Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Ayah Kandung Cabuli Anak Balita Sendiri, Ditangkap Petugas Polsek Sagulung
    23 jam lalu
    Marak Kembali Aksi Pencurian Komponen Perangkat Traffic Light di Batam
    1 hari lalu
    Pembatasan Belanja Pegawai Maksimal 30 Persen, Pemko Batam Diposisi Aman
    1 hari lalu
    BP Batam Himbau Masyarakat Waspadai Potensi Bahaya Kebakaran Hutan
    2 hari lalu
    Sempat Hilang, Nelayan Karimun Berhasil Ditemukan Tim SAR Gabungan
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Debut Manis Herdman, Timnas Menang 4-0 Atas Saint Kitts
    2 hari lalu
    Dua Karakter Berbeda Orangtua
    2 minggu lalu
    Aktifitas Kelompok Budidaya Laut Biru di Bintan
    2 minggu lalu
    Bassist God Bless, Donny Fattah Gagola Meninggal Dunia
    3 minggu lalu
    Larangan Akses Digital untuk Anak di Bawah 16 Tahun
    3 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    2 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    1 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
VOA Indonesia

“Perang Dagang Amerika: Dulu dan Sekarang”

Editor Admin 1 tahun lalu 2.2k disimak
Ilustrasi Chin Soo ParkDisediakan GoWest.ID

SENGKETA dagang Trump dengan China meluas ke Kanada dan Meksiko. Tapi ini bukan pertama kalinya AS melancarkan perang dagang dengan musuh dan sekutunya

Daftar Isi
Undang-undang Tarif Smoot-Hawley 1930Konflik semikonduktor dan manufaktur AS-Jepang 1980-anPerang Pisang 1993-2009Tarif baja AS-UE 2002-2003Perang dagang AS-China 2018-sekarangSekarang

Oleh Alex Gendler | VOA News


KEBIJAKAN dagang terus menjadi isu yang diperdebatkan sepanjang sejarah.

Pada era modern, banyak ahli ekonomi yang berpendapat bahwa mengurangi hambatan dalam perdagangan internasional seperti tarif atau larangan ekspor, bisa menguntungkan semua pihak. Namun, pemerintah pusat sering kali menghadapi pilihan politik antara meningkatkan perdagangan dan melindungi industri dalam negeri.

Ketika konflik seperti itu muncul, kebijakan yang diberlakukan oleh satu negara bisa dibalas oleh mitra dagang dengan kebijakan mereka, yang menciptakan eskalasi yang dikenal sebagai perang dagang.

Selama Perang Dingin dan setelahnya, Amerika Serikat sering dianggap sebagai pendukung perdagangan bebas dan memimpin upaya pendirian Organisasi Pedagangan Dunia (WTO) pada 1995. Tapi seperti negara-negara lain, AS kadang terlibat perang dagang, baru-baru ini dan seperti yang tercatat dalam sejarah.

Undang-undang Tarif Smoot-Hawley 1930

PADA awal abad ke-20, AS mencatat kemajuan ekonomi besar. Tapi ketika Depresi Besar mulai pada 1929, Kongres AS yang didominasi Partai Republik mencoba untuk membantu petani Amerika yang terkena dampak dengan menerapkan tarif pada barang impor untuk melindungi mereka dari kompetisi asing.

Para ahli ekonomi dan pemimpin bisnis menentang gagasan tersebut, merujuk pada data bahwa AS telah mengalami surplus dagang, dan telah mengekspor lebih banyak daripada mengimpor. Tapi, Presiden Herbert Hoover mengesahkan UU pada 1930 yang mengenakan pajak pada hampir 2.000 kategori impor dengan tarif lebih dari 50% – termasuk yang tertinggi dalam sejarah Amerika.

Pengesahan UU tersebut menuai protes dari mitra dagang terbesar Amerika, dan 10 di antaranya memberlakukan tindakan balasan. Prancis mengenakan biaya tinggi pada mobil yang diproduksi Amerika dan Kanada meningkatkan tarif pada banyak barang impor Amerika dan justru mengurangi tarif pada barang-barang impor dari Inggris. Negara-negara seperti Italia dan Swiss juga menyerukan boikot terhadap seluruh produk-produk Amerika.

Akibat tindakan balasan dan juga dampak Depresi Besar yang terus berlangsung, selama beberapa tahun ekspor AS menurun hingga 66%.

Tarif tersebut akhirnya dicabut pada 1934 oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, yang menggantikannya dengan perjanjian bilateral yang dinegosiasikan langsung dengan negara masing-masing. UU Tarif Smoot-Hawley sejak saat itu disebut sebagai contoh kebijakan dagang yang merugikan.

Konflik semikonduktor dan manufaktur AS-Jepang 1980-an

SETELAH mengalahkan Jepang pada Perang Dunia II, Amerika Serikat menjamin pertahanan Jepang sambil mendorong pembangunan industri dan ekonomi negara tersebut sebagai penyeimbang penyebaran komunisme di Asia.

Tapi strategi itu terlalu berhasil. Dibantu oleh kebijakan ekonomi proteksionis dan nilai tukar dolar AS yang menguntungkan, Jepang menjadi pusat ekspor manufaktur kelas tinggi seperti mobil dan elektronik. Pada pertengahan 1980-an, ketimpangan dagang AS dengan Jepang senilai lebih dari $40 miliar, atau hampir sepertiga dari total defisit perdagangan, dan menimbulkan kekhawatiran atas dominasi ekonomi Jepang.

Beberapa pendekatan diplomasi dilakukan untuk mengatasi defisit perdagangan tersebut. Karena Jepang mengandalkan AS untuk pertahanannya, Jepang setuju untuk menetapkan kuota sukarela terhadap mobil dan ekspor bajanya meskipun AS menerapkan tarif pada semikonduktor Jepang.

Sementara itu, Perjanjian Plaza multilateral ditandatangani pada 1985 di Plaza Hotel di Kota New York untuk meningkatkan ekspor AS dengan membiarkan nilai dolar terdepresiasi terhadap mata uang lainnya.

Meskipun begitu, defisit perdagangan dengan Jepang tetap tinggi sepanjang tahun 1980-an. Pada akhirnya, defisit tersebut bisa diatasi oleh faktor ekonomi yang lebih luas dan bukan melalui kebijakan dagang, karena gelembung aset Jepang pada tahun 1990-an mengakibatkan stagnasi ekonomi selama lebih dari satu dekade.

Perang Pisang 1993-2009

PADA abad ke-20, pasar pisang global didominasi oleh perusahaan yang berafiliasi dengan AS di Amerika Tengah dan Selatan. Tapi, UE menetapkan kuota yang menguntungkan terhadap pisang yang diimpor dari bekas koloninya di Karibia.

Hal ini memicu protes dari lima negara Amerika Latin dan Amerika pada 1993, dan WTO meluluskan tuntutan mereka empat tahun kemudian. Meskipun UE mengubah peraturannya, tindakan tersebut dianggap tidak memecahkan masalah utamanya.

Sebagai balasannya, AS menerapkan sanksi dagang terhadap produk-produk Eropa yang senilai hampir $200 juta.

Sengketa tersebut terus berlangsung hingga dekade berikutnya dan akhirnya baru teratasi pada 2009. UE setuju untuk mengurangi tarif pada impor pisang Amerika Latin, sementara negara-negara Karibia tetap tidak dikenakan tarif di pasar UE dan mereka juga menerima pembayaran satu kali dari UE untuk mengimbangi biaya akibat meningkatnya persaingan.

Tarif baja AS-UE 2002-2003

PRODUKSI baja Amerika, yang dulunya berkontribusi terhadap lebih dari separuh produksi global, mengalami kesulitan sejak 1980-an, dan menurun hingga kurang dari 10% pada awal 2000-an. Untuk menanggapi lobi industri, pemerintahan George W. Bush pada 2002 menerapkan tarif “pengamanan” pada baja impor hingga 30%.

Langkah tersebut memicu keluhan dari mitra dagang AS seperti Korea Selatan, Rusia dan Uni Eropa, yang langsung mengajukan proposal untuk tarif balasan terhadap ayam, tekstil dan maskapai Amerika.

Selain itu, tarif tersebut menaikkan harga bagi industri Amerika yang membeli baja sebagai bahan baku, yang menyebabkan hilangnya hampir 200.000 lapangan pekerjaan di sektor konsumen baja — lebih banyak dari total pekerjaan di industri baja AS. Pada 2003, WTO menentang tarif tersebut, dan akhirnya dicabut tak lama kemudian.

Perang dagang AS-China 2018-sekarang

SETELAH China membuka diri terhadap pasar bebas dan memasuki WTO pada 2001, China menjadi raksasa manufaktur dan ekspor, dan berhasil membukukan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.

Hal ini telah lama menjadi kekhawatiran politisi AS seperti Presiden Donald Trump, yang menuduh China mengambil keuntungan dari kebijakan perdagangan bebas Amerika, mencuri kekayaan intelektual dan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan di sektor manufaktur AS.

Pada pemerintahan periode pertamanya, yang dimulai pada 2017, Trump menerapkan tarif luas terhadap barang-barang China, termasuk barang-barang elektronik konsumen, alat medis dan suku cadang mekanis. China membalas dengan tarif yang menargetkan industri AS, seperti mobil dan agrikultur, yang terutama berdampak pada industri kedelai Amerika.

Ketegangan mereda di akhir pemerintahan periode pertama Trump karena China setuju untuk memperlonggar aturan kepemilikan bagi perusahaan yang menerima investasi asing dan pemerintahan Trump membatalkan tarif tambahan yang sudah direncanakan sebelumnya. Tapi pemerintahan Biden setelah Trump tidak mencabut tarif awal yang dikenakan Trump dan menerapkan larangan perdagangan tambahan, seperti pembatasan ekspor dan larangan investasi.

Sekarang

PERANG dagang AS-China terus berlanjut pada pemerintahan periode kedua Trump, dan Presiden Trump mengumumkan tarif 10% terhadap barang-barang China tak lama setelah mulai menjabat. Trump juga menerapkan tarif 25% terhadap Meksiko dan Kanada — mitra dagang Amerika terbesar lainnya – yang juga merupakan sekutu dekat.

Menerapkan tarif terhadap sekutu memang pernah terjadi sebelumnya, seperti yang terlihat dalam sengketa dengan Jepang dan UE. Tapi tarif kali ini melibatkan faktor-faktor selain perdagangan.

Pemerintahan Trump telah mensinyalir kesediaannya untuk menunda penerapan tarif pada Kanada dan Meksiko sebagai balasan atas komitmen dari kedua negara terkait keamanan perbatasan dan penegakan hukum narkoba — dua isu utama dalam agenda Presiden Trump.

Ketika konsensus perdagangan bebas internasional buyar, kebijakan perdagangan menjadi alat untuk mencapai tujuan politik yang lebih luas.

(*)

Ilustrasi Chin Soo Park

Kaitan Amerika Serikat, asia, china, Eropa, perang dagang, rusia, Tiongkok
Admin 16 Maret 2025 16 Maret 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Oracle Lirik Batam Jadi Pusat Data
Artikel Selanjutnya Gadis China yang Tidak Pernah Pakai Alas Kaki

APA YANG BARU?

Ayah Kandung Cabuli Anak Balita Sendiri, Ditangkap Petugas Polsek Sagulung
Artikel 23 jam lalu 46 disimak
Marak Kembali Aksi Pencurian Komponen Perangkat Traffic Light di Batam
Artikel 1 hari lalu 50 disimak
Pembatasan Belanja Pegawai Maksimal 30 Persen, Pemko Batam Diposisi Aman
Artikel 1 hari lalu 52 disimak
BP Batam Himbau Masyarakat Waspadai Potensi Bahaya Kebakaran Hutan
Artikel 2 hari lalu 126 disimak
Debut Manis Herdman, Timnas Menang 4-0 Atas Saint Kitts
Sports 2 hari lalu 127 disimak

POPULER PEKAN INI

Akhir Maret ini SPPG Batam Mulai Distribusikan Kembali MBG ke Sekolah
Artikel 3 hari lalu 301 disimak
Diskominfo Batam Sosialiasikan Larangan Penggunaan Medsos Anak Dibawah 16 Tahun
Artikel 3 hari lalu 294 disimak
Terapkan WFA, Rabu 25 Maret ASN Pemko Batam Mulai Bekerja Kembali
Artikel 6 hari lalu 291 disimak
Kantor Imigrasi Batam Tindak Lanjuti Keluhan Pemerasan Kepada WNA di Pelabuhan
Artikel 4 hari lalu 289 disimak
Bandara Hang Nadim Batam Siaga Lonjakan Penumpang Arus Balik Lebaran
Artikel 6 hari lalu 235 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?