MATA uang rupiah masih tertekan atas dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan pasar spot, Kamis (7/7/2022) sore, nilai tukar rupiah kembali melemah ke posisi Rp 15.001,5 per dolar AS.
Mata uang Garuda terdepresiasi 2,5 poin atau 0,02 persen dari sebelumnya, Rabu (6/7/2022). Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp 14.986 per dolar AS pada sore ini.
Adapun mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Yen Jepang terpantau melemah 0,13 persen, dolar Singapura menguat 0,25 persen, won Korea Selatan menguat 0,54 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.
Lalu, peso Filipina melemah 0,67 persen, yuan Cina melemah 0,02 persen dan ringgit Malaysia melemah 0,12 persen. Kemudian, dolar Taiwan melemah 0,09 persen, serta baht Thailand menguat 0,04 persen.
Kemudian, mata uang negara maju juga terlihat bervariasi. Terpantau euro Eropa menguat 0,10 persen dan poundsterling Inggris menguat 0,29 persen serta franc Swiss melemah 0,06 persen.
Selanjutnya, dolar Kanada menguat 0,16 persen dan dolar Australia menguat 0,43 persen.
Senior Analis Bank Mandiri, Reny Eka Putri, mengatakan penguatan dolar pada hari ini masih ditopang oleh antisipasi kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan makin ketat pada bulan ini.
“Rupiah kembali bergerak ke atas Rp 15.000 per dolar AS dibayangi kebijakan The Fed yang semakin agresif,” terangnya.
Menurutnya, kebijakan The Fed yang semakin hawkish diperkirakan berlanjut merespons tingginya inflasi AS di tengah bayangan resesi ekonomi AS.
“Menjelang FOMC meeting Juli 2022, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi, sehingga rupiah masih rawan terkoreksi,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi domestik, capital outflow yang berlanjut masih dinilai menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
“Pelaku pasar juga wait and see terhadap rilis data ketenagakerjaan AS akhir pekan ini. Tingkat pengangguran AS diperkirakan masih stabil di level 3,6 persen,” pungkasnya.
(*)
sumber: CNN Indonesia.com


