Hubungi kami di

Khas

“Menghadapi Penjual Yang Memaksa”

Mike Wibisono

Terbit

|

PENJUAL pasti ingin produknya laris. Namun mengenai caranya, ada yang bersikap profesional dengan memberikan informasi membantu, ada pula yang agresif dengan memaksa. Menurut laman inc.com Tipe penjual yang kedua inilah yang biasanya mengganggu.

Jika menghadapi seseorang dengan tipe yang sulit menolak atau sedang mengalami keraguan, itu jadi keuntungan tersendiri bagi mereka. Lantas, bagaimana cara menghadapinya?

Jangan panik dengan tenggat

Umumnya beberapa toko memang menenggat waktu untuk produknya. Misalnya saat ada diskon atau promosi. Ini bisa dijadikan strategi penjual untuk “memaksa” Anda membeli sebelum tenggat. Mereka biasanya mengeksploitasi pembeli dengan menakut-nakuti sehingga muncul perasaan jangan sampai kehilangan kesempatan bagus.

Kendalikan emosi

Penjual yang memaksa bisa memanipulasi pelanggan sehingga membeli barang yang sebenarnya tidak benar-benar diinginkan. Misalnya dengan memanfaatkan ketakutan, banyak basa-basi, menjalin kedekatan, atau membuat Anda merasa tidak enak jika tidak membeli produk. Untuk itu, kendalikan emosi dengan fokus pada kebutuhan dan menolak jika memungkinkan.

Jangan umbar informasi pribadi

Salah satu taktik penjualan adalah mengorek informasi pelanggan selengkapnya. Bukan hanya data diri, termasuk nomor yang bisa dihubungi, tapi juga rencana-rencana Anda untuk membeli. Jika Anda tidak ingin terganggu akibat dipaksa membeli, jangan umbar informasi pribadi.

Bawa teman

Belanja sendirian memang lebih nyaman, tetapi memperbesar peluang tekanan saat berhadapan dengan penjual yang memaksa. Membawa teman atau pasangan bisa mengurangi kemungkinan Anda terburu-buru membeli. Setidaknya, teman Anda bisa menjadi pengingat atau pemberi saran.

Sepakat dengan pasangan

Saat bersama pasangan ingin membeli barang bernilai tinggi seperti rumah atau kendaraan, Mental Floss menyarankan Anda berhati-hati bila dipisahkan dari pasangan. Pastikan dulu anggaran, informasi dan strategi pembelian, serta hal-hal yang tak bisa ditawar telah disepakati bersama. Ini mengantisipasi bujuk rayu penjual terhadap pasangan, sehingga membuat keputusan sendiri.

Jangan terlalu antusias

Sebagai seni berkomunikasi, antusias memang penting. Masalahnya, sikap ini sering jadi sasaran empuk saat menghadapi penjual yang memaksa. Memperlihatkan semangat dan antusias di depan mereka hanya menciptakan dorongan membeli yang besar. Padahal bisa jadi ada produk lain yang lebih bagus dan sesuai keinginan Anda.

Minta waktu untuk berpikir

Tetap sopan tapi tegas. Meminta waktu untuk berpikir merupakan salah satu seni menolak yang baik. Sebuah studi kasus menunjukkan, mencatat nama dan kontak penjual sambil mengatakan akan menghubunginya kembali, jauh lebih baik dibanding memberi kesempatan penjual untuk memaksakan kehendaknya.

Bila penjual lewat telepon yang Anda hadapi, saran dari Lifehacker pada tautan ini mungkin membantu. Salah satunya, meminta kepada si penjual untuk menghapus nomor Anda dari daftar pusat data perusahaan mereka.

Seperti dikutip dari laman merdeka.com, di Indonesia belum memiliki kebijakan Do Not Call, daftar nomor telepon yang tidak ingin diganggu oleh telemarketing. Bila kamu merasa sangat terganggu, bisa lapor melalui laman pajak.go.id untuk Sistem Pelaporan Edukasi dan Perlindungan Konsumen (SIPEDULI) milik OJK (Otoritas Jasa Keuangan), sebagai pengawasan penanganan pengaduan. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook