UPAYA memperkuat ketahanan pangan dan keberlanjutan sektor pertanian di kawasan Asia-Pasifik dijalin melalui program transnational education (TNE) pertama milik Faculty of Science, University of Melbourne yang merangkul Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam sebuah skema kolaborasi pendidikan global.
Pengumuman kerja sama strategis ini disampaikan langsung oleh Pro Vice-Chancellor (Global) University of Melbourne, Professor Frank Vetere, di Jakarta. Melalui kemitraan ini, mahasiswa Indonesia ditawarkan model studi dua tahun: menempuh tahun pertama di perguruan tinggi asal (IPB atau UGM), lalu melanjutkannya di University of Melbourne pada tahun kedua.
Sementara itu, Dean of Science University of Melbourne, Professor Moira O’Bryan, menegaskan bahwa Australia dan Indonesia menghadapi tantangan serupa sebagai negara tetangga dalam membangun sistem pangan yang tangguh. Penyatuan kekuatan riset dan pendidikan ini diproyeksikan memberi dampak nyata bagi kawasan.
“Sebagai dua negara yang bertetangga dekat, Australia dan Indonesia memiliki peluang sekaligus tantangan yang serupa dalam membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan tangguh,” ujar Professor O’Bryan dalam rilis yang diterima GoWest.ID.
Dari kacamata para akademisi, kolaborasi ini membawa fokus yang saling melengkapi:
- Inovasi dan Keberlanjutan Sistem Pangan: Head of the School of Agriculture, Food and Ecosystem Sciences University of Melbourne, Professor Giovani Turchini, menilai kolaborasi ini akan memperluas jejaring alumni, memperkuat hubungan bilateral, serta mendorong perubahan positif di bidang agribisnis.
- Daya Saing Agribisnis Global: Dean of Economics and Management IPB, Professor Irfan Syauqi Beik, menyebut kerja sama ini menggabungkan keahlian puluhan tahun IPB dalam pertanian tropis dengan kapasitas riset University of Melbourne untuk menjawab tantangan ketahanan pangan.
- Teknologi dan Pengalaman Lintas Budaya: Dean of Agricultural Technology UGM, Professor Eni Harmayani, menekankan pentingnya pendidikan berstandar internasional dan kolaborasi riset agar lulusan siap menghadapi kompleksitas industri agri-food serta menjadi pemimpin masa depan.
Integrasi akademis antar-tiga institusi terkemuka ini diharapkan tidak hanya memperluas wawasan lintas budaya para mahasiswa, tetapi juga melahirkan inovasi riset jangka panjang demi sistem pangan global yang lebih sustain.
(ham)


