Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Waka BP Batam Lantik 27 Pejabat Eselon II, Ini Nama-namanya
    34 menit lalu
    Polsek Bengkong Amankan 2 Remaja Pelaku Pencurian Motor
    7 jam lalu
    BP Batam Buka Peluang Kerjasama Pengolahan Sampah di TPA Punggur
    9 jam lalu
    Polres Bintan Amankan Pelaku Penyalahgunaan Penjualan BBM Bersubsidi
    10 jam lalu
    BMKG Ingatkan Warga Kepri Waspadai Banjir Pesisir/Rob (16–22 Mei 2026)
    20 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026
    8 jam lalu
    Empat Siswa MAN Karimun Lolos Seleksi Dayung Porprov 2026
    19 jam lalu
    100 Siswa Ikut Lomba Bertutur di Tanjungpinang
    20 jam lalu
    Buku Ajar Lokal
    1 hari lalu
    Beasiswa Pendidikan Tinggi untuk Siswa Berprestasi dan Kurang Mampu di Batam
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Kasu, Batam
    3 hari lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    2 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    2 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    2 minggu lalu
    Pulau Pecong, Batam
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Tak Ada Beras, Gandum pun Jadi

Editor Admin 4 tahun lalu 704 disimak

KENAIKAN harga gandum karena perubahan iklim dan perang Rusia-Ukraina membuat harga mi instan merangkak naik. Bahkan, sempat disebut bakal naik tiga kali lipat. Kabar ini menjadi perhatian publik karena mi instan merupakan makanan populer orang Indonesia.

Popularitas mi instan tak dapat dilepaskan dari awal mula perkenalan masyarakat Indonesia dengan gandum di masa awal Orde Baru.

Pada 1960-an, krisis ekonomi menghantam Indonesia. Inflasi yang menembus 650% menyebabkan kesejahteraan rakyat merosot . Kondisi itu memicu gelombang unjuk rasa mahasiswa yang menyuarakan Tritura (tiga tuntutan rakyat): bubarkan PKI, rombak Kabinet Dwikora, dan turunkan harga pangan.

Jenderal TNI Soeharto yang menggulingkan Sukarno menyadari pentingnya beras bagi rakyat Indonesia. Namun, persediaannya tidak memadai. Dia pun meminta bantuan dari Amerika Serikat.

Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto, negara-negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat menyadari pentingnya menyalurkan bantuan makanan untuk menopang kebutuhan pangan masyarakat Indonesia di bawah kepemimpinan Soeharto yang anti-komunis. Setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Adam Malik, Wakil Presiden Amerika Serikat Hubert Humphrey menyurati Presiden Amerika Serikat Lyndon Baines Johnson.

“Indonesia membutuhkan banyak sekali beras dan sedang berupaya mendapatkan beras tidak hanya dari AS… Meski begitu, mereka membutuhkan jauh lebih banyak dari AS… Saya menyarankan peningkatan penggunaan gandum dan bulgur (gandum tumbuk)…,” tulis Humphrey.

Amerika bisa memenuhi sebagian permintaan beras, tapi Soeharto terus meminta lebih banyak, mengingat ketergantungan orang Indonesia pada beras. Di sisi lain, Amerika ingin mempromosikan gandum yang melimpah.

Penasihat Keamanan Nasional Amerika Walter Rostow melaporkan bahwa Amerika berharap Indonesia seperti India bersedia belajar mengonsumsi gandum. Amerika kekurangan beras dan berniat meningkatkan areal tanaman padi seluas 20 atau 30 persen, tapi Amerika bisa mengirim gandum saat ini juga. Presiden Johnson yakin masyarakat Indonesia akan menyukai gandum ketika sudah terbiasa mengonsumsinya.

“Seiring waktu, Soeharto mengisyaratkan bahwa gandum boleh juga kalau beras tidak bisa ditambah lagi,” tulis Borsuk dan Chng.

Akhirnya, pemerintah Indonesia menerima bantuan gandum dari Amerika meski kebanyakan rakyat Indonesia belum terbiasa mengonsumsi makanan olahan gandum seperti roti. Pada 1967, hanya kalangan menengah atas yang telah terbiasa mengonsumsi roti, makanan orang Eropa di zaman kolonial.

Gandum bantuan Amerika digiling di Singapura karena Indonesia belum memiliki pabrik penggilingannya. Saat mi instan hadir pertama kali di Indonesia pada 1968, PT Lima Satu Sankyu, perusahaan yang memproduksi Supermi, harus mengimpor bahan bakunya tepung terigu.

Pabrik penggilingan tepung terigu pertama di Indonesia didirikan oleh The Gang of Four, julukan untuk Liem Sioe Liong, Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono, saudara sepupu Soeharto. Pada 1969, mereka mendaftarkan PT Boga Sari dengan modal awal Rp500 juta. Ketika Soeharto menyetujui proyek tersebut, namanya diubah menjadi Bogasari Flour Mills.

Borsuk dan Chng menyebut sejak awal sudah jelas manfaat yang bisa diraup Soeharto dari pembangunan Bogasari. Anggaran Dasarnya pada 1970 menyatakan bahwa 26 persen keuntungan diberikan kepada Yayasan Harapan Kita yang diketuai Ibu Tien Soeharto, dan Yayasan Dharma Putra milik Kostrad. Soeharto adalah Panglima Kostrad pada 1965.

Soeharto meresmikan pabrik Bogasari di kawasan Tanjung Priok, Jakarta, pada 29 November 1971. Dalam sambutannya, Soeharto mendorong masyarakat agar terbiasa mengonsumsi makanan-makanan berbahan olahan gandum.

“Kalau dahulu roti dan kue-kue dari tepung terigu hanya merupakan makanan golongan yang berpunya saja, sekarang telah menjadi bahan makanan masyarakat yang lebih luas dan tampaknya juga lebih praktis. Lagi pula bahan makanan dari tepung terigu termasuk bernilai gizi yang tinggi,” kata Soeharto dalam Berita Industri tahun 1972.

Bisnisnya berkembang membuat Bogasari menambah pabrik pengolahan gandum di kawasan Tanjung Perak, Surabaya. Dalam Jatuh Bangun Keluarga Salim Membesarkan Bogasari terbitan Tempo Publishing disebutkan, pabrik pengolahan gandum di Tanjung Priok telah berkali-kali diperluas. Pabrik itu mampu menghasilkan 500.000 ton terigu setahun. Guna meningkatkan produksi, pabrik pengolahan gandum yang berada di Tanjung Perak juga turut diperluas agar dapat memproduksi gandum dalam jumlah yang besar.

Sebagai penghasil tepung terigu, Bogasari menyasar pabrik-pabrik mi instan sebagai konsumennya. Seiring berjalannya waktu, Liem juga membangun pabrik mi instan dengan merek Sarimi. Sarimi kemudian merger dengan Indomie dan mengambil alih Supermi. Salim Group pun mendominasi pasar mi instan dengan tiga merek, terutama Indomie.

Menurut Borsuk dan Chng, pada masa-masa awal Bogasari, Salim tidak mendapatkan pemasukan besar karena konsumsi tepung relatif kecil. Namun, bisnis ini disiapkan untuk tumbuh berkembang karena dilindungi oleh penguasa dari persaingan. Di samping itu, ketika gagal panen mengakibatkan kelangkaan beras, pemerintah Soeharto menganjurkan konsumsi makanan berbasis tepung, yaitu roti dan mi.

“Setelah Salim menjadi raksasa mi instan, gandum menjadi bagian menu makanan orang Indonesia,” tulis Borsuk dan Chng. “Indonesia melompat menduduki tempat kedua konsumsi mi instan global setelah Tiongkok.”

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan indomie, Liem Sioe Liong, Soeharto
Admin 14 Agustus 2022 14 Agustus 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Bakamla Bangun Rusun untuk Personel di Batam
Artikel Selanjutnya Berkas 10 Parpol Belum Lengkap, KPU: Bisa Gugur Ikut Pemilu 2024

APA YANG BARU?

Waka BP Batam Lantik 27 Pejabat Eselon II, Ini Nama-namanya
Artikel 34 menit lalu 68 disimak
Polsek Bengkong Amankan 2 Remaja Pelaku Pencurian Motor
Artikel 7 jam lalu 86 disimak
Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026
Sports 8 jam lalu 76 disimak
BP Batam Buka Peluang Kerjasama Pengolahan Sampah di TPA Punggur
Artikel 9 jam lalu 110 disimak
Polres Bintan Amankan Pelaku Penyalahgunaan Penjualan BBM Bersubsidi
Artikel 10 jam lalu 128 disimak

POPULER PEKAN INI

Nelayan Bintan Unjuk Rasa Tolak Sedimentasi Pasir Laut
Lingkungan 6 hari lalu 897 disimak
Niat Baik, Jangan Sampai Bikin Bingung
Catatan Netizen 6 hari lalu 731 disimak
Sabu 1.315,4 gram Ditemukan di Area Terminal Keberangkatan Bandara RHF
Artikel 6 hari lalu 558 disimak
“Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
Histori 3 hari lalu 537 disimak
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang Mirip Museum
Catatan Netizen 3 hari lalu 486 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?