PEMERINTAH Kota (Pemko) Batam memulai langkah realisasi pembangunan Jalan Lingkar Selatan sebagai proyek infrastruktur jalan yang dirancang menjadi jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas utama kota.
Proyek dengan panjang total 9,94 kilometer ini menghubungkan kawasan Sei Beduk hingga Nongsa. Pada tahun ini, pembangunan memasuki tahap awal melalui alokasi anggaran sebesar Rp15 miliar yang bersumber dari APBD Kota Batam.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Metra Dinata, menjelaskan bahwa Jalan Lingkar Selatan merupakan bagian dari rencana pengembangan tiga jalan lingkar di Batam, yaitu Jalan Lingkar Selatan, Jalan Lingkar Tengah, dan Jalan Lingkar Utara.
Metra menyebutkan, sempat muncul estimasi kebutuhan anggaran sebesar Rp130,78 miliar, namun angka tersebut masih bersifat perkiraan awal dan belum menjadi nilai final keseluruhan proyek. Menurutnya, proses perencanaan masih berjalan dan akan disesuaikan dengan tahapan pekerjaan tiap tahun.
Ia menambahkan, anggaran Rp15 miliar pada 2026 hanya digunakan untuk pekerjaan tahap awal Jalan Lingkar Selatan sepanjang sekitar dua kilometer lebih. Pembangunan keseluruhan ditargetkan rampung secara bertahap hingga tahun 2029.
“Tahun ini dimulai Jalan Lingkar Selatan dulu. Insya Allah tahun depan ruas lainnya mulai berjalan,” kata Metra, Kamis (18/6) siang.
Jalur alternatif untuk kurangi beban Jalan Ahmad Yani
Pemko Batam menilai Jalan Lingkar Selatan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi beban lalu lintas yang selama ini terpusat di koridor Jalan Ahmad Yani, terutama pada titik-titik yang kerap padat.
Metra menyampaikan, kendaraan dari Batuaji, Sagulung, serta kawasan industri Mukakuning yang hendak menuju Kabil, Punggur, atau Nongsa tidak harus lagi melewati area Batam Center dan sekitar Simpang Kepri Mall. Pengendara, lanjutnya, bisa menggunakan rute alternatif melalui Muka Kuning, Jalan S. Parman, Sei Pancur hingga menuju kawasan Bagan dan Sei Beduk.
Dengan bertambahnya pilihan rute, pemerintah berharap arus kendaraan pada jam sibuk pagi dan sore dapat lebih terurai, sehingga kemacetan rutin di jam-jam berangkat dan pulang kerja dapat berkurang.
Metra juga menyatakan, keputusan pembangunan jalan lingkar telah didahului kajian lalu lintas. Hasil kajian menunjukkan kebutuhan jalur alternatif semakin mendesak seiring pertumbuhan penduduk dan kendaraan di Batam, sementara mobilitas warga masih sangat bergantung pada Jalan Ahmad Yani.
Dorong pemerataan dan pertumbuhan kawasan selatan
Selain ditujukan untuk mengurangi kemacetan, proyek Jalan Lingkar Selatan juga diproyeksikan membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di wilayah selatan Batam yang dinilai belum berkembang optimal. Akses jalan yang lebih baik diharapkan dapat mendorong tumbuhnya permukiman, perdagangan, jasa, hingga investasi di sepanjang koridor yang dilalui.
Pemko Batam menargetkan, jaringan jalan lingkar dapat membantu pemerataan pembangunan agar aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di Batam Center. Metra menegaskan proyek ini bukan semata membangun jalan baru, melainkan strategi menyiapkan kapasitas infrastruktur Batam menghadapi pertumbuhan penduduk dan investasi beberapa tahun ke depan.
Meski begitu, pembangunan akan berjalan bertahap mengikuti kemampuan keuangan daerah. Pemko Batam menargetkan Jalan Lingkar Selatan menjadi salah satu tulang punggung konektivitas baru kota saat seluruh jaringan jalan lingkar selesai dibangun pada 2029.
(dha)


