Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Bintan Usulkan Perluasan Free Trade Zone ke Seluruh Wilayah
    2 menit lalu
    Untuk Kurangi Kemacetan, Jalan Tengku Sulung Segera Dilebarkan
    37 menit lalu
    BP Batam Perkuat Komunikasi dengan Pelaku Usaha Terkait PTSP dan OSS
    44 menit lalu
    Polda Kepri Gagalkan Penyelundupan 100 Ribu Benih Lobster ke Luar Negeri
    52 menit lalu
    Belasan Ribu Hewan Kurban Telah Diperiksa Kesehatannya oleh DKPP Batam
    15 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Tour de Bintan 2026: Kembali Digelar dengan Identitas Baru dan Kategori UCI 1.2 Point Race
    20 menit lalu
    Arsenal Juara Liga Inggris 2025/2026
    2 hari lalu
    Empat Siswa MAN Karimun Lolos Seleksi Dayung Porprov 2026
    2 hari lalu
    100 Siswa Ikut Lomba Bertutur di Tanjungpinang
    2 hari lalu
    Buku Ajar Lokal
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pulau Kasu, Batam
    4 hari lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    2 minggu lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    3 minggu lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    3 minggu lalu
    Pulau Pecong, Batam
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Melacak Peradaban Tertua Dari DNA

Editor Admin 10 tahun lalu 1.7k disimak
Foto ilustrasi orang Papua : pixoto.com

PARA peneliti dari Nature Universitas Kopenhagen, menemukan indikasi yang menunjukkan peradaban tertua di dunia merujuk pada penduduk asli Australia dan Papua Nugini.

Menurut mereka, DNA dari orang-orang ini dapat ditelusuri kembali ke gelombang asli pemukim dari Afrika lebih dari 50 ribu tahun lalu.

“Mereka mungkin kelompok tertua di dunia yang dapat Anda hubungkan ke suatu tempat tertentu,” kata penulis utama dari studi baru di Nature Universitas Kopenhagen, Eske Willerslev dilansir laman Foxnews Senin (26/9).

Ia menemukan bahwa nenek moyang ini merupakan penduduk asli yang tiba di Sahul-a superkontinen yang mencakup Nugini, Australia, dan Tasmania antara 51 ribu dan 72 ribu tahun yang lalu. Bahkan penelitian menunjukkan mereka adalah orang-orang pertama yang menyeberangi lautan.

“Sekarang kami tahu keluarga mereka adalah orang-orang yang pertama yang melakukan penjelajahan,” kata Willerslev.

Para ilmuwan menggunakan jejak genetis terhadap manusia awal yang masih tersisa di DNA masyarakat modern di Papua Nugini dan Australia untuk merekonstruksi perjalanan nenek moyang mereka dari Afrika sekitar 72 ribu tahun yang lalu.

Sejumlah ahli tidak sependapat bahwa manusia non-Afrika sekarang adalah turunan dari penjelajah yang meninggalkan Afrika dalam gelombang migrasi besar-besaran puluhan ribu tahun lalu.


Penelitian terbaru mendukung hipotesis migrasi tunggal, yang mengatakan bahwa suku asli di Papua dan Australia merupakan keturunan dari para penjelajah dari Afrika sekitar 72.000 tahun lalu.


MELACAK jejak migrasi orang asli Papua dan Australia, ahli menemukan bukti bahwa sekitar 50 ribu tahun lalu mereka mencapai Sahul—superbenua yang dulu mencakup Papua Nugini, Australia dan Tasmania sebelum mereka dipisahkan oleh kenaikan permukaan air laut.

Foto : wikipedia.org
Foto peta ilustrasi benua Sahul : wikipedia.org

“Kami tidak tahu siapa orang-orang ini, tapi mereka adalah kerabat jauh dari Denisovan,” kata Professor Eske Willerslev yang sehari-hari mengajar di Cambridge University, seperti dilansir laman The Telegraph, Kamis (22/09/2016) lalu.

Penduduk asli Papua dan Australia bertemu dan saling kawin dengan ras yang tak diketahui, yang kemungkinan ada hubungannya dengan Denisovan Siberia, saat mereka bermigrasi meninggalkan Afrika. Seperti Neanderthals, Denisovan adalah sub-spesies yang sudah punah sejak ribuan tahun.

Berdasarkan penelitian, kerabat yang tak diketahui menyumbang 4% genom penduduk asli Australia. Sebelumnya, saintis menemukan kawin silang manusia prasejarah non-Afrika dengan DNA Neanderthal berkisar antara satu hingga enam persen.

Foto ilustrasi manusia neandhertal : nhm.ac.id
Foto ilustrasi manusia neandhertal : nhm.ac.id

Temuan riset menegaskan bahwa suku Aborogin Autralia adalah keturunan langsung dari orang yang mendiami benua tersebut sejak 50 ribu tahun lalu.

“Mereka kemungkinan kelompok tertua di dunia jika dikaitkan dengan tempat yang mereka diami,” kata Prof Willerslev.

Pada peneliti mengambil sampel air liur untuk melengkapi kode genetik, genom, sebanyak 83 warga  asli Australia dan 25 warga asli Papua Nugini, karena sisa-sisa fosil manusia pada periode awal tidak ditemukan. ***

Kaitan afrika, Australia, peradaban tertua, tes DNA
Admin 27 September 2016 27 September 2016
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Akhir Kiprah Pencuri Berkolor di Medan
Artikel Selanjutnya Kenapa Shinta Bachir Yang Paling Mahal?

APA YANG BARU?

Bintan Usulkan Perluasan Free Trade Zone ke Seluruh Wilayah
Artikel 2 menit lalu 34 disimak
Tour de Bintan 2026: Kembali Digelar dengan Identitas Baru dan Kategori UCI 1.2 Point Race
Sports 20 menit lalu 68 disimak
Untuk Kurangi Kemacetan, Jalan Tengku Sulung Segera Dilebarkan
Artikel 37 menit lalu 81 disimak
BP Batam Perkuat Komunikasi dengan Pelaku Usaha Terkait PTSP dan OSS
Artikel 44 menit lalu 86 disimak
Polda Kepri Gagalkan Penyelundupan 100 Ribu Benih Lobster ke Luar Negeri
Artikel 52 menit lalu 89 disimak

POPULER PEKAN INI

“Dari Karas Besar ke Sungai Dai, Menyinggahi Sarang Perompak Laut”
Histori 4 hari lalu 646 disimak
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang Mirip Museum
Catatan Netizen 4 hari lalu 577 disimak
Kepri Butuh 1.500 Guru Baru, Perekrutan Masih Dikaji Jelang Tahun Ajaran 2026
Pendidikan 4 hari lalu 561 disimak
BPBD Tanjungpinang Imbau Warga Waspada Cuaca Hujan dan Kemunculan Buaya di Pesisir
Artikel 4 hari lalu 537 disimak
Polisi Gencarkan Patroli Malam di Coastal Area
Artikel 4 hari lalu 520 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?