Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Pelaku Penebangan Pohon Jati Emas di Batam Mangaku Karena Tekanan Mental
    20 jam lalu
    BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem di Kepri
    1 hari lalu
    Ratusan WNA di Apartemen Baloi View Digerebek, Diduga Terlibat Online Scam
    1 hari lalu
    Pengangguran di Kepulauan Riau Meningkat Tajam, Capai 75.000 Orang
    1 hari lalu
    BUMD Kepri Disorot, Banyak yang Tidak Mencapai Target Kinerja
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    PSG Tantang Arsenal di Partai Puncak Liga Champions Eropa
    1 hari lalu
    Inter Milan Raih Scudetto ke 21, Pesta Biru Hitam di Kota Milano
    4 hari lalu
    Disdik Batam Himbau Keluarga Mampu Pilih Sekolah Swasta
    4 hari lalu
    “Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”
    5 hari lalu
    Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    2 hari lalu
    Data Kemiskinan di Batam Terbaru
    5 hari lalu
    Data Kinerja Nilai Ekspor Batam Januari–Februari 2026 yang Turun
    5 hari lalu
    Pulau Pecong, Batam
    2 minggu lalu
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    3 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Kenaikan Harga BBM Masa Sukarno

Editor Admin 4 tahun lalu 678 disimak

HARGA tiga Bahan Bakar Minyak (BBM) yakni Pertalite, Solar subsidi, dan Pertamax naik sejak Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30 WIB. Harga Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, Solar subsidi dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter.

Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM mendapat penolakan. Selain karena harga minyak mentah dunia tengah turun, kenaikan harga BBM juga dapat memicu naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya.

Unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM berlangsung di sejumlah titik di Jakarta pada Senin (5/9/2022), di antaranya di depan gedung DPR/MPR RI dan kawasang Patung Kuda Arjuna Wijaya, dekat Istana Merdeka. Demonstrasi mahasiswa juga terjadi di beberapa daerah.

Kenaikan harga BBM memang kerap memicu demonstrasi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat, seperti terjadi di akhir masa Orde Lama. Pada masa Presiden Sukarno, kesulitan ekonomi karena salah manajemen mulai terasa sejak tahun 1963 yang memuncak pada 1965–1966.

Firman Lubis, seorang dokter, dalam Jakarta 1950–1970 mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia semakin memburuk menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

“Inflasi melangit dan menyebabkan nilai rupiah merosot tajam dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai gambaran, ongkos naik bis umum yang pada 1962 masih berkisar Rp 1 berubah menjadi Rp 1.000 pada 1965,” kata Firman.

Di tengah situasi politik yang mencekam pasca pembunuhan para jenderal TNI AD dalam peristiwa G30S, pemerintah menaikkan harga bensin yang semakin memberatkan masyarakat. Keputusan ini untuk mengendalikan hiperinflasi yang mencapai 650 persen dan meningkatkan pendapatan negara.

Dalam otobiografinya Saatnya Saya Bercerita, Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina, mengakui bahwa berdasarkan instruksi dari Wakil Perdana Menteri III merangkap Menko Kompartemen Pembangunan Chaerul Saleh, dia menandatangani sebuah perintah menaikkan harga bensin dari Rp 4 menjadi Rp 250 per liter pada 8 November 1965. Harga-harga produk lain pun mengikutinya.

Dengan demikian, kenaikan harga bensin itu lebih dari 60 kali lipat atau mencapai 6250 persen. Harga minyak tanah juga naik dari Rp 15 menjadi Rp 150.

Setelah menaikkan harga bensin, pemerintah melakukan sanering, yaitu menetapkan mulai 13 Desember 1965 nilai uang Rp 1.000 menjadi Rp 1 uang baru. Kebijakan baru ini tak banyak menolong karena inflasi tetap tak terkendali.

Laju inflasi yang tinggi membuat barang-barang kebutuhan pokok langka. Antrean warga terlihat di sejumlah tempat. Firman Lubis menyaksikan orang-orang harus mengantre untuk membeli beras, minyak goreng, minyak tanah, dan gula pasir. Barang-barang itu pun hanya bisa dibeli di toko-toko tertentu yang ditunjuk pemerintah dan dibatasi jumlahnya.

“Akibatnya banyak keluarga kelas bawah yang kekurangan makan. Fasilitas umum memburuk, pasokan air PAM berhenti mengalir dan listrik sering mengalami pemadaman,” kata Firman.

Setelah melakukan sanering, pada 3 Januari 1966 pemerintah kembali menaikkan harga bensin empat kali lipat dari Rp 250 menjadi Rp 1.000 atau Rp 1 uang baru. Keputusan ini memantik kemarahan publik. Mahasiswa pun turun ke jalan.

Seminggu setelah kenaikan harga bensin, pada 10 Januari 1966 KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan kesatuan-kesatuan aksi lainnya, melakukan demonstrasi besar-besaran. Mereka menyampaikan tiga tuntutan yang dikenal dengan Tritura, yaitu bubarkan PKI, turunkan harga, dan retul (rombak) Kabinet 100 Menteri.

Firman Lubis menyebut hampir setiap pagi mahasiswa melancarkan aksi demonstrasi. Sejumlah menteri menjadi sasaran kritik mahasiswa, seperti Soebandrio dan Chaerul Saleh. Soebandrio diejek sebagai anjing Peking, sementara Chaerul Saleh dicap sebagai menteri goblok karena keputusannya menaikkan harga bensin.

“Memang waktu itu banyak yel-yel mahasiswa yang cukup keras, seperti ‘ganyang menteri plintat plintut’, ‘menteri tukang kawin’, ‘menteri tolol’, ‘tukang ngobyek’, dan banyak lagi lainnya yang khas kreativitas mahasiswa,” kata Firman.

Tak hanya para menteri, Sukarno juga turut menjadi sasaran kritik dan protes para demonstran.

Soe Hok Gie dalam Zaman P​eralihan​ menyebut pada 15 Januari 1966 Sukarno menantang siapa saja yang dapat menurunkan harga dalam waktu tiga bulan akan diangkat menjadi menteri, tetapi kalau gagal akan ditembak mati. Hadely Hasibuan adalah orang pertama yang menjawab tantangan itu.

Pengacara dan pemimpin majalah hiburan Varia itu menyusun konsep untuk menurunkan harga dalam tiga bulan. Namun, konsepnya ditolak karena dianggap bertentangan dengan perjuangan revolusi Indonesia.

Soe Hok Gie juga menyebut bahwa aksi-aksi demonstrasi mahasiswa dibarengi dengan aksi mogok kuliah dan mengirim delegasi mahasiswa untuk mendatangi para menteri. Tetapi usaha-usah ini tidak banyak hasilnya. “Hasil konkretnya hanyalah harga bensin turun dari Rp 1.000 menjadi Rp 500 sedangkan harga lainnya tetap bertahan,” tulis Gie.

Demonstrasi mahasiswa mendorong berakhirnya kekuasaan Sukarno. Setelah Sukarno mengeluarkan Supersemar pada 11 Maret 1966, pidato pertanggungjawabannya ditolak MPRS. Sukarno dijadikan tahanan kota kemudian tahanan rumah hingga meninggal pada 21 Juni 1970.

Jenderal TNI Soeharto mengambil alih kekuasaan sejak 1967. Selama masa kekuasaannya, pemerintah Orde Baru 21 kali menaikkan harga BBM dan mulai memberikan subsidi BBM pada 1974/75. Akhirnya, setelah berkuasa sekitar 32 tahun, Soeharto dilengserkan oleh gerakan Reformasi. Peristiwanya mirip masa akhir kekuasaan Sukarno.

Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1997 dan 1998. Setelah tiga tahun sejak 1994 tidak menaikkan harga BBM, pada 1997 pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM; untuk harga premium naik dari Rp 700 menjadi Rp 1.200. Tak lama kemudian pemerintah menurunkan harga premium menjadi Rp 1.000 karena situasi politik dan demonstrasi mahasiswa.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan bbm, Orde Baru, orde lama, reformasi, sukarno
Admin 8 September 2022 8 September 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Hasil Liga Champions: Liverpool Dibantai, Barcelona Berpesta, Bayern Hajar Inter Milan
Artikel Selanjutnya Baru 3 Bulan Diresmikan, Plafon Masjid Tanjak Runtuh

APA YANG BARU?

Pelaku Penebangan Pohon Jati Emas di Batam Mangaku Karena Tekanan Mental
Artikel 20 jam lalu 20 disimak
PSG Tantang Arsenal di Partai Puncak Liga Champions Eropa
Sports 1 hari lalu 238 disimak
BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem di Kepri
Artikel 1 hari lalu 254 disimak
Ratusan WNA di Apartemen Baloi View Digerebek, Diduga Terlibat Online Scam
Artikel 1 hari lalu 264 disimak
Pengangguran di Kepulauan Riau Meningkat Tajam, Capai 75.000 Orang
Artikel 1 hari lalu 268 disimak

POPULER PEKAN INI

“Di Lahan Gambir yang Rusak dan Reruntuhan Istana Riouw Lama”
Histori 5 hari lalu 597 disimak
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
Catatan Netizen 5 hari lalu 505 disimak
Prakiraan Cuaca, Potensi Hujan Masih Terjadi di Batam dan Sekitarnya
Artikel 4 hari lalu 500 disimak
Polsek Bengkong Amankan Pelaku Pelecehan Seksual Kepada Anak Di Bawah Umur
Artikel 4 hari lalu 473 disimak
Ratusan Pengajuan UWT Warga Puskopkar Batuaji Tertahan di BP Batam
Artikel 5 hari lalu 461 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?