Hubungi kami di

Sebaiknya Tahu

Orangtua Narsistik, Bagaimana Dampaknya pada Anak?

Terbit

|

Ilustrasi, narsis

Orangtua Narsistik, Bagaimana Dampaknya pada Anak? Jika seorang anak memiliki orangtua dengan sifar narsistik, apa yang akan terjadi pada kehidupan anak?


SIFAT narsistik dapat didefinisikan sebagai kondisi mental yang membuat seseorang merasa bahwa dirinya sangat penting, memerlukan perhatian terus menerus, namun kurang empati pada orang lain.

Mereka yang mengalami kondisi ini juga akan mementingkan dirinya sendiri dan tak ragu memanfaatkan orang lain uhtuk mendapatkan keinginannya.

Dari luar, orang narsistik akan terlihat sangat percaya diri, meski pikirannya sangat rapuh dan tak dapat menerima kritik.

Nah, bagaimana jika orang dengan kondisi narsistik ini menjadi orangtua?

Dilansir dari Moms, anak yang memiliki orangtua narsistik bisa menderita trauma emosional dan psikologis yang bisa terbawa hingga dia beranjak dewasa.

Efek pengasuhan oleh orangtua narsistik pun akan berbeda karena beberapa hal, seperti tingkat narsisme yang dimiliki orangtua atau apakah kedua orangtua merupakan narsistik atau bukan.

Untuk mengetahui bagaimana pola asuh orangtua narsistik pada anak dan dampaknya, simak paparan berikut ini.Pola asuh orangtua narsistik

Orangtua yang memiliki sifat narsistik dapat menyiksa anaknya secara emosional.

Pasalnya, mereka yang mengalami gangguan narsistik akan memiliki perilaku penuh kritik dan defensif.

Akibatnya, mereka tidak dapat menjalin hubungan yang sehat dengan siapapun, termasuk anak-anaknya.

Kebutuhan emosional anak-anak mereka juga tidak akan terpenuhi dan seorang narsistik tentu tidak akan mempedulikannya.

Pasalnya orang narsis akan lebih memperhatikan kebutuhan dirinya dibanding orang lain, sesuatu yang sudah menjadi ciri mereka.

BACA JUGA :  "Suatu Sore di Lampu Merah"

Orangtua narsistik pun akan memiliki ekspetasi tinggi pada anaknya dan ingin selalu dihormati serta disayangi, namun, mereka tidak melakukan hal yang sama pada anaknya.

Lalu, dikutip dari laman Psychology Today, anak dengan orangtua narsistik biasanya akan dididik untuk percaya bahwa perasaannya tidak penting. Akibatnya, anak tidak mampu mengembangkan sense of self atau rasa diri.

Anak juga tidak diperbolehkan melampaui orangtuanya, namun tidak boleh mempermalukan keluarganya.

Lalu, beberapa narsistik terkadang bersikap “hot and cold.”

Artinya, terkadang dia akan memarahi dan berteriak pada anaknya, namun akan memuji anak di momen lain.

Hal ini akan membuat anak tumbuh dengan perasaan bingung, merasa tidak dicintai, dihakimi, dan tak betah di rumah sendiri.

Tak hanya itu, para narsistik juga sangat peduli pada penampilan mereka dan akan menaruh ekspretasi tinggi terkait hal itu pada anak-anaknya.

Orangtua narsistik pun tak akan percaya atau tidak merasa bahwa dia melukai anaknya.

Mereka hanya berpikir bahwa mereka orangtua terbaik meski anak-anaknya tidak menyukainya.

Orangtua seperti ini pun cenderung tidak mau mendengarkan ketakutan dan kekhawatiran anak, yang akan berdampak buruk pada kesehatan mentalnya.

Apa efeknya?

Anak-anak dari orangtua narsisis akan mengalami luka emosional dan psikologis karena tidak mendapatkan empati dari orangtuanya.

Perkembangan emosional anak pun akan terhambat karena dia tumbuh di bersama orangtua yang mengutamakan dirinya sendiri.

Hasilnya, anak-anak ini akan menghabiskan masa dewasa mereka dengan mencari rasa aman dalam hidupnya.

BACA JUGA :  Penyakit ISPA Meningkat di Tanjungpinang | Penderita Didominasi Anak Usia di Bawah 5 Tahun

Harga diri (self-esteem) anak-anak ini pun rendah. Bahkan, tak jarang mereka telah menderita depresi dan gangguan kecemasan sejak kecil.

Anak-anak ini pun akan tumbuh sebagai seoran people-pleaser (selalu ingin menyenangkan hati orang lain) dan mencari validasi emosional karena tak memahami cara menangani emosi dengan cara yang sehat.

Tentu saja, semakin banyak penyiksaan emosional yang dialami anak, semakin parah pula efek traumanya saat anak beranjak dewasa.

Hal ini pun akan menjadi masalah karena anak-anak ini bisa terjebak dalam perilaku tidak aman saat berjuang untuk menghadapi trauma masa lalunya.

Lalu di bidang karir dan hubungan, tak jarang anak-anak ini tumbuh menjadi sosok yang kerap meragukan dirinya sendiri dan terlalu bergantung pada orang lain.

Kerusakan yang diderita anak-anak korban orangtua narsis pun sulit dihilangkan.

Bahkan, anak-anak ini bisa menderita PTSD (gangguan stres pasca trauma) atau rentan terjebak dalam hubungan tak sehat yang melibatkan pasangan narsis.

Terkadang, anak-anak ini juga tumbuh menjadi orang dewasa yang narsistik.

Namun, tak jarang anak-anak ini menemukan cara untuk mengatasi traumanya sendiri saat dewasa.

Misalnya, dengan menghindari keintiman dan menyalahkan diri sendiri atas perilaku buruk orang lain.

Ada pula yang sering merasa sedih saat memikirkan masa kecilnya.

Hingga kini, masih diragukan apakah narsisme bisa disembuhkan atau tidak. Namun, pemutusan siklus bisa dilakukan.

(*)

Sumber : Mom | Kompas | Psychology Today
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid