Hubungi kami di

Histori

Soe Hok Gie, Aktivis Pemberani yang Lawan Pemerintahan Sukarno

Terbit

|

Soe Hoek Gie, ist.

SOE Hok Gie dikenal sebagai pemuda pejuang, aktivis, intektual yang kritis dan idealis. Ia meninggalkan warisan baik perjuangan di atas tanah maupun perjuangan di atas kertas.

Dikutip dari buku Soe Hok-Gie: Biografi Sang Demonstran 1942-1969 karya Muhammad Rifai, Gie–sapaannya– adalah keturunan Tionghoa yang lahir di Kebon Jeruk, Jakarta pada 17 Desember 1942. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara dari ayah yang bernama Soe Lie Piet, seorang sastrawan.

“Saya dilahirkan pada 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk,” ucap Gie seperti ditulis dalam buku tersebut.

Gie ikut berjuang melawan pemerintahan yang otoriter dan mewujudkan pemerintahan yang baru dan bersih.

1. Awal mula Soe Hok Gie menjadi seorang aktivis

Gie berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Sastra. Kemunculan Soe Hok Gie sebagai aktivis gerakan mahasiswa sebenarnya sudah dimulai ketika ia mengikuti ospek mahasiswa dan berkenalan dengan Zaske seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS) dan berbagai aktivis gerakan mahasiswa lainnya.

Menurut Gie, kondisi negara saat itu sedang tidak baik-baik saja, kepemimpinan Sukarno kurang memilik sense of crisis rakyat kecil dan suka pada permainan politik. Kondisi tersebut diperparah dengan beberapa kasus yang menunjukkan kepemimpinan Sukarno cenderung diktaktor dan korup.

Hal Ini berkaitan dengan kebebasan berbicara, berpendapat, dan menuliskan pendapat pribadi melalui media massa, banyak dilakukan penyensoran dan orang-orang yang ditangkap lalu dipenjara tanpa pengadilan yang jelas, termasuk pembubaran partai, yaitu masyumi dan PSI.

Semua hal ini menjadi pertanyaan Gie, karena semua itu menjadikan tugas intelektual bukan sekadar studi saja, melainkan juga melakukan perubahan.

BACA JUGA :  Wanita Asing di Balik Isi Pidato Menggugah Soekarno

Pada catatan hariannya 14 Januari 1963, menandakan Soe Hok Gie sebagai aktivis gerakan mahasiswa yang memiliki kesadaran dan ingin mengubah keadaan. Isi dari catatan tersebut sebagai berikut.

“Akhir-akhir ini aku giat kembali ke GMS, Aku diserahi tugas untuk mengoordinasi rangkaian seri-seri ceramah yang mempunyai tujuan menanamkan sikap heroik di kalangan pemikir-pemikir muda…”

Sebelumnya, Gie sebenarnya sudah menjadi aktivis bagi etnisnya, China peranakan yang menuntut agar pemerintah menerima program asimilasi. Dari sini lah ia bertemu dengan salah satu pentolan aktivis PMKRI yaitu Harry Tjan Silalahi.

2. Perjuangan Soe Hok Gie melawan pemerintahan otoriter Sukarno lewat gerakan mahasiswa

Meskipun Gie memiliki keyakinan politik yang kuat, ia tidak pernah berusaha meyakinkan atau mempengaruhi mahasiswa lainnya. Soe Hok Gie dan beberapa kawannya juga membidani lahirnya pembentukan kelompok pendaki gunung dan pecinta alam di fakultas, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) yang dibentuk pada November 1964.

Organisasi ini merupakan perwujudan reaksi menentang nilai-nilai dan perilaku sejumlah mahasiswa yang bergaya hidup boujuis urban. Klub ini juga sebagai bentuk penolakan terhadap ideologi dan politik yang dipenuhi kemunafikan.

Setelah kasus 30 September 1965, Soe bergabung dengan PPI dalam berbagai serangan terhadap bangunan PKI, mulai dari menempelkan poster-poster anti PKI di berbagai wilayah dan gedung-gedung dan aksi-aksi perusakan lainnya.

Pada awal 1966, Gie mendengar rencana kampanye baru untuk menentang kenaikan tarif bis dan harga minyak, akhirnya ia mendukung gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), ia pun ikut serta dalam aksi-aksi yang diselenggarakan oleh KAMI.

BACA JUGA :  Seulawah, Pesawat Komersil RI Pertama Sumbangan Warga Aceh

Namun, Gie tidak sekadar ikut, tetapi melakukan aksi dan gerakan menggunakan strateginya sendiri. Inilah yang membuktikan Gie berperan sebagai salah satu tokoh penggerak gerakan mahasiswa 66.

Selain itu, Gie juga giat menyerukan suara perjuangan mahasiswa dengan tulisannya di beberapa surat kabar yang menyulut semangat mahasiswa dalam aksi dan membuat pemerintah kalang kabut dengan, tulisannya juga membuka mata rakyat tentang bobroknya pemerintahan zaman itu, Sukarno.

3. Meninggal di pelukan Semeru

Walaupun tubuhnya kecil, Gie termasuk orang yang kuat dan ulet. Karena hobinya, ia ingin merayakan ulang tahunnya pada 17 Desember di puncak Gunung Semeru.

Namun takdir berkata lain, tubuh Gie mengalami kejang-kejang dan menggigil akibat menghirup gas beracun dan mematikan, hal serupa juga dialami Idnan Lubis, temannya. Mereka meninggal dalam pelukan Semeru sehari sebelum ulang tahun Gie yang ke 27.

Awalnya, Gie dikebumikan di Pemakaman Menteng Pulo berdampingan dengan sahabatnya Idhan Lubis. Namun, keluarga Gie mengalami masalah yang mengharuskan jenazahnya dipindahkan ke bekas makam kolonial di Tanah Abang.

Masalah kembali muncul ketika pada 1975, Pemerintah Jakarta mengumumkan akan membongkar pemakaman lama di Tanah Abang, tempat Gie dimakamkan. Akhirnya keluarga memutuskan untuk mengkremasi tulang belulang Gie dan abunya disebarkan di tempat favoritnya, yaitu di Lembah Mandalawangi, dekat Gunung Pangrango.

(*)

Sumber : IDN TIMES | buku Soe Hok-Gie: Biografi Sang Demonstran 1942-1969

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook