NASIB 1.025 karyawan PT Ghim Li Indonesia masih menggantung di bawah dua tenda biru di depan gerbang perusahaan. Sudah 21 hari—sejak 7 September—mereka bergantian menjaga aset pabrik sekaligus menuntut kepastian gaji, pesangon, dan kompensasi ketenagakerjaan yang belum dituntaskan manajemen.
Meski hujan deras mengguyur Batam sepanjang Minggu (27/9), para pekerja menolak bergeser. Pembagian tugas dilakukan ketat: buruh pria berjaga malam, sementara pekerja perempuan bersiaga dari pagi hingga sore. Pada hari kerja (Senin–Jumat), mereka tetap melakukan absensi di lokasi.
Di tengah penantian tanpa kepastian, kelangsungan hidup para buruh sepenuhnya bergantung pada donasi warga dan patungan sesama pekerja. Bantuan seperti beras, ikan, atau minyak goreng datang tidak menentu. Jika donasi kosong dan tak ada uang tersisa, mi instan jadi satu-satunya pilihan ganjal perut.
Seorang pekerja bagian sewing yang sudah bekerja sejak 2008, mengungkapkan bahwa krisis yang mereka hadapi juga mengancam keluarga di rumah.
“Okelah kami di sini bisa makan karena ada donatur. Tapi keluarga di rumah kami tidak tahu makan apa. Di sini kami kenyang, tapi keluarga di rumah belum tentu,” kata pekerja bernama Olidawati pada Minggu (27/9).
Ia mendesak pemerintah dan perusahaan segera menyelesaikan pembayaran hak mereka.
Kasus ini juga menyeret keterkaitan dengan PT Gelora Indah Tunas. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepri, Diky Wijaya, sebelumnya menyatakan tim gabungan Kepri dan Pemko Batam telah menelusuri masalah hak pesangon hingga ke Jakarta dan Bekasi pada Kamis (24/9/2026).
Pemerintah dijadwalkan kembali menggelar rapat koordinasi untuk membahas nasib 1.025 pekerja tersebut pada Senin (28/9/2026) pukul 15.00 WIB.
Hingga ada keputusan resmi, 1.025 buruh menegaskan akan tetap bertahan di tenda perjuangan sampai hak mereka dilunasi.
(dha)


