- Nama: Pulau Pengujan
- Luas Wilayah: ± 53,35 kilometer persegi (sebagai sebuah desa).
- Jumlah Penduduk: 1395 jiwa
- Tata Pemerintahan: Secara administratif berstatus sebuah desa di bawah kecamatan Teluk Bintan, kabupaten Bintan
PULAU Pengujan adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Selat Bintan dan secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau yang tenang dan asri ini menyimpan nilai sejarah Melayu yang sangat tinggi serta potensi wisata budaya yang kuat.
Secara tata pemerintahan, Pulau Pengujan masuk ke dalam status administrasi Desa. Wilayah ini dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kades) dan secara hierarki berada di bawah Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.
Masa lalu
BERDASARKAN catatan kolonial Belanda dari akhir abad ke-19 yang ditulis oleh J.G. Schot dalam laporannya yang terkenal, “Bijdrage tot de Kennis van Oud Bintan“ (Sumbangan Bagi Pengetahuan Tentang Kawasan Bintan Lama), Pulau Pengujan digambarkan sebagai kawasan yang sangat penting dalam lanskap sejarah Kerajaan Bintan Kuno.
Schot mencatat bahwa pada masa lampau, wilayah Teluk Bintan merupakan kawasan yang sangat ramai oleh interaksi para pedagang dari berbagai penjuru beserta kapal-kapalnya. Dalam konstelasi geografis tersebut, Pulau Pengujan yang terletak tepat di hadapan teluk menjadi titik strategis yang sangat penting sejak masa Kerajaan Bintan Kuno (era pra-Islam), jauh sebelum berdirinya Kesultanan Malaka, Johor, hingga Riau-Lingga.
Hubungan antara Pulau Pengujan dengan memori kolektif Kerajaan Bintan Kuno sangat mendalam. Terutama jika menilik teks klasik Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) serta catatan perjalanan para peneliti botani dan kolonial Belanda abad ke-19.
Dalam narasi sejarah Melayu Kuno, Pulau Pengujan dan wilayah Selat Bintan merupakan bagian dari teritori inti Kerajaan Bintan (Bentan) Kuno. Kerajaan ini kala itu dipimpin oleh seorang ratu legendaris bernama Wan Sri Beni (Permaisuri Kuripan). Dalam sebuah legenda di ‘Sejarah Melayu’ rombongan bangsawan Bintan menjemput Sang Nila Utama (Sri Tri Buana) saat mengetahui kedatangannya dari bukit Siguntang melalui wilayah ujung pulau Pengujan yang saat itu disebut Tanjung Rangas (Roengoes).

Sementara itu, dalam catatan ahli botani terkenal asal Belanda, Johannes Elias Teijsmann (J.E. Teijsmann) yang melakukan ekspedisi di Bintan pada tahun 1872, ia mencatat keberadaan sebuah makam kuno. Oleh masyarakat setempat masa itu disebut “Makam Keramat Panjang”. Teijsmann mencatat bahwa makam itu sangat dikeramatkan dan disakralkan oleh penduduk setempat. Dari hasil pengamatannya, makam panjang tersebut ditaksir telah berusia ratusan tahun sebelum masa pencatatannya tahun 1872.

Dalam laporannya, Teijsmann menggambarkan bahwa kawasan sekitar makam dan Pulau Pengujan saat itu masih dikelilingi oleh vegetasi yang sangat lebat dan jalur perairan yang menantang. Catatannya berfokus pada bagaimana situs keramat ini menjadi “titik jangkar” spiritual di tengah kehidupan masyarakat Melayu dan komunitas Tionghoa yang mulai mendiami alur-alur sungai di pedalaman Bintan pada masa itu.
Tempat Tinggal Raja Ali Haji
PADA paruh kedua abad ke-19, tepatnya kisaran tahun 1860-an, pulau kecil yang tenang ini juga sempat dijadikan tempat tinggal Raja Ali Haji, selain di pulau Penyengat.
Jejak kehidupan Raja Ali Haji di Pulau Pengujan terdokumentasi melalui korespondensi pribadinya dengan seorang ahli bahasa asal Jerman-Belanda, Herman von de Wall. Dalam sepucuk surat bertarikh Oktober 1862, Raja Ali Haji mengabarkan aktivitasnya di pulau tersebut:
“…kita ada sedikit lagi kerja kita di Pengujan menyudahkan pondok-pondok tempat anak-anak yang mengaji…”
Di pulau ini, Raja Ali Haji mendirikan sembilan buah pondok sederhana berdinding kajang yang ternaung di bawah rimbunnya pohon-pohon kelapa. Salah satu pondok tersebut difungsikan khusus sebagai petirahan atau kediaman pribadinya untuk menyendiri, beristirahat selama berminggu-minggu, serta melanjutkan beberapa karya tulisnya karena suasananya yang sangat damai dan asri.
Di Pulau Pengujan, ia juga melakoni peran sebagai seorang kepala keluarga dan guru.
Sebagai penasihat keagamaan, penghasilan resmi dari istana kala itu tidak selalu memadai untuk membiayai keluarga besar dan para muridnya. Sebagai solusi mandiri, Raja Ali Haji memanfaatkan kesuburan tanah Pengujan untuk bercocok tanam, memelihara hewan ternak seperti lembu (sapi) dan kambing, hingga berdagang kecil-kecilan demi menopang operasional kehidupan di sana
Masa Kini
SAAT ini, Pulau Pengujan telah menjelma menjadi sebuah desa yang dinamis tanpa kehilangan identitas kultural dan spiritualnya, menjadi perpaduan unik antara denyut pembangunan daerah dan keasrian alam pesisir.

Perubahan paling signifikan dalam lanskap Pulau Pengujan modern adalah berdirinya Jembatan Pengujan. Selesai dibangun dan diresmimenkan melalui agenda “Kenduri Rakyat”, jembatan sepanjang 280 meter ini membentang kokoh menghubungkan daratan utama (mainland) Bintan dengan area pulau (Dusun I dan Dusun II).
Sebelum adanya jembatan ini, mobilitas warga dan arus logistik sepenuhnya bergantung pada perahu penyeberangan tradisional (pompong).

Kehadiran jembatan ini otomatis membuka isolasi geografis, memperlancar mobilitas anak-anak sekolah, serta memangkas waktu distribusi hasil laut nelayan setempat ke pasar utama di Bintan maupun Kota Tanjungpinang. Pembangunan infrastruktur pendukung di pulau ini pun terus digulirkan lewat program semenisasi jalan desa demi menunjang aktivitas harian warga.

Sektor kelautan tetap menjadi napas utama perekonomian Desa Pengujan. Pulau ini dikenal luas sebagai salah satu pusat budidaya laut potensial di Kabupaten Bintan, khususnya untuk komoditas ikan kerapu dan kakap putih melalui metode Keramba Jaring Apung (KJA), serta penangkapan komoditas khas seperti seafood gonggong.
(ham)


