NOKIA dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk melakukan merger dengan perusahaan lain. Mereka mengaku akan membuka pintu untuk merger, atau jika perlu melakukan penjualan aset perusahaan.
Hal ini dilakukan Nokia setelah mereka tidak tahu lagi harus bagaimana untuk meningkatkan profit perusahaan dan membuatnya tetap bertahan. Pasalnya, saat ini Nokia diketahui masiih berusaha keras untuk mendapatkan profit di tengah pasar yang sudah bertransisi menjadi 5G.
Perusahaan jaringan terbesar asal Finlandia itu memang sedang berkompetisi ketat dengan vendor lain seperti Huawei, Ericsson, Cisco dan Samsung terkait industri perangkat 5G. Persaingan ini memang sulit bagi Nokia, walau mereka yakin solusi end-to-end miliknya adalah merupakan kunci yang membedakan Nokia dengan perusahaan lain.
Mereka yakin jika pengadaan peralatan, perangkat lunak, dan layanan dari satu vendor dapat mengurangi total biaya lebih dari 20 persen, dan mengurangi waktu implementasi setidaknya 30 persen, jika dibandingkan dengan strategi multi-vendor.
Dilansir TechRadar dari Bloomberg, sumber Nokia menyebut pembahasan terkait merger atau jual ini masih berlangsung, namun belum ada keputusan pasti. Salah satu yang menyeruak adalah kemungkinan merger dengan Ericsson atau mencari mitra di bidang bisnis tertentu. Langkah lainnya adalah menggeser invetasi dan menyesuaikan neraca keuangan.
Namun begitu, banyak analis yang memprediksi, jika memang memang Ericsson tak tertarik, Nokia bisa melirik pesaingnya yang lain untuk diajak ‘bersatu’. Cisco, misalnya.
Sayangnya, Nokia belum berkomentar terkait isu ini, baik di Bloomberg maupun di TechRadar.
(*)


