JUDUL di atas adalah salah satu sari dari pengalaman saya yang gemar jogging, setidaknya dalam 14 tahun terakhir. Setelah jogging pagi, biasanya, saya sempatkan “memanjakan diri” dengan mampir ke mana-mana saya suka.
Oleh: Sultan Yohana
Maklum, pengangguran. Hehehe. Kadangkala mampir kedai kopi, nongkrong sambil melototi orang-orang yang pergi kerja. Atau sekedar jalan ke mall cuci mata. Kadangpula blusukan ke pasar basah belanja kebutuhan sehari-hari. Sambil masih dengan pakaian jogging yang basah kuyub oleh keringat, dan sepatu lari; kaki-kaki saya justru akan terasa pegal dan linu-linu, setelah beberapa saat jalan kaki, “memanjakan diri” itu. Hal yang justru sebelumnya tidak saya rasakan saat lari.
Semula saya pikir, mungkin kaki kecapek’an. Lama-lama saya perhatikan, pegal-linu itu muncul setiap kali saya jalan kaki dengan sepatu lari. Saya tidak menemukan masalah serupa, manakala jalan dengan sepatu barefoot, boot, atau sandal jepit.
Penasaran, saya Googling ini masalah. Beberapa artikel yang saya baca menjelaskan, sepatu lari memang dirancang khusus untuk berlari, dan anatomi tubuh kita saat berlari dan jalan kaki, itu berbeda. Itu yang membuat sepatu lari tak bisa dipakai untuk jalan kaki dalam waktu yang lama/panjang.
Kita sering tergoda, saat mencoba sepatu lari yang memang dirancang sangat nyaman, empuk, dan ringan. Kita berpikir, semua kenyamanan yang ditawarkan sepatu lari, pasti sangat sip jika dipakai sehari-hari, jalan kaki. Tapi justru, sepengalaman saya, semua kenyamanan itu, bisa menjadi “bencana” yang menyakitkan.
Pernah, saat pelesir ke Taiwan, saya memakai sepatu running trail, karena saya pikir akan banyak naik-turun bentang alam saat pelesiran.
Di bandara Singapura, tiba-tiba kaki saya terasa sakit dengan hebat. Semula saya ndak tahu sakit itu disebabkan salah pilih sepatu. Setelah memastikan memang sepatu yang menjadi sumber sakit, sesampainya di Taiwan, hal pertama adalah membeli sepatu jalan. Rasa sakit itu, kemudian hilang, begitu sepatu berganti.
Jangan pernah pergi pelesiran dengan sepatu lari! Apalagi pelesirannya ke tempat yang mengharuskan banyak jalan kaki seperti di Singapura. Itu bisa membuat Anda benar-benar tersiksa, hingga terlupa menikmati pelesiran Anda.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.idÂ


