PEMERINTAH melalui Badan Pengusahaan (BP) Batam bersiap mengambil langkah darurat menyusul kembali terancam amblasnya Jalan Gajah Mada menuju Jembatan Sei Ladi. Jalur alternatif di kawasan pemakaman Tionghoa kini tengah disiapkan jika jalan utama tersebut harus ditutup total demi keselamatan pengendara.
Deputi Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menyatakan bahwa penanganan masalah pergerakan tanah di lokasi tersebut sebenarnya telah melibatkan tim ahli dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Meski sempat dinyatakan stabil pada musim kemarau lalu, kondisi tanah mendadak memburuk akibat tingginya curah hujan dalam tiga bulan terakhir.
“Kondisi tanah kembali bergeser setelah Batam terus-menerus diguyur hujan deras, yang juga dipicu oleh operasi modifikasi cuaca,” ujar Mouris, Jumat (31/7/2026).
Hasil investigasi terbaru menggunakan metode geolistrik menunjukkan adanya anomali profil tanah yang cukup ekstrem di lokasi tersebut, yakni Titik Dangkal: Kedalaman tanah keras berada di posisi 8 meter serta Titik Dalam: Hanya berjarak beberapa meter dari titik pertama, kedalaman tanah keras melonjak hingga 18 meter.
Mouris mengakui adanya ketidaktepatan pada kajian awal akibat jarak pengambilan sampel yang terlalu jauh. Saat ini, tim teknis telah menambah titik pengujian untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Rekomendasi teknis serta keputusan final dari Kementerian PU dijadwalkan keluar pada minggu depan.
Pengalihan Arus Lalu Lintas
GUNA mengantisipasi penutupan mendadak jika kondisi memburuk, BP Batam mulai mematangkan skema pengalihan arus lalu lintas melalui kawasan pemakaman Tionghoa.
Jalur alternatif tersebut saat ini sedang dimodifikasi menjadi dua arah untuk menampung kendaraan yang menuju ke arah Sekupang maupun Batam Center.
BP Batam meminta seluruh pengguna jalan yang melintasi kawasan Gajah Mada–Sei Ladi untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati hingga penanganan permanen resmi diterapkan.
(dha)


