PERAIRAN Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, memiliki kekayaan ekosistem laut yang tinggi, di antaranya ratusan spesies ikan karang.
Dengan potensi kekayaan tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) untuk membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) guna mengelola kawasan konservasi perairan Kabupaten Bintan.
BLUD tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur pada akhir tahun 2025 dan mulai disosialisasikan kepada publik pada awal tahun ini.
Pembentukan lembaga ini menandai langkah konkret dalam pengembangan sistem kawasan konservasi laut di Provinsi Kepulauan Riau setelah proses penyempurnaannya sempat berjalan bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Kedepanya, lembaga ini nantinya yang bertanggung jawab dalam pengelolaan kawasan konservasi laut di perairan Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki luas sekitar 1.716.538,25 hektare.
Dalam keterangan resminya yang dikutip dari Tempo.com, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Said Sudrajat mengatakan, keberadaan lembaga pengelola khusus ini menjadi langkah penting untuk memastikan tata kelola kawasan konservasi dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
“Perairan Bintan memiliki potensi ekologis yang sangat besar. Karena itu pengawasan dan pengendaliannya perlu dilakukan secara terencana agar perlindungan ekosistem laut dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Said, Jumat (8/05/2026).
Kawasan perairan Bintan dikenal memiliki kekayaan ekosistem laut yang tinggi, mulai dari terumbu karang hingga padang lamun yang menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.
Survei ilmiah Marine Rapid Ecological Assessment Program (MREP) yang dilakukan Konservasi Indonesia mencatat sedikitnya 425 spesies ikan karang di kawasan ini. Dari jumlah tersebut, 219 spesies merupakan catatan baru di perairan Bintan, sementara delapan di antaranya berpotensi menjadi spesies baru yang masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut.
Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw mengatakan, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perairan Bintan memiliki nilai biodiversitas laut yang penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi kawasan regional.
Selain tinggi keanekaragaman hayati, perairan ini juga adalah habitat dugong dan penyu, serta padang lamun yang luas dan padat, bahkan salah satu terbaik di Indonesia, yang merupakan habitat bagi berbagai spesies ikan.
“Karena itu penataan kawasan konservasi yang efektif menjadi kunci untuk memastikan ekosistem tersebut tetap terjaga,” kata Victor.
Menurutnya, pembentukan BLUD menjadi langkah penting karena keberadaan lembaga pengelola kawasan memungkinkan pengendalian area konservasi dilakukan secara lebih terstruktur, mulai dari perlindungan ekosistem hingga pemantauan kondisi lingkungan di kawasan konservasi.
Konservasi Indonesia mendukung penuh proses pengoptimalan kelembagaan pengelola kawasan tersebut, termasuk dalam peningkatan kapasitas pengelola, penyusunan rencana pengoperasian kawasan konservasi, serta perancangan skema pendanaan yang mendukung pengelolaan kawasan.
Selain memiliki nilai ekologis tinggi, kawasan perairan Bintan juga memiliki potensi besar dalam perluasan pariwisata bahari berkelanjutan.
Lokasinya yang berdekatan dengan Singapura menjadikan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata utama di Kepulauan Riau dengan sejumlah pulau kecil yang berkembang sebagai kawasan resort.
Andrew Dixon, CEO resor di Pulau Nikoi Island dan Pulau Cempedak Island, menekankan bahwa ekosistem laut yang sehat sangat penting bagi keberlanjutan industri pariwisata di wilayah tersebut.
“Keindahan laut dan ekosistem yang terjaga dengan baik adalah alasan utama wisatawan mengunjungi pulau-pulau seperti Nikoi dan Cempedak. Melindungi kesehatan laut tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga bagi keberlanjutan pariwisata dan perekonomian lokal,” ujar Dixon.
Keberadaan ekosistem pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut.
Padang lamun di kawasan ini menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk dugong, mamalia laut yang populasinya semakin langka di berbagai wilayah perairan dunia.
Dengan adanya lembaga pengelola kawasan melalui BLUD, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kabupaten Bintan bersama para mitra diharapkan dapat memastikan pengurusan kawasan konservasi laut berjalan secara berkelanjutan, sekaligus menjaga ekosistem laut yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir serta sektor pariwisata di wilayah tersebut.
(*)


