Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pendaftaran Diperpanjang Lagi, Pemko Siapkan 3.000 Agen Perlinsos Jemput Bola
    2 jam lalu
    Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
    14 jam lalu
    Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
    14 jam lalu
    Polisi Jaring 33 Motor Berknalpot Brong di Batam
    18 jam lalu
    Kemkomdigi Desak Operator Eksekusi Utuh Putusan MK Soal Kuota Internet
    18 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
    1 jam lalu
    Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
    14 jam lalu
    Kontingen SMAN 1 Tanjungpinang Sabet 19 Medali Asia Pasifik
    18 jam lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Menang Dramatis 9-2 Atas Bangladesh, Indonesia Singkirkan Malaysia
    3 hari lalu
    FIFA ASEAN Cup 2026, Laga Lawan Bangladesh Timnas Garuda Harus Menang Besar
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    4 hari lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    6 hari lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    6 hari lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan

Bintan 1883: Catatan J.G. Schot (Bagian 1)

Editor Admin 39 menit lalu 154 disimak
Ilustrasi, sebuah lukisan yang menggambarkan teluk Riau dengan kapal-kapal layar, waktu pembuatan sekitar tahun 1867. Tampak belakang gunung Bintan yang menjulang. © KITLVDisediakan oleh GoWest.ID

“Peluru-peluru ini ditemukan di hulu Soengei Bĕrĕ, yaitu sebuah anak sungai dari Soengei Bintan. Berada pada kedalaman kira-kira 1 kaki di dalam tanah.”

Daftar Isi
Kunjungan Perdana ke BintanKembali Mengunjungi BintanKampung-Kampung Di Teluk BintanMenyusuri Sungai Bintan

…

“Teluk Bintan dapat disimpulkan; membentang dimulai di antara Poelau Loos dan Tandjong Rangas yang terletak pada pulau kecil Pëngoedjan, yang dipisahkan dari Bintan Utara oleh Sëlat Bintan.”

Oleh: Bintoro Suryo


CATATAN perjalanan tentang Bintan yang ditulis oleh seorang kontrolir kepulauan Batam, J.G. Schot menarik untuk disimak. Melalui jurnal yang ditulis secara memoar, ia berusaha membandingkan langsung temuan lapangannya dengan kronik ‘Sejarah Melayu’ karya Tun Sri Lanang tentang masa lalu Bintan.

Ia menjelajahi wilayah itu sekitar tahun 1883. Bukan sebagai pegawai pemerintah Kolonial Hindia Belanda; seperti halnya penjelajahan di kepulauan Batam yang dituliskan pada dokumen : ‘De Battam Archipel’, 1882′, melainkan secara pribadi.

Perjalanan dan penelusurannya ke pulau Bintan masa itu, merupakan perjalanan yang didasari rasa penasaran. Hanya ditemani beberapa orang pribumi.

“Perjalanan ini, harus saya sampaikan terlebih dahulu; sebagai akibat dari beberapa informasi tentang penggalian dan penemuan benda purbakala yang pernah dilakukan sebelumnya di wilayah Bintan.” (J.G. Schot, Bijdrage tot de kennis Van oud Bintan, 1889)

Catatan perjalanannya di Bintan, baru diselesaikannya pada 1888, saat ia bertugas di karesidenan Sumatra Barat.

Saya membagi jurnal memoarnya yang dipublikasi di majalah ‘Tijdschrift voor Indische Taal, Land En Volkenkunde, 1889’ dalam dua bagian.

Beberapa catatan menariknya pada bagian ini; misalnya saat ia mengunjungi perairan di sekitar teluk Bintan. Ia mencatat nama kuno ‘Tanjung Rangas’ saat menapaktilasi kisah kedatangan Sri Tri Buana (dalam memoar, ia menuliskannya : Sri Tri Boeana) pada kronik ‘Sejarah Melayu’.

Saat menyusuri sungai Bintan, ia mencatat sebuah kangka Tionghoa yang ramai, dikenal sebagai Kangboi. Namun dalam penuturan pribumi Melayu, wilayah itu sebenarnya bernama Sungai Dukuh (Schot mencatatnya sebagai : Soengei Doekoeh).

“Lebih jauh lagi, terletak Soengei Bintan. Lokasinya berada di sekitar Gunung Bintan. Di sekitar wilayah itu, tinggal sebagian besar suku Bintan.“ (J.G. Schot, Bijdrage tot de kennis Van oud Bintan, 1889)

Berikut catatannya pada bagian pertama.


Sumbangan Untuk Pengetahuan Tentang Bintan Kuno

MENURUT Sejarah Melayu, pada zaman dahulu kala, seorang Sri Tri Buana dari Perlembang (Palembang) konon berlayar ke teluk Amphitrite dan dari sana melanjutkan perjalanan ke utara menyusuri Lingga menuju Selat Sembu.

Bintan (بنتان) dan bukan Bintang adalah nama yang benar. Seperti sudah lama diketahui, namun di sini mungkin perlu ditegaskan sekali lagi.

Mengenai puncak Lingga juga disebutkan dalam Sejarah Melayu bahwa Sri Tri Buana, ketika ia berada di teluk Amphitrite, melihat sebuah pegunungan; lalu ia bertanya kepada para pengikutnya: “Apakah itu dua buah gunung?”, dan mereka menjawab bahwa itu adalah Gunung Lingga.

Kini pegunungan Lingga dikenali dari dua puncaknya yang sangat mencolok. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat, biasa disebut “telinga keledai”; ini tampaknya juga menarik perhatian penduduk asli. Sedangkan dari cerita itu tampak bahwa di dalamnya terlihat sesuatu yang istimewa, sehingga orang secara tidak sadar teringat pada legenda lain yang masih beredar di kalangan penduduk. Menurut legenda itu, gunung itu dulunya memiliki tiga puncak, yang salah satunya, pada saat cuaca yang paling mengerikan, telah runtuh ke dalam jurang.

Jika legenda terakhir ini benar dan pegunungan Lingga memang pernah memiliki tiga puncak, dan Sri Tri Buana, pada saat ia tiba di teluk Amphitrite, masih bisa bertanya “Apakah itu dua buah gunung?”, maka jika seseorang ingin atau boleh menyimpulkan sesuatu darinya, dapat disimpulkan kira-kira sudah berapa lama waktu yang telah berlalu sejak letusan gunung berapi purba terakhir yang pernah terjadi di sana.

Putri Bintan, Wan Sri Binai, putri dari almarhum raja Banglong, setelah mendengar hal ini. Ia lalu mengirim dua orang menterinya, Indra Boepala dan Arja Boepala, untuk menyambut orang asing itu, dengan perintah untuk mengakuinya sebagai suaminya; jika ia kira-kira seusia dengannya, dan sebagai anak, jika ia masih seorang pemuda atau anak laki-laki.

Para menteri itu berangkat dengan armada dari Tandjong Rangas menuju Selat Sëmboe, di mana mereka bertemu Sri Tri Boeana, dan mengantarkannya dari sana ke Bintan.

Potongan peta: Tandjoengpinang, D D 32,16 tahun 1946, memperlihatkan lokasi Tanjung Rungus/Rangas yang berada di ujung pulau Pengujan (Pengoedjan) seperti disebutkan dalam kronik “Sejarah Melayu’ dan catatan J.G. Schot. © KITLV

Menurut cerita, pada masa itu terdapat begitu banyak kapal dari berbagai jenis di perairan itu, seperti: kapal lantjaran bertiang tiga, soeloer, dandang dan djoerang, sehingga dari Poelau Karas sampai Tandjong Rangas, laut seolah-olah tertutup oleh hutan tiang kapal yang rapat.

Potongan peta ‘Samboe, D D 32,8’ tahun 1946 memperlihatkan pulau Sambu (Semboe) dan selat pemisah dengan pulau Belakang Padang di kepulauan Batam. © KITLV

Pada masa itu juga perlu diketahui bahwa kapal-kapal dagang, seperti bidar dan _banting, agar pintu masuk ke teluk Bintan tidak terhambat, memberi ruang dengan berlabuh jauh di dalam teluk atau di luarnya.


Catatan:

Tanjung Rangas: pada masa itu, juga disebut dengan nama Roengoos (روڠڬوس).
Semboe: Samboe/
Sambu merupakan sebuah pulau di sebelah Timur pulau Galang, sekitar 2½ sampai 3 jam dengan kapal uap dari Tandjong Rangas. Berdasar catatan, bisa diketahui bahwa Tanjung Rangas terletak di sekitar teluk Bintan.
Banting: adalah nama jenis kapal dagang pada masa lalu yang dikenal oleh masyarakat Bintan.
Teluk Bintan: wilayah teluk itu diperkirakan memiliki kedalaman yang lebih besar pada masa lalu. Secara alami memberikan lebih banyak kesempatan bagi kapal-kapal dagang untuk berlabuh.

Semua pelabuhan di Bintan, termasuk yang di Riouw, semakin lama semakin rusak. Di teluk Riouw pada masa itu, ketika di Pulau Bajam (Bayan) masih ada benteng orang Bugis, kapal-kapal perang Kompeni bisa berlabuh tepat di dekat benteng itu. Kini saat surut, semuanya menjadi kering di depan dan belakang Bajam, sehingga bersama Tandjong Pinang menjadi satu kesatuan.


Setelah kedatangan Sri Tri Boeana di Bintan, Bamban (Tanjung Bemban di pulau Batam) dan Singapura, agama Islam kemudian dianut oleh para penguasa daerah-daerah itu. Dengan perhitungan global, paling tidak 600 tahun yang lalu “Ezelsoren” sudah dianggap sebagai ciri khas dari pegunungan Lingga.


Catatan:

Ezelsoren: bahasa Belanda untuk menyebut ‘Telinga Keledai’ pada dua puncak gunung Daik.


Selat Sëmboe terletak di dekat Galang, mengalir melalui pulau Sëmboe. Silahkan lihat peta saya yang ada pada dokumen Ind. Gids terbitan Agustus 1882.

Peta Kepulauan Batam dalam dokumen ‘Indische Gids, 1882.

Sisa-sisa benteng tua dari batu yang dibangun orang Bugis masih dapat dilihat di Pulau Bajam.

Pada masa ini timbullah lagu/pantun:

Telok Bintan palaboehan banting, Tempat mengail parang-parang
Muka hitam, pinggangnja ramping
Bagai boenga soedah dikarang


Catatan:
Parang-parang: Ikan yang panjang, bersisik keperakan, bergerigi, yang kecil dan belum dewasa juga disebut paraoetan.
Muka Hitam: Hitam, sebagaimana digunakan di sini untuk menyebut ‘hitam manis’ (kuning kecoklatan atau kuning kehitaman). Merupakan warna yang sangat terkenal dan disukai. Air di teluk Bintan saat itu juga berwarna kuning seperti lumpur, sehingga dalam lagu itu muncul ungkapan ‘muka hitam’. Begitu juga ‘pinggangnya ramping’, mengacu pada sempitnya teluk yang saat itu lebih menjorok ke darat.
Pelabuhan Banting: Teluk Bintan adalah tempat berlabuhnya kapal dagang ‘banting’ dan tempat untuk memancing ikan ‘parang-parang’. (Dengan parang-parang maksudnya mengait. Bentuk luarnya yang agak gelap dan tubuhnya yang ramping menyerupai seuntai bunga).
Sri Tri Boeana menetap di Teluk Bintan.
Dengan ejaan ‘i’ yang diucapkan, lihat tulisan saya tentang Batam di Ind. Gids 1882, di mana urutannya juga dieja demikian.


Setelah Sri Tri Boeana disambut secara meriah, ia, karena tampak lebih muda dari sang putri, diterima sebagai anak oleh Wan Sri Binai, sehingga ia menjadi Baginda Poetra.

Pendampingnya, Demang Lebar Daoen diangkat menjadi Bandahara dan para menteri Indra Boepala dan Arja Boepala diangkat menjadi Penghulu Hakim.

Walaupun membaca ini, seperti halnya setiap kisah Timur lainnya, agak seperti dilebih-lebihkan.

Orang mulai tanpa sadar percaya akan kemegahan tertentu di masa lalu, yang terpancar di kerajaan kecil Bintan masa lalu. Dan meskipun kemudian para raja Bintan pindah ke Singapura, kemudian lagi ke Malaka dan Johor, sementara sekarang pusat kerajaan berada di Lingga dan Pulau Pënjingat, namun mungkin saja daerah sekitar teluk Bintan masih dapat menghasilkan sesuatu yang mengingatkan pada masa-masa silam atau menggemakan kemasyhuran masa lalu.

Untuk menyelidiki hal ini, saya memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari di daerah sekitar teluk Bintan.

Kunjungan Perdana ke Bintan

SEBENARNYA saya sudah pernah mengunjungi wilayah ini pada beberapa waktu lalu. Saat itu dalam kunjungan libur ke Riouw (Tanjungpinang) untuk waktu yang singkat selama sehari dari Batam (J.G. Schot sempat menjadi kontrolir kepulauan Batam yang bertugas di pulau Boyan, pen.).

Saya menyempatkan untuk datang ke teluk Bintan, khususnya ke Soengei Doekoeh (disebut Kangboi oleh orang Tionghoa). Di lokasi itu, saya menemani Residen yang ingin memeriksa sebuah perkebunan lada. Tetapi kami tidak melihat hal yang istimewa saat itu.

Yang kami temui di sana adalah sebagai berikut:

  • Beberapa alat penangkap ikan besar (tangkoel towas) di dalam dan tepat di luar teluk.
  • Sebuah kangka yang sangat rusak dan kotor, penuh babi dan beberapa orang Tionghoa kotor yang berbau opium, di antaranya taulo
  • Sebuah tëpeikong yang masih cukup baik, dan
  • Rumah kediaman taulo yang hampir roboh, beratap kadjang, dilengkapi dengan sepasang bangku kasar yang rusak dan sebuah meja kotor, yang menurut kebiasaan hanya dibersihkan setahun sekali, yaitu pada Tahun Baru Tionghoa.

Catatan:
Tangkoel Toewas: Jaring penangkap ikan besar yang dipasang di tiang-tiang.
Kangka: Sebuah tempat di perkebunan, di mana terdapat kuil, rumah pajak (yang biasanya juga rumah taulo) dan beberapa kedai (warung), serta tempat pendaratan untuk tongkang. Perkampungan kecil orang Tionghoa di dekat perkebunan yang mereka garap.
Poekat: perahu kecil lain yang digunakan untuk mengangkut gambir dan lada.
Taulo: Kepala kampung Tionghoa.
Tepeikong: rumah ibadah orang Tionghoa. Meskipun kata ‘tëpeikong’ bermakna nama dewa, namun secara umum oleh orang Melayu dan Tionghoa di perkebunan Riouw dan Batam, kuil klenteng seperti itu disebut dengan nama ‘tëpeikong’. Apakah penggunaan ini harus dianggap berasal dari penyingkatan roemah tëpeikong, saya tidak berani mengatakan. Namun ini cukup masuk akal.
Kadjang: Anyaman dari daun bĕngkoewang yang dikeringkan.


Untungnya kami mendapat hiburan dalam bentuk jalan kaki menyusuri jalan hutan yang panjang dan tidak indah, yang membawa kami ke tempat pendaratan yang lebih rendah. Di sini kami naik kembali ke perahu yang membawa kami kembali ke kapal, tempat kami tiba (di Tanjungpinang) cukup larut.

Kesan yang saya dapat saat itu tentang teluk Bintan dan sekitarnya adalah bahwa pada masa sekarang, teluk itu saat surut pasti kering setengahnya, kalau tidak lebih, dan bahwa daerah sekitar teluk itu tidak terlalu penting. Saya juga mengetahui bahwa di teluk Bintan ada ikan dan sejenis tiram yang ditangkap, kemudian diperdagangkan di pasar ikan atau dijual dari rumah ke rumah di Riouw.

Potongan peta: ‘Boesoeng’ tahun 1946 yang memperlihatkan lokasi teluk Bintan. © KITLV

Betapa pun kurang baiknya kesan itu, hal itu tidak menghilangkan dugaan saya bahwa masih ada lebih banyak yang bisa ditemukan. Saya pun berpikir harus ke sana lagi untuk melihat apakah dugaan saya keliru.

Saya memilih untuk melakukan perjalanan kedua ini sendirian. Kali ini tidak pergi sebagai pejabat, karena dengan cara bepergian seperti itu orang biasanya jauh lebih sedikit dapat bergaul dengan tulus dengan penduduk setempat. Atau mendapat informasi apa pun dari mereka dibandingkan dalam keadaan lain.

Kembali Mengunjungi Bintan

PERJALANAN ini, harus saya sampaikan terlebih dahulu; sebagai akibat dari beberapa informasi tentang penggalian dan penemuan benda purbakala yang pernah dilakukan sebelumnya di wilayah Bintan.

Meskipun karena waktu yang terlalu singkat yang bisa digunakan, penelitian itu secara relatif hanya menghasilkan sedikit, namun masih cukup banyak yang diamati mengenai tanah dan penduduk. Menurut saya, usaha itu sepadan. Dan, saya merasa perlu untuk melaporkannya.

Setelah catatan pendahuluan ini, saya beralih ke penyampaian hasil temuan saya selama kunjungan kedua ke Bintan.


PADA tanggal 15 Januari 1883 malam, saya pertama kali singgah di Pënjingat untuk menghadap Yang Dipertuan Muda di sana. Saya menanyakan tentang benda-benda yang dulu digali. Sebagiannya berada di tangan Yang Muda dan yang telah saya sebut di atas.

Saya diperlihatkan sebuah piring yang cukup bagus, berhias bunga-bunga biru. Menurut keterangan, ditemukan di Pënaoeng, di bawah sebuah batu besar. Piring ini masih utuh. Sedangkan piring kedua yang ditemukan bersamanya sudah pecah.

Saya juga diperlihatkan sebuah mangkuk biasa yang warnanya sudah pudar. Mangkuk ini beberapa waktu lalu digali dari tanah di Tandjong Merah. Dahulu, saat ditemukan, di dalamnya terdapat beberapa barang emas. Tapi sekarang sudah tidak ada karena penemunya sudah menjualnya dengan cepat.

Selain itu Yang Mulia juga memperlihatkan kepada saya sepasang peluru tembaga kecil dari meriam. Salah satunya rusak pada bagian pegangannya. Panjangnya kira-kira 1½ span. Ketebalannya kira-kira tiga sentimeter dan diameter larasnya ± 2 sentimeter. Lila tempat peluru itu dulu dipasang, sekarang sudah tidak ada.

Peluru-peluru ini ditemukan di hulu Soengei Bĕrĕ, yaitu sebuah anak sungai dari Soengei Bintan. Berada pada kedalaman kira-kira 1 kaki di dalam tanah.

Sambil membicarakan ini dan itu yang berkaitan dengan masa lalu, Yang Mulia juga menceritakan kepada saya bahwa pada masa pemerintahan ayahnya, Yang Mulia almarhum kantor (Radja Ali ibn Radja Jafar), pernah dilakukan penggalian di pulau Pëngoedjan. Dalam penggalian itu ditemukan: tulang-belulang, piring-piring bergambar bunga dan mangkuk-mangkuk. Di setiap mangkuk terdapat perhiasan emas. Tulang-belulang itu membuktikan bahwa di sini memang pernah ada kuburan. Dari tingkat keasinan kuburan-kuburan itu, dapat disimpulkan bahwa kuburan itu berasal dari masa yang cukup tua.

Saya memang pernah mendengar beberapa orang mengatakan bahwa selama perang Kompeni dengan orang Bugis (perang Riau 1787), orang Bugis ketika melarikan diri konon telah menguburkan mayat dan harta mereka di Pëngoedjan. Tetapi tidak masuk akal untuk percaya hal itu karena jika beberapa waktu kemudian orang Bugis bisa kembali, tentu harta itu akan mereka gali sendiri lagi. Bukan ditemukan orang lain dalam waktu sesingkat itu.

Selain itu, jika memang banyak orang Bugis dikuburkan di sana, pasti hal itu diketahui. Namun Yang Mulia Residen maupun siapa pun di Pënjingat tidak mengetahuinya.

Penduduk Pëngoedjan saat itu juga tidak mengetahui adanya kuburan tua itu.

Namun di Pëngoedjan, memang ada sebuah kramat besar yang sampai sekarang masih sangat dihormati. Makam itu telah dipagari dengan baik dan dirawat dengan sangat rapi.


Catatan:
Pengoedjan: Pulau Pengujan
1 span ≈ 20-23 cm, jadi 1½ span ≈ 30-35 cm
Lila: meriam kecil/lelontong
Radja Ali ibn Radja Jafar: Wafat 1857
Kramat: Makam keramat/makam yang dikeramatkan

Kampung-Kampung Di Teluk Bintan

BEBERAPA makam yang lebih kecil berasal dari masa yang lebih muda, dan dikuburkan di sana agar orang-orang yang meninggal di sekitar kramat itu dapat beristirahat.

Kramat tua itu terletak sedikit di sebelah utara tengah pulau Pëngoedjan Timur. Sementara penggalian dilakukan di sekitar kramat itu dan ke arah Sëlat Bintan. Jadi, lokasi penggalian berada di sisi utara pulau itu.

Malam itu juga perjalanan dilanjutkan hingga ke Pëngoedjan, di pintu masuk teluk Bintan, agar keesokan paginya, dengan memanfaatkan air pasang, dapat terus menuju ke tepi di dalam teluk.

Teluk Bintan dapat disimpulkan; membentang dimulai di antara Poelau Loos dan Tandjong Rangas yang terletak pada pulau kecil Pëngoedjan, yang dipisahkan dari Bintan Utara oleh Sëlat Bintan.

Di Pëngoedjan terdapat beberapa kampung kecil, yaitu kampong Bĕting Pandjang dan Pasir Pendek. Keduanya dinamai menurut beting pasir yang besar dan yang kecil, serta kampong Sëlat Bintan Pëngoedjan.

Berhadapan dengan kampong selat Bintan Pengoedjan, terletak kampong Sëlat Bintan Oedjong.

Dari sana, mengikuti pantai ke arah utara, orang bisa melewati Boekit Tamboes. Di kaki bukit itu terdapat muara sungai kecil Bangsa, Pënaoeng dan Këtapei.

Sungai Ketapei bermuara di Soengei Tëroes, yakni sebuah selat yang menyempit, yang memiliki cabang lain. Di pulau kecil yang terletak di antara muara-muara ini, terdapat kampong Tandjong Merah yang terletak di bukit.

Di Soengei Bangsa terdapat sebuah kampung kecil bernama Bangsa, sementara di Pënaoeng dan di Boekit Bangsa masih terdapat beberapa rumah dan kebun pohon buah-buahan.


Catatan:
Poelau Loos dan Tanjung Rangas terletak di barat laut dari ibu kota Riouw (Tanjungpinang. Tanjung Rangas wilayah ujung paling selatan dari Pëngoedjan.
Boekit Bangsa: merupakan dua bukit yang terletak di antara Sungai Bangsa dan Sungai Pënaoeng, dalam arah utara.

Menyusuri Sungai Bintan

DI sebelah timur Soengei Tëroes, terletak Soengei Boeloeh Kasap. Di sekitar wilayah itu terdapat beberapa rumah. Penduduk yang mendiami kadang-kadang masih mengupayakan rijstverbouw (penanaman padi ladang).

Lebih jauh lagi, terletak Soengei Bintan. Lokasinya berada di sekitar Gunung Bintan. Di sekitar wilayah itu, tinggal sebagian besar suku Bintan.

Lebih jauh lagi ke selatan, terletak Soengei Doekoeh (Kangboi dalam istilah Tionghoa).

Potongan peta: ‘Teloek Dalam’ tahun 1946rmperlihatkan aliran sungai Kangboi/ Sungai Dukuh (Soengei Doekoeh) di Bintan. © KITLV

Sungai-sungai kecil seperti Këtapei dan Boeloeh Kasap mengalir dari sisi barat Gunung Bintan Kecil dan Gunung Bintan Besar. Sementara Soengei Bintan berhulu di sisi timur pegunungan itu; mengalir ke selatan, lalu ke arah barat.

Di muaranya, di tepi kanan, terdapat sebuah kédai Tionghoa.

Hulu sungai ini dialiri di sebelah kiri oleh sungai-sungai kecil Goeha, Bĕrĕ, Mensala Ilir, Mensala Oeloe, Djaka dan Krong, yang mengalir dari lereng selatan Gunung Bintan Besar; di sebelah kiri oleh Oelar dan Sëbrang Toehan.

Lebih jauh ke hulu di tepi kiri, terdapat kampung-kampung seperti Sëriasa, Boejoeh, Pënepa, Pantar dan Boekit Batoe.

Setelah Krong, tepi-tepi Soengei Bintan menjadi lebih tinggi. Di sekitarnya, dekat rumah-rumah, banyak ditemukan pohon buah yang ditanam. Tanaman buah juga terdapat di hulu-hulu sungai kecil yang mengalir dari Gunung Bintan dan bermuara ke dalamnya.

Di hilir tepi kiri Soengei Bintan, baru-baru ini telah ditanami roembia (sagu). Di sini, penduduk juga coba menanam padi. Tetapi hasilnya tidak baik karena terlalu banyak garam di dalam tanah, sesuatu yang sebenarnya sudah bisa diduga sebelumnya.

Selain itu, di seluruh kepulauan Riouw-Lingga juga ditemukan bakau-bosch di hilir sungai-sungai yang rendah.

Kampong Tanjung Merah, yang dikunjungi pada hari berikutnya, baru ada sejak kira-kira lima puluh tahun terakhir (pada masa kunjungan Schot tahun 1883). Salah seorang sesepuh warga bernama Mëlan, yang atas perintah Yang Dipertuan Muda, memberi saya keterangan, masih ingat pendiriannya. Saat itu Melan berusia sekitar lima puluh tahun.


Catatan:

Kédai: kedai/warung
Roembia: sagu
Bakau-bosch: hutan bakau


Bersambung

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan batam, bintan, History, J.g. Schot, sejarah
Admin 5 Oktober 2026 5 Oktober 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

APA YANG BARU?

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
Catatan Netizen 1 jam lalu 142 disimak
Pendaftaran Diperpanjang Lagi, Pemko Siapkan 3.000 Agen Perlinsos Jemput Bola
Artikel 2 jam lalu 81 disimak
Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 14 jam lalu 218 disimak
Hindari Kendaraan Mogok, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Brio WN Singapura di Bintan
Artikel 14 jam lalu 185 disimak
Bintan Triathlon 2026 Diikuti Atlet dari 32 Negara
Sports 14 jam lalu 150 disimak

POPULER PEKAN INI

Terkait Judul “Tambang Rexvin”, PT. Rexvin Group Beri Klarifikasi: Kami Bukan Perusahaan Tambang
Artikel 5 hari lalu 740 disimak
Penyelundupan 11,31 Kg Emas ke Singapura Gagal
Artikel 7 hari lalu 592 disimak
Uji Ketahanan Infrastruktur di Balik Lonjakan Investasi Rp500 Triliun Pusat Data Batam
In Depth 5 hari lalu 589 disimak
Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
Rupa 4 hari lalu 562 disimak
Komisi III DPR RI Setujui Komjen Pol. Suyudi Ario Bayu Jadi Kapolri Baru, Ini Profilnya
Artikel 4 hari lalu 486 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?