Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    DPRD Batam Mau Bangun Pagar Gedung, Total Anggaran Rp6 Miliar
    3 jam lalu
    Ratusan Pengajuan UWT Warga Puskopkar Batuaji Tertahan di BP Batam
    3 jam lalu
    Lakalantas Tunggal di Batam Tewaskan Seorang Pengendara Sepeda Motor
    20 jam lalu
    Polda Kepri Kembali Amankan Ribuan Liquid Vape Mengandung Zat Etomidate
    2 hari lalu
    Aksi Bersih Lingkungan Tandai Peringatan Hari Buruh di Kota Batam
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
    2 jam lalu
    Waspada Penyakit Malaria di Tanjungpinang
    3 jam lalu
    Perluas Akses Pendidikan, SMP Negeri 65 Batam Resmi Berdiri
    2 hari lalu
    Marselino Ferdinan Dipanggil ke Timnas Lagi
    3 hari lalu
    Semifinal Leg 1 Liga Champions Eropa, Atletico Madrid Ditahan Imbang Arsenal
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    3 jam lalu
    Pulau Pecong, Batam
    1 minggu lalu
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 bulan lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    2 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    3 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”

Jejak J.E. Teijsmann di Negeri Segantang Lada (Bagian 1)

Editor Admin 39 menit lalu 86 disimak
Bandar Riouw di Tanjungpinang, sekitar tahun 1874. © F. Leiden University/ koleksi bintorosuryo.comDisediakan oleh GoWest.ID

“Tanah di Tandjong Pinang ini, terutama di jalan-jalan, humus dan tanah suburnya telah menyusut. Tidak ada yang tersisa selain kerikil (batu-batu kecil mengandung besi berwarna merah). Wilayahnya menjadi cukup tandus sekarang“

Daftar Isi
Berangkat ke RiouwMengunjungi SenggarangTambang Batu dan P. LoozPulau Doempah yang SepiRiouw Lama yang TerbengkalaiIstana di pulau Basieng“Dolce far niente” di Kaki Gunung Bintan

…

“Saya diberitahu, ada makam para Sultan dan Raja terdahulu di sana. Letaknya agak masuk ke pedalaman, sekitar setengah jam perjalanan dari pantai di pulau Bintan“

…

“Alih-alih pada waktu itu membersihkan kebun dan mengisi ruang kosong dengan tanaman muda, mereka lebih mempraktikkan “dolce far niente” siang dan malam di pondok-pondok itu‘ (J.E. Teijmann – Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV’ tahun publikasi 1874)

Oleh: Bintoro Suryo


LAPORAN perjalanan J.E. Teijsmann tahun 1872 ini merupakan dokumen penting yang mencatat kondisi geografis, botani, sosial, dan ekonomi, khususnya di Kepulauan Riau-Lingga pada pertengahan hingga menjelang akhir abad 19. Ia mencatatkan wilayah negeri Riau Lingga yang dikunjunginya sebagai; Segantang Lada.

Itu adalah ujar-ujar yang selalu disebutkan masyarakat pribumi di sini sejak dulu; untuk menggambarkan wilayah Riau Lingga yang didominasi kepulauan.

Gantang sendiri merupakan ukuran takaran orang Melayu zaman dulu. Biasanya dipakai untuk menakar beras atau lada. Berukuran kira-kira 2,5 kg untuk satu gantangnya.

Perumpamaan Segantang Lada untuk memberi kiasan tentang jumlah pulau-pulau yang ada di negeri Riau Lingga saat itu, bermaksud untuk menjelaskan begitu banyaknya pulau-pulau yang tersebar di wilayah ini; seperti biji-biji lada yang ada di dalam ukuran satu gantang takaran.

Banyaknya pulau-pulau yang ada di wilayah Riau Lingga, juga sering diumpamakan penduduk setempat pada masa lalu dalam terminologi gantang beras; dimana dalam satu gantang terdapat ribuan biji beras yang menyiratkan banyaknya pulau di wilayah ini. Seperti tercatat dalam dokumen Journal Edinburg yang terbit pada 1828.

“Di sini dapat kami catat, bahwa di tempat rumput laut itu berlimpah, antara Pulau Merah, di Selat Durian dan Tanjung Batam, sebagaimana disebut dalam peta-peta Horsburgh, tidak ada alur pelayaran bagi kapal-kapal, pulau-pulau dan gosong-gosongnya sangat banyak, dan oleh penduduk asli disebut dengan tegas Pulo sa Gantang, yang berarti bahwa terdapat pulau dan gosong sebanyak butir beras dalam satu gantang …” Government Gazette, 26 Oktober (Edinburg Journal of Science volume VIII November – April, 1828)


JOHANNES Elias Teijsmann, lahir pada 1 Juni 1808 di Belanda dan meninggal pada 22 Juni 1882 di Bogor. Ia adalah seorang ahli botani berkebangsaan Belanda. Mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan tumbuhan di negeri ini.

Teijmann menjabat sebagai Kurator Kebun Raya Bogor sejak tahun 1830 dan kemudian menghabiskan sisa hidupnya untuk mengembangkan kebun botani tersebut. Ia sering melakukan banyak perjalanan penelitian. Seperti membawa bibit kelapa sawit dari Afrika barat ke negeri ini untuk dibudidaya. Di masa sekarang perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia, menjadikan negara ini sebagai produsen utama tanaman sawit dunia.

Sementara di wilayah Kepulauan Riau, beberapa sumbangsihnya adalah membawa tanaman karet dari Amerika Selatan dan menjadikan wilayah negeri Segantang Lada ini sebagai salah satu penghasil karet utama dunia.

Ia juga yang memperkenalkan sistem penanaman padi kering di beberapa pulau di negeri Riau Lingga, untuk mencukupi kebutuhan barang kebutuhan pokok masyarakat masa itu secara mandiri yang disesuaikan dengan kondisi alamnya. Perkebunan nanas yang sempat marak dibudidaya di wilayah ini juga tidak lepas dari tangan dinginnya.

Pada masa kedatangannya di negeri ini, ia mencatat beberapa fakta menyedihkan tentang model pertanian di negeri Riau Lingga. Misalnya tentang rusaknya banyak lahan di Bintan dan Riouw (Tanjungpinang, pen.) akibat penanaman gambir dan lada secara terus menerus hingga pertengahan abad 19. Kondisi yang memaksa pembukaan lahan-lahan baru penanaman gambir dan lada di hutan-hutan perawan pulau Batam dan sekitarnya pada masa setelahnya. Teijsmann mencatat kontras tajam antara potensi alam di Riau Lingga dan pemanfaatannya.

Catatannya yang terarsip dalam dokumen ‘Natuurkundig Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, Zevende Series, Deel IV‘ tahun publikasi 1874, bukan sekadar catatan botani. Tapi merupakan potret negeri Riau Lingga di abad ke-19. Nilai utama laporan ini terletak pada detail observasi lapangan dan gambaran utuhnya tentang Riau-Lingga di masa ambang modernisasi. Ketika hutan, rempah, dan takhta mulai berhadapan dengan kapal uap serta dolar.

Dalam perjalanannya di Riau-Bintan, ia menemukan bekas kejayaan budidaya gambir yang membuat tanah tandus. Sementara kebun buah warisan yang melimpah, justeru dibiarkan liar dan hanya dipanen musiman. Ia mendaki gunung Bintan di usia yang sudah tidak muda, 68 tahun dan menemukan banyak Makam bangsawan kuno serta dan bekas keraton kerajaan yang terbengkalai. Sisa dari peninggalan kerajaan Bintan Kuno. Catatannya kemudian jadi dasar ahli sejarah di masa berikutnya dalam meneliti keberadaannya.

Sementara di Lingga, ia mencatatnya sebagai wilayah paling menjanjikan: tanah aluvial subur, air melimpah dari Gunung Dai serta hutan yang kaya sumber alam. Ia mendokumentasikan potensi wilayah ini setelah melakukan perjalanan panjang keluar masuk hutan, mendaki gunung hingga menyusuri perairan-perairan perawan. Beberapa perjalanannya di wilayah ini, bahkan ditemani langsung oleh Sultan Lingga Riau saat itu, Sulaiman Badrul Alamsyah.

Karena kontribusinya yang besar terhadap perkembangan dunia botani di negeri ini, namanya masih lestari hingga sekarang; diabadikan sebagai taman Teijsmann yang berada di kebun raya Bogor. Sebuah tugu botani juga dibangun untuknya.

Menarik untuk mengetahui lebih dalam catatannya tentang negeri Riau Lingga masa itu yang ditulis dalam bentuk timeline. Saya membagi catatannya dalam beberapa bagian untuk memudahkan pemahaman.

Berikut, bagian pertamanya.


DENGAN keputusan Direktur Pendidikan, Ibadah dan Perindustrian tanggal 19 Januari 1872 No. 554, saya diberi wewenang untuk melanjutkan perjalanan dinas saya ke pulau Bangka, untuk kemudian mengunjungi kepulauan Riouw dan Pantai Timur Sumatra. Namun, untuk yang terakhir ini, karena keadaan perang dan kekurangan kapal, tidak dapat dilaksanakan.

Pada tanggal 10 Mei 1872, saya berangkat untuk itu dari Buitenzorg (Bogor, pen.) ke Batavia (Jakarta, pen.). Kemudian, pada tanggal 15 Mei, mulai bertolak menggunakan kapal pos, Minister van Staat Rochussen ke Muntok. Kami tiba pada tanggal 16 Mei sore pukul 5. Turun ke darat dan disambut oleh residen van Cattenburch.

Tanggal 22 Mei 1872, berangkat ke Paja Raja. Saya tiba di sana, setelah bermalam di Trentang pada tanggal 25 Mei malam. Pada tanggal 26 Mei, tiba di sana juga tuan Foorop, Administrator Soengei Liat, bersama tuan Weber, Murid pada tambang timah.

Tanggal 27 Mei 1872, kami bersama-sama mengunjungi sekitar Bakem untuk mencari kemungkinan membawa air dari sungai Telang, di perbatasan dengan Marawang, jika mungkin ke dataran-dataran yang lebih tinggi.

Perjalanan ini bagaimanapun karena “belukar” yang tak dapat ditembus dan ketiadaan alat-alat ukur, tidak membuahkan hasil.

Kami kemudian sampai pada keputusan, mengusulkan pembendungan jalan besar dari sungai kecil Terap, yang terletak di dekat kampung Bakem. Dengan itu kami berpendapat, setidaknya untuk sebagian kecil, dapat mencapai maksud kami, yaitu membawa air setinggi itu sehingga dengan itu tanah-tanah kering yang lebih tinggi dapat diairi dan dijadikan sawah. Usul ini bagaimanapun kandas pada nasihat Residen Bangka.

Setelah selama beberapa hari mengamati pekerjaan-pekerjaan di sawah-sawah di Paja Raja dan menyampaikan catatan-catatan saya kepada tuan von Baumhauer, yang ditugaskan dengan pelaksanaan pekerjaan itu, dan tentang hal itu telah melapor kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri, saya kemudian berangkat pada tanggal 6 Juni ke Pangkal Pinang. Pada 10 Juni melalui Marawang ke Soengei Liat; 15 Juni ke Blienjoe; 17 Juni ke Djeboes dan 19 Juni ke Muntok.

Pada perjalanan ini, saya masih mengumpulkan beberapa tumbuhan. Saya juga mendengar bahwa sedikit sawah yang ada di Loemoet di wilayah Blinjoe dan di Djeboes, berhasil dengan sangat baik.

Dari Muntok saya juga mengunjungi lagi daerah yang menarik di Batoe Balai. Di sini, ditemukan keanekaragaman besar tumbuh-tumbuhan. Di antaranya seluruh hutan dari “Quercus” atau jenis-jenis ek. Saya memanen beberapa jenis tumbuhan yang kemudian saya kumpulkan dalam dalam 2 peti. Melalui perantara, jenis-jenis tumbuhan itu saya kirimkan ke Kebun Raya Negara di Buitenzorg (Bogor, pen.). Saya kemudian melanjutkan perjalanan.

Berangkat ke Riouw

TANGGAL 25 Juni 1872, tiba sore pukul 6½, kapal pos William Mackinnon. Menggunakan kapal itu, saya berangkat ke Riouw. Tiba pada keesokan sorenya pukul 8½ tiba di rede (tempat berlabuh, pen.) di Tandjoengpinang.

Pada pukul 10, saya telah menjejakkan kaki di darat. Sementara kapal tetap berlabuh pada jarak hampir 1 mil laut dari ibu kota Tandjong Pinang. Di bandar utama Riouw ini, saya diterima dan dijamu dengan sangat ramah oleh Residen Schiff.

Bandar Riouw di Tanjungpinang, sekitar tahun 1874. © F. Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Pada hari-hari pertama tinggal di Tandjong Pinang, — yang biasa disebut Riouw — dan juga kemudian, ketika tidak ada kesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau lain, karena semua kapal yang layak laut telah berangkat ke Deli, saya tidak dapat mengunjungi pulau-pulau yang jauh letaknya. Laut di antara pulau-pulau di sini, kadang-kadang sangat bergelora.

Residen, dengan niat sebaik apa pun, tidak dapat membantu saya dalam hal itu. Karena punya banyak waktu senggang di bandar ini, saya menyempatkan berkeliling hingga beberapa pal jauhnya dari ibu kota. Bandar ini telah memiliki jalan-jalan lebar yang cukup baik. Bahkan, sebagian besar dapat dilalui dengan berkuda.

Catatan: “Pal” adalah satuan jarak tradisional yang dipakai di Hindia Belanda pada masa lalu, termasuk di negeri Riau Lingga. Berasal dari bahasa Belanda paal = tiang/tonggak. Biasanya ditandai dengan tonggak dari batu/cor. 1 pal = 1506,943 meter ≈ 1,5 km. Orang pribumi menyebut ukuran jarak tersebut dengan nama ‘Batu’. Di masa setelah kemerdekaan, ukuran jarak antar batu direvisi menjadi = 1 km yang berimbas pada berubahnya lokasi-lokasi penempatan paal/batu sebagai penanda jaraknya.

Pemandangan pelabuhan Riouw terlihat dari darat, sekitar akhir abad 19 – awal abad 20. © Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak tumbuhan dan vegetasi di sekitarnya yang terlantar. Kemungkinan bekas ditebang. Namun secara umum, flora di pulau ini, sama seperti kebanyakan yang ada di pulau di negeri ini. Dahulu pasti sangat subur dan lebat. Seperti masih tampak dari sedikit hutan asli yang tersisa. Bahkan dari belukar yang perlahan-lahan pulih kembali ini, cukup mendominasi tumbuhan Rhedomyrtus tomentosa (Karamoentieng), dan Adinandra glabra (Tioep-tioep).

Tanah di Tandjong Pinang ini, terutama di jalan-jalan, humus dan tanah suburnya telah menyusut. Tidak ada yang tersisa selain kerikil (batu-batu kecil mengandung besi berwarna merah). Wilayahnya menjadi cukup tandus sekarang. Tanaman belukar yang sekarang tumbuh juga kurang subur. Budidaya Gambir secara besar-besaran dalam kurun puluhan tahun ini, banyak menyebabkan hilangnya permukaan subur pada tanah.

Kondisi satu ruas jalan di bandar Riouw (Tanjungpinang) sekitar tahun 1895, sesuai dengan penggambaran J.E. Teijsmann; tandus akibat eksploitasi penanaman gambir secara terus menerus selama puluhan tahun sebelumnya. © F. Weg naar het fort op Riouw (jalan menuju benteng Riau) oleh G.R. Lambert. Koleksi Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Batuannya mengandung besi yang lapuk, yang berubah menjadi lempung kuning. Ini terjadi karena tanah tidak digarap. Orang-orang di sini sebelumnya hanya memanfaatkan lapisan atas yang tertutup sedikit humus. Saat budidaya Gambir terus dilakukan,, maka tanah-tanah itu segera kehabisan unsur haranya.

Mengunjungi Senggarang

PADA tanggal 11 Juli 1872, saya ditemani oleh kontrolir Halewijn, dari pukul 6 sampai 12½ siang, melakukan perjalanan ke pulau Senggarang yang terletak di seberang bandar Riouw. Kami menggunakan perahu dan setelah berlayar sekitar seperempat jam, tiba di kampung orang Tionghoa Kanton. Kampung mereka, hampir seluruhnya dibangun di atas laut di atas tonggak-tonggak pada sepanjang tepi daratan.

Potongan peta pulau Senggarang dan pulau Riouw (Tanjungpinang) saat masih terpisah dari daratan utama pulau Bintan. Data dikumpulkan pada periode 1865 – 1867. © Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Begitu turun dari perahu, orang biasanya akan naik ke sebuah jembatan, yang tersusun dari bilah-bilah di atas tiang (pelantar, pen.), kemudian berjalan di atasnya. Seolah-olah melalui sebuah jalan dengan deretan panjang rumah di kedua sisi.

Sampai menginjak daratan, saya baru dapat merasa tenang mempercayakan kaki pada tanah. Sebelumnya saat berada di atas jembatan itu, perasaan sama sekali tidak demikian. Kita harus terus berhati-hati agar tidak menginjak tempat yang salah di antara bilah-bilah kayunya.

Pulau Senggarang ini, sebagian besar tanahnya sudah tandus karena budidaya gambir. Hutan-hutannya yang subur sudah hilang, digantikan oleh belukar-belukar kurus. Terutama dari jenis Adinandra. Namun begitu, masih ditemukan beberapa perkebunan gambir (ladang).

Saya bagaimanapun masih menemukan beberapa tumbuhan yang sangat diinginkan, di antaranya juga sebuah Quercus (sampenieng) yang sarat buah.

Tambang Batu dan P. Looz

PADA tanggal 16 Juli 1872, bersama residen Schiff dan kontrolir Halewijn, kami mengunjungi tambang batu di Tandjong Gliga di ujung barat pulau Senggarang. Lokasi tambang itu dikerjakan oleh orang Tionghoa. Untuk kegiatan penambangan di sana, mereka membayar retribusi bulanan sebesar f 50 kepada Yang Dipertuan Muda Riouw.

Batu pasir yang sangat keras itu dipahat lapis demi lapis. Dengan pahat juga, kemudian diselesaikan menjadi berbagai benda, hanya jarang dihaluskan.

Hasilnya bisa berupa batu lantai dengan berbagai ukuran, batu nisan, pilar, dan sebagainya, sesuai pesanan yang diinginkan. Biasanya, para penambang mengerjakan pesanan untuk pasar Singapura. Sisa yang tidak terjual ke Singapura, biasanya dibuat menjadi potongan-potongan berbentuk batu bata, sebagai pengganti batu bata.

Tambang-tambang ini terletak dekat dengan dinding karang di sekitar pantai. Para pekerja Tionghoa yang bekerja di sini mendapat upah harian dan dibayar menurut kecakapan mereka.

Dari tambang batu di Tandjoeng Gliga, kami menyeberang ke pulau kecil Looz. Dahulu, pulau itu diserahkan oleh Raja Muda (zaman pemerintahan Raja Ja’far, pen.) kepada Residen Riouw saat itu, ELout. Atas saran pemerintah Hindia Belanda di Batavia untuk menghindari anggapan praktik nepotisme, pulau itu kemudian diserahkan ELout kepada Perhimpunan Pekabaran Injil Rotterdam. Zendeling Wentink pun konon pernah tinggal di sana. Tetapi kini, seluruhnya ditinggalkan dan menjadi liar dan tak berpenghuni. Tanahnya tandus. Hanya beberapa pohon mangga berdiri tersebar di sana-sini. Selebihnya terlihat hanya beberapa pohon dan semak liar dan sebagian besar ditutupi pakis (Rèsam). Di pantai juga ditemukan juga Rhizophora.

Pulau Doempah yang Sepi

PADA tanggal 27 Juli 1872, Residen Riouw menyediakan bagi saya perahu Moona milik kontrolir Halewijn, dengan 9 awak. Saya juga diperkenalkan dengan Datoek Stia Aboe Hassan, yang akan menemani perjalanan panjang saya di negeri Riouw Lingga ini. Ia merupakan salah seorang Kepala pemerintahan pribumi yang paling cakap dan pelaut yang berpengalaman. Dahulu, ia menjadi seseorang yang paling ditakuti perompak laut.

Catatan: Moona merupakan kapal penumpang yang memiliki ukuran lebih besar daripada sekoci kapal. Ada ruang untuk penumpang dan bisa digunakan untuk menginap di dalamnya dan memuat barang. Biasanya digunakan sebagai sarana transportasi antar pulau di kepulauan Riau Lingga.

Kapal milik pemerintah kolonial (kiri, pen. ) yang biasa digunakan untuk pelayaran antar pulau di negeri Riouw Lingga masa lalu. Gouvernementsstomer Riouw in Riouw 1911, © F. Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Pukul setengah delapan, kami berangkat ke Pulau Doempah (pulau Dompak, pen.). Saat air surut, banyak gosong lumpur yang terlihat. Ada terlihat seekor kera abu-abu (Cercopithecus cynomolgus), duduk sambil menunggu buruan di lumpur. Kami mendarat agak lebih jauh dari kera itu, di pantai yang berpasir.

Pendaratan dilakukan menggunakan sebuah jukung kecil, sebab kapal Moona yang kami tumpangi tidak dapat mendekati pantai karena dangkal. Pantai di pulau Doempah ini, seperti biasa, sebagian besar ditumbuhi Rhizophora (Bakau). Sementara di tempat yang lebih terbuka dan berpasir, terlihat beberapa gubuk nelayan.

Lebih ke dalam, pada tanah yang lebih tinggi, masih ditemukan “hutan perawan” di pulau ini. Sementara di beberapa sisi lain, ada perkebunan tanaman gambir dan lada. Tanaman lada terlihat tumbuh dengan subur, namun tidak dengan Gambir yang pertumbuhannya tidak begitu bagus.

Kami berjalan atau lebih tepatnya merangkak sepanjang pantai, melalui semak-semak dan melewati medan bergelombang yang ditutupi hutan bakau yang masih perawan.

Akhirnya, setelah menerobos melalui alang-alang tinggi tanpa jalan, kami tiba di darat, dekat dengan kebun-kebun gambir. Dari sana kembali ke pantai, kami baru menemukan jalan setapak yang cukup baik. Perahu jukung kecil, kami seret melewati lumpur dan kemudian kami naiki kembali untuk menuju kapal Moona yang berada di perairan yang lebih dalam. Kondisi kami basah kuyup karena terus kemasukan gelombang saat menaiki jukung menuju kapal moona.

Hujan yang mulai turun disertai angin kencang, membuat kami memutuskan pulang. Kami tiba pukul 5 sore di bandar Riouw.

Riouw Lama yang Terbengkalai

PADA tanggal 29 Juli 1872, bersama Residen, kontrolir Halewijn dan Datoe Stia Aboe Hassan, kami menuju Riouw Lama menggunakan Moona. Saya diberitahu, ada makam para Sultan dan Raja terdahulu di sana. Letaknya agak masuk ke pedalaman, sekitar setengah jam perjalanan dari pantai di pulau Bintan.

Puing dan reruntuhan Istana lama Riouw, suasana sekitar tahun 1941 – 1953. © Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Di pantai, masih terlihat reruntuhan bekas kraton. Namun hampir seluruhnya tertutup akar pohon dan semak serta pakis. Di dekatnya masih ditemukan kebun-kebun luas, tetapi liar, dengan pohon buah-buahan. Ada mangga, manggis, rambutan, mindaroh (sejenis lengkeng), binjai atau kamang, rukem, rambai (lebih besar dari menteng), tampoi (Hedycarpus Malayanus) dan lain-lain.

Potongam peta ‘Kaart der residentie Riouw met onderhoorigheden, aangrenzende deel van Sumatra’s Westkust en schiereiland Malakka’. Pengumpulan data antara tahun 1833 – 1867. Terlihat bandar Riouw di pulau Riouw yang masih terpisah dengan pulau Bintan. Sementara kota lama (Riouw Lama) berada di hulu sungai Carang. Dibuat oleh W.F. Versteeg, tahun publikasi 1871. Koleksi Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Tanah di Riouw lama ini lebih subur daripada di Tandjong Pinang. Konturnya bergelombang naik sampai ke makam-makam. Kelihatannya, dahulu pernah menjadi lokasi tempat tinggal dan diupayakan pertaniannya. Saya tidak menemukan hutan, melainkan hanya pohon-pohon kayu muda dan kecil. Tanah di sini akan sangat cocok jika diupayakan untuk menanam padi di ladang kering atau untuk budidaya tanaman lain. Namun penduduk yang tersisa sedikit dan masih menetap di sini, lebih memilih kehidupan dari menangkap ikan. Mereka tidak memanfaatkannya untuk hal lain selain untuk kayu bangunan dan kayu bakar.

Makam Sultan Sulaiman I di Riouw lama sekitar tahun 1941 – 1953. © F. Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Untuk menuju Makam para sultan dan raja terdahulu di Riouw lama ini, tidak ada jalan setapak yang teratur. Lokasinya terletak di dua petak persegi yang berdampingan, dikelilingi tembok rendah dan tampak sangat terlantar. Seluruhnya tertutup rumput dan semak, sehingga kami bahkan tidak dapat dengan leluasa masuk ke sana.

Istana di pulau Basieng

PADA tanggal 30 Juli 1872, saya bersama Datoe Aboe Hassan mengunjungi pulau kecil Soreh yang berpasir dan datar. Tidak ada yang tumbuh selain pohon kelapa yang kurang terpelihara. Sementara di sekitarnya, ditumbuhi rumput dan semak kecil.

Sampai di sini dan lebih jauh kembali ke Pulau Basieng, kami menghadapi laut yang cukup berombak. Kapal Moona yang kami tumpangi terombang-ambing hebat. Air laut bahkan masuk dari haluan dan dari samping.

Di Pulau Basieng ada jembatan yang baik di laut untuk perahu dapat merapat dan mendarat (sejenis pelabuhan pelantar dari kayu, pen.). Di dekatnya juga berdiri sebuah rumah batu yang indah, beratap genting, milik Yang Dipertuan Muda Riouw. Dahulu, rumah istana ini, kadang-kadang menjadi tempat menginap Yang Dipertuan Muda Riouw bersama para istrinya. Seluruh pulau kecil ini tampaknya telah diubah menjadi sebuah taman pohon kelapa dan pohon buah-buahan lainnya.

Bekas-bekasnya masih ada. Namun sekarang, kesenangan sang raja muda tampaknya telah hilang. Yang Dipertuan Muda sudah jarang datang ke pulau ini. Hampir seluruhnya saat ini, telah berubah menjadi hutan belantara.

Tanah di pulau Basieng ini berbukit. Sebagian besarnya terdiri dari “kerikil” dan batu besi. Namun masih banyak pohon kelapa dan mangga tumbuh cukup baik di beberapa tempat. Pada bagian yang lebih tinggi, seluruhnya tertutup pohon liar, semak dan pakis (Gleichenia).

“Dolce far niente” di Kaki Gunung Bintan

TANGGAL 1 Agustus 1872, dengan kapal Moona dan ditemani oleh Datoe Stia Aboe Hassan, saya berangkat ke Bintan. Kami berlayar masuk ke kuala Sungai Bukit Batu. Namun, ketika tiba di depan kuala atau muara ke laut di sini, rombongan kami terhadang gosong lumpur yang luas. Gosong lumpur itu menghalangi perjalanan kami menggunakan Moona untuk masuk ke alur sungai.

Karena air sedang pasang, gosong itu tidak terlihat dan akhirnya membuat Moona kami kandas. Dengan beberapa upaya, akhirnya kami bisa lepas dari gosong lumpur itu.

Di muara ini, banyak pohon prapat (Sonneratia acida). Namun, semakin masuk ke hulu sungai, akan terlihat rimbunan bakau (Rhizophora), nyiri (Xylocarpus oboratus) dan beberapa tumbuhan lain.

Sungai ini berair asin. Pada awalnya cukup lebar untuk dilalui beberapa kapal. Tetapi, semakin dalam ke arah hulu sungai, kondisinya menjadi lebih dangkal. Akhirnya, menjadi begitu sempit sehingga kami dengan Moona tidak dapat maju lagi. Tiang-tiangnya mulai tersangkut di pepohonan.

Kami kemudian mencari anak sungai, yang menuju ke kaki pegunungan Bintan. Setelah berlayar cukup jauh ke dalam, rombongan kami berpapasan dengan warga di perahu lain. Ia menyebut kami salah arah dan menunjukkan arah yang benar. Karena tidak memungkinkan lagi menggunakan Moona di aliran sungai yang ditunjuknya, rombongan kemudian berpindah ke sampan kecil.

Perahu kecil/ Jung milik pemerintah Kolonial Belanda yang biasa digunakan untuk pendaratan atau menyusuri perairan yang sempit. © F. van C.H. de Goeje, 1911. Leiden University/ koleksi bintorosuryo.com

Akhirnya, setelah mengarungi rawa-rawa dan kemudian berjalan di daratan yang mendaki curam, kami tiba di kampung yang disebut Noyong. Sebuah perkampungan kecil yang hanya terdiri dari sepuluh rumah. Tidak ada penginapan, tetapi ada sebuah rumah kecil yang sedang dibangun. Lebarnya 10 kaki dan panjang 20 kaki. Untungnya telah memiliki atap, tetapi belum dipasangi lantai serta dinding. Kami memutuskan untuk menginap di sana dan memasang tikar-tikar kajang sebagai pengganti dinding dan lantai. Rasanya cukup nyaman untuk tempat bermalam.


DI kampung ini juga tinggal seseorang yang disebut Anak Raja. Ia termasuk dalam keluarga Yang Dipertuan Muda. Karena dihormati, ia seolah-olah memegang kekuasaan di kampung ini. Beberapa saat setelah kami memutuskan beristirahat di rumah yang belum jadi tersebut, ia datang dan menawarkan untuk menginap di kediamannya. Namun tawaran baik itu terpaksa kami tolak karena kami sudah merasa nyaman berada di penginapan sementara itu. Malam itu, kami memasak sendiri perbekalan makanan yang kami bawa dari bandar Riouw.

Di kaki gunung, tempat kami berada, tampak bongkahan-bongkahan batu raksasa. Beberapa di antaranya, seperti terlempar dan berada di sekitar area kampung. Padahal tidak ada jejak vulkanisme di gunung ini.

Di antara batuan tersebut, tumbuh pohon-pohon besar. Sementara di bagian lereng, pohon-pohon serupa kelihatannya telah ditebang. Sebagian lainnya dibakar. Batang-batangnya terlihat masih tergeletak di mana-mana, menunggu proses pembusukan. Di area bekas tebangan atau pembakaran, penduduk di kampung ini telah menggantinya dengan pohon pisang dan tanaman budidaya lainnya.

Lebih jauh di sepanjang kaki pegunungan, tanahnya terlihat datar bergelombang. Di bagian lainnya terdiri dari rawa-rawa. Ada juga kebun-kebun yang sudah berubah kembali menjadi hutan. Pada zaman dahulu, kelihatannya pernah ditanami berbagai jenis pohon buah-buahan. Namun oleh penduduk yang sekarang, tanaman-tanaman buah itu tidak dirawat atau dibudidaya kembali. Hanya pada musim buah, mereka mendirikan pondok di sekitarnya, untuk berjaga terhadap kera dan perampok yang ingin memanen buah-buahan di sana.

Alih-alih pada waktu itu membersihkan kebun dan mengisi ruang kosong dengan tanaman muda, mereka lebih mempraktikkan “dolce far niente” siang dan malam di pondok-pondok itu.

Catatan:
Dolce far niente, merupakan frasa bahasa Italia. Secara harfiah berarti: “Manisnya tidak melakukan apa-apa”
dolce = manis, nikmat
far = melakukan
niente = tidak ada/sesuatu yang sia-sia

Maksud dari ungkapan Teijmann adalah ‘Kenikmatan bermalas-malasan dengan tenang’. Bukan malas yang negatif, tapi menikmati waktu senggang tanpa beban, tanpa merasa bersalah. Duduk santai, ngopi, ngobrol ngalor-ngidul. Seni menikmati hidup yang pelan.

Ia menyindir orang Melayu di kebun buah Bintan yang cuma menunggu musim buah, membangun pondok, lalu bersantai jaga kebun sambil tidak melakukan apa-apa yang bermanfaat bagi kebun warisan tersebut. Tidak membersihkan kebun, tidak menanam ulang. Begitu panen selesai, ditinggal lagi.

Di antara pohon buah-buahan yang ada di sana, terdapat jenis-jenis berikut:

  • Bedaroh Nephelium eriopetalum
  • Kedompah. “. sp
  • Rambai Pierardia sp
  • Dukuh banang Hedvycarpus sp.
  • Tampea. “. sp.
  • Sentrang Artocarpus sp.
  • Kledang “. sp.
  • Tampang “. sp.

Selanjutnya jenis-jenis yang dikenal berikut:

  • Rambutan Nephelium appaceum
  • Pulasan “. mutabile
  • Doekoe. Lansium domesticum.
  • Cempedak Artocarpus polyphema.
  • Nangka “. integrifolia.
  • Manggis Garcinia mangostana.
  • Durian Durio Zibethinus.
  • Klampai Elateriospermum Tapos.
  • Mangga Mangifera diverse.
  • Bienjaai ” kamanga.
  • Keranjie Dialium indum.
  • Roekem Flacourtia div.
  • Sentoel Sandoricum. indicum.
  • Katjapie “. nervosum.
  • Pisang Musa div.
  • Petai Parkia speciosa.
  • Djerieng. Pithecolobium lobatum.
  • Kalapa Cocos nucifera.
    Kaboeng Arenga saccharifera.
  • Pinang Areca catechu.

(*)

Bersambung

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography. 
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan Bandar Riouw, batam, bintan, History, riau, sejarah, tanjungpinang, Teijsmann
Admin 3 Mei 2026 3 Mei 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

APA YANG BARU?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
Catatan Netizen 2 jam lalu 85 disimak
Waspada Penyakit Malaria di Tanjungpinang
Lingkungan 3 jam lalu 101 disimak
Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
Statistik 3 jam lalu 76 disimak
DPRD Batam Mau Bangun Pagar Gedung, Total Anggaran Rp6 Miliar
Artikel 3 jam lalu 105 disimak
Ratusan Pengajuan UWT Warga Puskopkar Batuaji Tertahan di BP Batam
Artikel 3 jam lalu 89 disimak

POPULER PEKAN INI

Italia Menolak Mentah-mentah Gagasan Pengganti Iran di Piala Dunia 2026
Sports 6 hari lalu 570 disimak
Bantuan Bioflok 2026: 96 Unit untuk 24 Kelompok Pembudidaya di Batam
Artikel 6 hari lalu 474 disimak
Harga Emas Antam Menguat Tajam di Akhir Pekan
Artikel 6 hari lalu 472 disimak
Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Curanmor di Tanjungpinang
Artikel 6 hari lalu 451 disimak
Polda Kepri Ungkap Jaringan Narkoba di Tanjungbalai Karimun
Artikel 6 hari lalu 419 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?