PADI gogo menjadi primadona dalam sektor pertanian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan yang didominasi oleh lahan kering dan minimnya sistem irigasi teknis sawah, budidaya padi ladang ini telah diupayakan sejak masa lalu untuk memperkuat swasembada dan kemandirian pangan lokal.
BERBEDA dengan padi sawah konvensional yang membutuhkan genangan air melimpah, padi gogo dikenal sangat hemat air. Mengandalkan curah hujan alami dan sistem perakaran yang dalam, varietas ini mampu tumbuh optimal di lahan tegalan, perbukitan, bahkan lahan miring tanpa memicu erosi, sekaligus menjaga kesuburan tanah marginal.
Pengembangan padi gogo di Kepri kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menunjukkan progres nyata yang terstruktur di beberapa kabupaten dan kota:
- Kabupaten Bintan: Bintan menjadi motor penggerak utama. Area penanaman aktif di wilayah ini telah merealisasikan lahan seluas 60,5 hektare pada musim tanam lalu. Pemerintah daerah kini mengejar target perluasan hingga 75 hektare, ditambah potensi lahan baru dari masyarakat sebesar 80 hektare. Titik sebaran utamanya berfokus di kawasan Gesek (Desa Toapaya), Bintan Timur (Sei Enam dan Sungai Lekop), serta Bintan Utara (Desa Lancang Kuning).
- Kabupaten Lingga: Sebagai salah satu lumbung pangan Kepri, Lingga sukses mengintegrasikan padi gogo di lahan-lahan kering antarpulau guna menjaga kontinuitas produksi saat musim kemarau panjang.
- Natuna & Kepulauan Anambas: Di kawasan pulau terluar ini, budidaya padi gogo diaplikasikan dalam bentuk demplot (lahan percontohan) untuk menekan ketergantungan pasokan logistik pangan dari luar daerah.
- Kota Batam (Kawasan pesisir): Kelompok tani hortikultura di pulau-pulau penyangga mulai melakukan diversifikasi tanaman dengan menanam padi gogo secara terbatas pada musim-musim tertentu.
Produktivitas dan Konversi ke Beras
DATA lapangan menunjukkan bahwa produktivitas padi gogo di lahan kering Kepri sangat menjanjikan, dengan target potensi hasil berkisar antara 3,5 hingga 5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.
Jika dikalkulasikan dengan menggunakan angka konversi standar nasional (sekitar 60-64% dari gabah menjadi beras konsumsi), berikut adalah estimasi total produksi pangan yang dihasilkan:
- Lahan Eksisting (60,5 Hektare): Mampu menyumbang sekitar 211,7 hingga 302,5 ton GKP, yang setelah digiling akan menghasilkan sekitar 127 hingga 193 ton beras siap konsumsi.
- Target Perluasan (75 Hektare): Diproyeksikan mendongkrak hasil hingga mencapai 262,5 hingga 375 ton GKP, atau setara dengan 157 hingga 240 ton beras siap konsumsi per musim panen.
Keberhasilan ini salah satunya dipicu oleh tren positif kepatuhan petani yang memanfaatkan lahan sela (intercropping) bekas kebun sayur atau cabai menjadi lahan padi ladang yang produktif.
Untuk mencapai produktivitas maksimal hingga 5 ton/hektare, para petani di Kepri menerapkan standardisasi langkah budidaya spesifik lahan kering berikut:
- Persiapan Lahan: Tanah dibajak atau dicangkul tipis (minimum tillage) untuk menjaga struktur tanah kering. Pembenahan tanah dilakukan dengan pemberian kapur pertanian (dolomit) jika pH tanah terlalu asam, serta penambahan pupuk kandang atau kompos sebagai penyedia hara awal.
- Sistem Tanam Tugal: Penanaman tidak menggunakan sistem semai-pindah tanam seperti sawah. Benih langsung dimasukkan ke dalam lubang tanam yang dibuat menggunakan kayu/alat tugal dengan kedalaman 3-5 cm. Jarak tanam ideal berkisar antara 25×25 cm atau 30×30 cm.
- Manajemen Air dan Gulma: Karena mengandalkan tadah hujan, penanaman disesuaikan dengan awal musim penghujan. Pembersihan gulma (penyiangan) dilakukan secara berkala sejak usia 2-3 minggu karena gulma di lahan kering tumbuh lebih cepat dan berebut nutrisi dengan padi.
- Pemupukan Efisien: Menggunakan kombinasi pupuk kimia (UREA, SP-36, KCl) dengan dosis berimbang yang diaplikasikan pada saat tanaman kering agar pupuk terserap saat hujan turun.
Skema Bantuan Pemerintah
KEBERLANJUTAN program ini terus dikawal ketat oleh Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepri dan dinas pertanian setempat melalui skema Demplot PM-AAS (Program Modernisasi Pertanian – Antisipasi Darurat Pangan).
Bentuk insentif dan bantuan nyata yang disalurkan pemerintah untuk kelompok tani meliputi:
- Subsidi Benih Unggul Varietas Khusus: Distribusi gratis benih varietas lokal yang dimurnikan serta varietas unggul nasional seperti Cakrabuana dan Inpari IR Nutri Zinc (padi kaya gizi untuk pencegahan stunting).
- Paket Sarana Produksi (Saprotan): Pasokan pupuk bersubsidi dan pestisida hayati untuk menekan biaya modal awal petani.
- Modernisasi Alat Mesin Pertanian (Alsintan): Peminjaman dan hibah hand tractor untuk mempercepat olah tanah serta penyediaan sarana pompa air di titik-titik sumur dangkal pertanian guna mengantisipasi defisit air saat intensitas hujan menurun.
Melalui sinergi hulu-hilir dan langkah budidaya yang tepat, penanaman masif yang dilakukan pada kuartal akhir tahun ini diproyeksikan akan memasuki masa panen raya pada Januari hingga Februari 2027, membawa Kepulauan Riau satu langkah lebih dekat menuju ketahanan pangan yang tangguh dan mandiri.
Padi Gogo Di Kepri Dalam Tabel

Estimasi Luas Lahan dan Potensi Hasil Panen (Khusus Kabupaten Bintan)
| Status Lahan | Luas Lahan (Hektare) | Potensi Hasil Gabah (GKP)* | Estimasi Beras Siap Konsumsi** | Wilayah Fokus Utama |
|---|---|---|---|---|
| Realisasi Eksisting | 60,5 | 211,7 – 302,5 ton | 127 – 193 ton | Gesek (Desa Toapaya), Sungai Lekop, Sei Enam, Bintan Utara |
| Target Perluasan Pemda | 75,0 | 262,5 – 375,0 ton | 157 – 240 ton | Perluasan kawasan Gesek dan wilayah sentra hortikultura |
| Potensi Lahan Baru Masyarakat | 80,0 | 280,0 – 400,0 ton | 168 – 256 ton | Lahan kering/bekas kebun sayur milik warga mandiri |
*Catatan: Menggunakan asumsi produktivitas target 3,5 – 5 ton GKP per hektare.
**Catatan: Menggunakan standar konversi giling gabah ke beras sebesar 60% – 64%.
Peta Sebaran Wilayah dan Progres Pertanian Padi Gogo di Kepri
| Kabupaten / Kota | Lokasi Spesifik | Progres & Karakteristik Implementasi |
|---|---|---|
| Kabupaten Bintan | Gesek, Toapaya, Sei Enam, Sungai Lekop, Lancang Kuning | Paling progresif. Sukses menerapkan sistem tanam sela (intercropping) di bekas lahan sayur/cabai. |
| Kabupaten Lingga | Lahan kering antarpulau | Integrasi dengan cetak sawah untuk menjaga pasokan pangan saat musim kemarau panjang. |
| Natuna & Anambas | Wilayah pulau terluar | Pengembangan skala kecil (Demplot) guna memangkas ketergantungan logistik pangan dari luar daerah. |
| Kota Batam | Kawasan hinterland (pulau penyangga) | Diversifikasi tanaman pangan secara terbatas oleh kelompok tani hortikultura. |
Aspek Teknis: Varietas, Budidaya, dan Stimulan Pemerintah
| Kategori | Detail Penerapan Lapangan |
|---|---|
| Varietas Unggul | • Cakrabuana: Umur genjah dan tahan kekeringan. • Inpari IR Nutri Zinc: Padi kaya gizi untuk penanganan stunting. |
| Teknik Budidaya | • Olah tanah minimum (minimum tillage) + kapur dolomit/kompos. • Sistem tanam tugal langsung (kedalaman 3-5 cm, jarak 25×25 cm atau 30×30 cm). • Penyiangan berkala dan pemupukan berimbang saat kondisi tanah lembap. |
| Bantuan Pemerintah (PM-AAS) | • Distribusi benih gratis dan paket pupuk/pestisida hayati bersubsidi. • Fasilitasi Alsintan (hand tractor dan pompa air sumur dangkal). |
| Timeline Panen Raya | Penanaman kuartal akhir tahun ini diproyeksikan panen raya pada Januari – Februari 2027. |
(ham/nes)


