Hubungi kami di

Khas

“Mewaspadai Bahaya Pil Zombie”

iqbal fadillah

Terbit

|

POLISI di Kepri sudah mengamankan pemilik 12 ton bahan pembuat obat Paracetamol, Caffeine dan Carisoprodo atau lebih dikenal sebagai pil PCC. Barang bukti yang sering disebut sebagai pil zombie itu, ditemukan Senin (2/9) lalu di Pelabuhan Sri Bayintan, Kijang.

Sejauh ini, sudah ada 6 tersangka yang diamankan.

“Pada awalnya ditetapkan satu tersangka, kemudian berkembang menjadi 4 orang dan sementara ini sudah ada 6 tersangka yang telah kami amankan, begitu juga dengan pemilik barang tersebut,” ujar Kapolda Kepri, Irjenpol Sam Budigusdian saat Konferensi pers di Mapolda Kepri, Rabu (20/9).

Menurut Kapolda Kepri tersebut, barang  dibawa dari India dan masuk dari Singapura, setelah itu masuk melalui Batam dan dikirim ke Jakarta melalui Pelabuhan Sri Bayintan, Kijang.

“Mereka memanfaatkan fasilitas FTZ di Batam, kalau langsung dikirim ke Jakarta akan sulit dan ketat jadi mereka memilih jalur dari Batam kemudian memilih Pelabuhan Sri Bayintan,” ujarnya lagi.

12 ton bahan obat-obatan terlarang itu dikemas dalam 418 drum dan diangkut menggunakan 3 lori.

Apa itu Pil PCC

Dari keterangan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, obat PCC dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan. Di Sulawesi Tenggara, saat ini sudah terdapat 60 korban penyalahgunaan obat PCC yang dirawat di tiga RS. Korban dirawat di RSJ Kendari (46 orang), RS Kota Kendari (9 orang), dan RS Provinsi Bahteramas (5 orang).

“Pasien yang dirawat berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan ‘PCC’ dengan kandungan obat belum diketahui,” ujar Menkes.

BACA JUGA :  Amsakar, Dari Anggota Mawil Hansip Hingga Memimpin Negri

Sementara dr Hari Nugroho dari Institute Of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN) mengatakan obat PCC sebenarnya merupakan obat yang bersifat relaksan atau yang berfungsi untuk melemahkan otot-otot kejang. Jika dikonsumsi berbutir-butir, efek yang ditimbulkan adalah perasaan ‘fly‘.

“Kalau dicoba oleh anak-anak, risiko terjadinya keracunan akan lebih besar,” ujar Hari.

PCC sendiri termasuk obat keras. Obat tersebut tidak bisa dikonsumsi sembarangan dan harus dengan izin dokter. Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan PCC digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan obat sakit jantung.

Di salah satu kanal youtube, MDR Channel merilis sebuah video yang merekam dampak yang terjadi pada seorang pemuda yang diduga mengkonsumsi pil tersebut.

https://youtu.be/KeG6_fiyA6o

PCC berbeda dengan Flakka, meski efeknya disebut-sebut hampir mirip, yakni membuat pemakainya berhalusinasi.

“Menurut literatur yang kami peroleh memang kandungan obat ini sementara ini bukan merupakan narkotik dan juga bukan yang sekarang ini tersebar di tengah masyarakat adalah jenis Flakka, bukan,” kata  Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari.

Secara medis, komposisi pil PCC yang terdiri dari Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol, dapat dijelaskan secara medis. Dokter Pricilla Johana dari Go Dok menjelaskan bahwa yang paling berbahaya adalah campuran bahan ketiganya, yakni Carisoprodol.

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook