SEIRING gelombang laut yang mulai melandai dan mereda dalam beberapa hari terakhir, ribuan nelayan tradisional di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali melaut.
Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri, Arif Fadillah di Tanjungpinang, dikutip dari Antara, Selasa (17/1/2023).
Arif menyebutkan, sejak November 2022 sampai pekan lalu, sebagian nelayan tradisional, terutama yang menggunakan kapal dengan kapasitas kecil tidak dapat melaut lantaran gelombang mencapai 4-6 meter, terutama di Perairan Natuna dan Kepulauan Anambas.
Pada saat yang sama, nelayan tradisional lainnya yang biasa beraktivitas di Perairan Tanjungpinang, Batam, Karimun, Lingga, dan Bintan juga terpaksa menepi karena gelombang laut mencapai 2,5 meter disertai angin kencang.
Pekan lalu, kata dia, ribuan nelayan mulai melaut dengan menggunakan kapal, perahu dan kelong apung (alat tangkap ikan). Arif menyebutkan, nelayan tradisional di wilayah Kepri diperkirakan mencapai 194.000 orang.
“Mudah-mudahan cuaca tidak ekstrem lagi sehingga produktivitas nelayan meningkat,” ujarnya.
Menurut dia, nilai produksi perikanan tangkap di wilayah Kepri mencapai Rp 8,697 triliun, dan nilai produksi perikanan budi daya mencapai Rp 610 miliar.
Ia merinci nilai produksi perikanan tangkap di Kabupaten Natuna mencapai besaran Rp 2.859 triliun, sementara untuk nilai produksi perikanan budi daya mencapai Rp 296 miliar.
Kemudian, disusul urutan terbesar kedua untuk perikanan tangkap adalah Kabupaten Bintan sebesar Rp 1,844 triliun, Kabupaten Lingga sebesar Rp 1,466 triliun, Kota Batam sebesar Rp 1,424 triliun, Kabupaten Anambas sebesar Rp 536 miliar, Kabupaten Karimun sebesar Rp 472 miliar, dan terakhir Kota Tanjungpinang sebesar Rp 93 miliar.
“Total untuk seluruh Kepri, nilai produksi perikanan tangkap mencapai Rp 8,697 triliun, dan nilai produksi perikanan budi daya mencapai Rp 610 miliar,” sebut Arif.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Tanjungpinang melaporkan tinggi gelombang laut di Perairan Tanjungpinang, Batam, Karimun, Bintan, dan Lingga mencapai 0,5 – 1,25 meter, sedangkan gelombang laut di Perairan Anambas dan Natuna 1,25 – 2,5 meter.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat pesisir dan pengguna transportasi laut mewaspadai munculnya awan cumulonimbus yang menyebabkan cuaca memburuk, seperti hujan deras, angin kencang dan gelombang tinggi.
(*/pir)


