Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pendaftaran Diperpanjang Lagi, Pemko Siapkan 3.000 Agen Perlinsos Jemput Bola
    10 jam lalu
    Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
    22 jam lalu
    Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
    22 jam lalu
    Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
    1 hari lalu
    Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
    8 jam lalu
    Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
    9 jam lalu
    Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
    22 jam lalu
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    1 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    5 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    6 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    6 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Mengenal Sejarah Planetarium Jakarta

Editor Redaksi 5 tahun lalu 2k disimak

WIDYA Sawitar mencoba memutar kembali ingatan masa kecil ketika dia menyambangi Planetarium Jakarta di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.

Seperti yang dikutip dari CNNIndonesia, menurut wanita yang telah cukup lama mengabdi ditempat itu, dilokasi tersebut tempat ia bermain menghabiskan waktu masa kanak-kanaknya.

“Dulu ini Planetarium tempat saya main sepeda, bola dan sebagainya. Dari lahir saya tinggal di Jakarta, dan besar di sini. Kebetulan kalau lagi libur suka diajak orang tua juga ke sini (Planetarium),” ujar Widya kepada CNNIndonesia.com di Planetarium Jakarta, Senin (27/9) lalu.

Tak pernah disangka ternyata dia akhirnya bisa meniti karir di tempatnya menghabiskan liburan saat bocah.

Seingat Widya, lahan kosong di kawasan Planetarium ketika dia masih belia amat sangat luas.

Sejarah Planetarium

PLANETARIUM pertama kali beroperasi pada 1969 oleh Presiden Republik Indonesia Kedua, Soeharto.

Berdiri tahun 1964 diprakarsai Presiden Soekarno dan diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969.

Soekarno ingin membangun sebuah Planetarium dan Observatorium di Indonesia, walaupun waktu itu sudah berdiri Observatorium Bosscha di Lembang.

Pendirian planetarium ini dimaksudkan agar masyarakat Indonesia tak lagi percaya pada tahayul, khususnya yang berhubungan dengan benda-benda langit seperti gerhana dan munculnya komet yang sering dikaitkan dengan malapetaka, bencana alam, atau perginya seorang pembesar, dan sebagainya yang sifatnya merugikan.

Ruang Auditorium pertunjukan di Planetarium Jakarta. Poto: @Intisarigrid.id

Adapun maksud pendirian observatorium yang tergabung dengan planetarium adalah sebagai pelengkap agar rakyat juga dapat meneropong benda-benda langit untuk mendapat gambaran yang sebenarnya setelah diberi pengetahuan tentang astronomi melalui pertunjukan planetarium.

Menurut Widya, di kawasan TIM saat itu hanya berdiri dua bangunan, yakni Planetarium dan gedung teater terbuka yang kini menjadi gedung Teater Besar TIM.

Di sana juga Widya berkenalan dengan astronomi. Rasa penasaran terhadap soal perbintangan akhirnya menuntun Widya meneguhkan hati mendalami ilmu astronomi di Institut Teknologi Bandung.

Kini, dia bertugas menjadi salah satu penceramah pertunjukan di Planetarium Jakarta.

Planetarium terbesar pada masanya

PADA saat dibangun, Planetarium Jakarta disebut Soekarno merupakan menjadi planetarium yang terbesar di dunia. 

Selain itu, Planetarium Jakarta merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengungguli negara-negara tetangganya.

Dalam pidatonya lagi Bung Karno berujar, “planetarium akan kita dirikan di Jakarta ini, di tempat ini, adalah planetarium yang terbesar di seluruh dunia, sehingga di bawah kubah itu bisa duduk orang. Lima ratus orang. Di lain-lain tempat cuma tiga ratusan saudara-saudara ini Indonesia bukan main,” seperti dikutip dari Langit Selatan.  

Telan biaya besar

PEMBANGUNAN Planetarium Jakarta ini pun menelan biaya yang tak sedikit. Pembangunan gedung Planetarium sendiri menghabiskan uang milyaran rupiah.

Belum lagi perkakas planetariumnya yang (atas rekomendasi tenaga-tenaga ahli dari Observatorium Bosscha) harus dipesan khusus dari Jena, Jerman Timur kala itu, tentu akan menghabiskan sekian juta dollar Amerika.

Sehingga, agar tidak membebani keuangan negara, Presiden Soekarno meminta partisipasi utama pihak swasta dalam proyek Planetarium Jakarta.

Saat itu, perusahaan-perusahaan swasta yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) bersedia membiayai pembangunan gedung Planetarium Jakarta.

Berdasarkan sebuah catatan, GKBI menyediakan dana sebesar Rp 1,67 miliar yang diturunkan secara berangsur tiga kali untuk membiayai pembangunan gedung planetarium tahun 1964, 1965, dan 1966.

Sementara biaya untuk pembelian mesin proyektor planetarium dan teropong bintang dari perusahaan Carl Zeiss-Jerman sebesar US$1,5 juta ditanggung sebuah yayasan yang sengaja dibentuk Bung Karno untuk mendanai berbagai keperluan pembangunan. Yayasan ini akan menghimpun dana-dana komisi yang biasa didapat dari pembelian suatu barang ke luar negeri.

Pembiayaan dan pelaksanaan pembangunan Proyek Planetarium Jakarta diatur dalam surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 155 tahun 1963 yang ditandatangani Presiden pada 26 Juli 1963.

Dalam pembangunannya, pembangunan Planetarium Jakarta sempat terhenti karena suasana politik negara yang kacau, terutama ketika pecah pemberontakan G30S/PKI.

Dana dari GKBI tidak lagi lancar mengalir. GKBI hanya mengeluarkan sebagian saja dari yang telah dianggarkannya.

Untunglah kemudian pada akhir 1967 pembangunan Planetarium Jakarta kembali dilanjutkan sedikit demi sedikit, dibantu dengan dana dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Akhirnya setelah gedung planetarium dan pemasangan proyektor serta perlengkapan lainnya berhasil diselesaikan, pada tanggal 20 November 1968 diresmikanlah Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Selang beberapa bulan sejak peresmiannya, Planetarium Jakarta menggelar pertunjukan perdananya, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1969 -tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal jadi Planetarium Jakarta.

Selang beberapa bulan sejak peresmiannya, Planetarium Jakarta menggelar pertunjukan perdananya, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1969 -tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal jadi Planetarium Jakarta.

Selain proyektor utama dari Jerman, di ruang pertunjukan terpasang 89 buah proyektor efek khusus, satu unit pengontrol elektronik, satu perangkat audio visual (video, laser disc, kaset audio dan pengeras suara).

Teleskop uzur

SEJAK awal sekitar tahun 1964 Planetarium ini memiliki teleskop Coude yang digunakan untuk pengamatan dan pemotretan Matahari. Pengunjung boleh juga mengamat dengan teleskop tersebut.

Sekitar tahun 1982 Bapak Darsa Soekartadiredja mengusulkan pembelian teleskop portable kecil kepada Pemda DKI Jakarta.

Teleskop ini akan dipergunakan untuk pengamatan di luar kota Jakarta dalam peristiwa Gerhana Matahari Total, yang sebelumnya telah diperkirakan akan terjadi pada bulan Juni tahun 1983. 

Pada tahun 1994 Pemda DKI Jakarta akhirnya menyetujui pembelian teropong bintang bergaris tengah 31cm. Teropong bintang ini digunakan untuk mengganti teropong yang kecil dan sudah tua. 

Pada tahun 1996 Badan Pengelola Planetarium dan Observatorium Jakarta melakukan pemutakhiran peralatan pertunjukan. Proyektor pertama Planetarium Jakarta yang telah bekerja selama 27 tahun itu digantikan dengan proyektor Planetarium generasi terbaru dari Pabrik Carl Zeiss. 

Sepanjang Widya meniti karir, dia menjadi saksi bagaimana Planetarium mengarungi zaman sejak awal dibangun pada 1964.

Contohnya alat peraga di ruang pertunjukan. Perangkat yang mulanya merupakan proyektor analog lantas diperbarui dengan mekanisme komputerisasi pada 1996, dan prosesnya memakan waktu hingga dua tahun.

Pembaruan perangkat itu menurut dia diharapkan membuat pengunjung lebih terkesan.

“Kalau dulu, kalau kita jeli melihatnya semua putih bintangnya. Kalau yang tahun 1998 kita bisa lihat bintang ya kalau ada merah ya berwarna merah, lebih variatif. Sekarang bisa berkelap kelip. Merubah banyak. Bintang itu bisa dibuat secara individual,” ujar Widya.

Planetarium Jakarta selain tempat penelitian juga berfungsi sebagai sarana Wisata Pendidikan. Poto: @Republika

Bahkan menurut Widya perangkat itu memiliki skala presisi yang tinggi, karena tersambung dengan program astronomi yang asli.

Planetarium juga mempunyai observatorium yang menyimpan tiga teropong bintang buat mengamati fenomena langit saat kemarau, atau jika ada momen tertentu.

Akan tetapi, dari tiga teropong bintang itu, hanya satu yang masih laik digunakan.

“Kalau yang intinya ada tiga, tapi satu sudah kurang efektif karena cacat dudukanya, kemudian yang satu namanya teleskop kan harus diarahin ya, pengarahnya itu agak meleset,” ujar Widya.

Buat menambal kekurangan itu, Planetarium menyediakan lebih dari sepuluh teropong yang bisa dibongkar pasang buat digunakan oleh pengunjung.

“Itu (teleskop) sudah lama (usianya), udah rata-rata di atas 30 tahun,” katanya.Widya tidak menampik beberapa teleskop permanen yang ada di Planetarium terbilang uzur, walau ada yang diperbarui.

Lebih Kritis

SEBAGAI seorang penceramah yang bekerja di Planetarium sejak 1992, Widya sudah kenyang menghadapi berbagai polah pengunjung.

Widya mengatakan para pengunjung Planetarium saat ini kerap melontarkan pertanyaan kritis karena arus informasi sudah sangat terbuka, baik lewat internet maupun media massa cetak.

“Mereka sudah banyak belajar dari ragam media seperti internet. Jadi ketika ke sini rasa penasaran mungkin sama, tapi makin banyak pertanyaan karena saking banyaknya info-info yang beredar,” pungkasnya.

(*/hzh)

Sumber: CNNIndonesia / Langit Selatan / Wikipedia

Kaitan Planetarium, Planetarium Jakarta, sejarah, top
Redaksi 3 Oktober 2021 3 Oktober 2021
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Ombudsman Desak Pemerintah Mencari Masyarakat yang Belum Divaksinasi
Artikel Selanjutnya Wagub Kepri Dukung Pertumbuhan Sektor Ekonomi Kreatif

APA YANG BARU?

Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
Histori 8 jam lalu 371 disimak
Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
Catatan Netizen 9 jam lalu 252 disimak
Pendaftaran Diperpanjang Lagi, Pemko Siapkan 3.000 Agen Perlinsos Jemput Bola
Artikel 10 jam lalu 106 disimak
Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 22 jam lalu 313 disimak
Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
Artikel 22 jam lalu 245 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 5 hari lalu 749 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 5 hari lalu 601 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 5 hari lalu 568 disimak
Komisi III DPR RI Setujui Komjen Pol. Suyudi Ario Bayu Jadi Kapolri Baru, Ini Profilnya
Artikel 4 hari lalu 495 disimak
Siswa di Tanjungpinang Diliburkan, Belajar Online
Pendidikan 6 hari lalu 490 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?