak lelaki dari kalangan istana yang ia didik supaya kelak jadi lelaki sejati, mengenal betul setiap inci dari tubuh perempuan, dan akhirnya bisa membahagiakan perempuan yang dijadikan pasangan hidupnya,” tulis Budi.

Jauh sebelum Budi Sardjono, seorang pengarang keturunan Tionghoa bernama Liem Khing Hoo telah menulis roman berjudul Gowok tahun 1936.

Menurut Claudine Salmon, penulis dan peneliti asal Prancis, dalam “Fiksi Etnografis dalam Kesusastraan Melayu Peranakan”, termuat dalam Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys Lombard, roman karangan Liem itu mendapat banyak tanggapan dari kalangan pers setelah diterbitkan.

Dalam roman tersebut, penulis yang memiliki nama pena Romano, menceritakan kisah Soemanda, putra seorang kepala desa, yang telah menyelesaikan pendidikan lanjutannya di sekolah Belanda dan berusaha menghindari tradisi gowokan yang ia anggap tak sesuai dengan moralnya.

Meski begitu ayah Soemanda telah mengatur segalanya dan mendatangkan seorang gowok bernama Soembangsih pada waktu yang telah ditentukan. Pembicaraan antara Soemanda dan Soembangsih tentang pendidikan rumah tangga yang dipandang Soemanda terbelakang telah mengubah pemikirannya. Soemanda menyadari Soembangsih merupakan wanita yang cerdas. Akhirnya, ia tak hanya setuju menimba ilmu kepada Soembangsih, tetapi juga jatuh cinta kepada sang gowok.

Roman karangan Liem Khing Hoo ini menjadi perbincangan publik tak lama setelah terbit. Sebab, tak sedikit orang yang menganggap bahwa tradisi gowokan telah lama punah. Namun, dalam catatan kaki tulisannya, Claudine Salmon menulis, redaksi Sin Po menambahkan catatan berisi rujukan pada artikel R. Prawoto yang menjelaskan bahwa adat itu pada 1931 masih hidup di daerah Bukateja yang berlokasi di dekat Banyumas.

Menurut Prawoto, istilah gowokan umum digunakan di desa-desa pegunungan di perbatasan Banyumas lama. Sementara di daerah bawah yang berbatasan dengan Wonosobo, istilah yang digunakan adalah sentongan. Seiring berjalannya waktu, tradisi gowokan lambat laun memudar. Perbedaan pandangan terkait nilai-nilai dalam masyarakat disinyalir menjadi salah satu faktor yang membuat tradisi ini mulai ditinggalkan.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Banyumas, Gowok, pernikahan, Tradisi
Admin 17 November 2022 17 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Resmikan Rusun Stisipol Raja Haji, Gubernur Kepri Beri Motivasi Mahasiswa
Artikel Selanjutnya Resesi Global 2023 | Apa Kata Kadin?

APA YANG BARU?

Kabar Duka: Putra Bungsu Presiden Soekarno, Guruh Soekarnoputra Tutup Usia
Artikel 15 jam lalu 118 disimak
FIFA ASEAN Cup 2026, Menang 2-0 atas Singapura Timnas Garuda Buka Peluang
Sports 17 jam lalu 108 disimak
Polisi Gadungan Asal Lampung Peras Perempuan Tanjung Uban Rp20 Juta Lewat Tinder
Artikel 1 hari lalu 274 disimak
Perluasan Kolam Retensi Untuk Tekan Titik Banjir di Batam
Lingkungan 1 hari lalu 435 disimak
Iming-Iming “SIM C Tanpa Antre” Berujung Jerat Pidana
Artikel 1 hari lalu 471 disimak

POPULER PEKAN INI

Hujan Sebentar; Batam Banjir, Mobil Warga Hanyut
Artikel 4 hari lalu 648 disimak
Ancaman Krisis Air, Energi, dan Minimnya Serapan Kerja di Proyek Data Centre Batam
In Depth 2 hari lalu 495 disimak
Iming-Iming “SIM C Tanpa Antre” Berujung Jerat Pidana
Artikel 1 hari lalu 471 disimak
Perluasan Kolam Retensi Untuk Tekan Titik Banjir di Batam
Lingkungan 1 hari lalu 435 disimak
BMKG: Hujan Guyur Batam 3-5 Hari ke Depan, Waspada Cuaca Cepat Berubah
Artikel 4 hari lalu 432 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?