Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Hujan Angin Kencang Tumbangkan Pohon, Atap Rumah Warga Tertimpa
    9 jam lalu
    Tabrakan Angkot vs Trailer di Jalan Brigjen Katamso, Tidak Ada Korban Jiwa
    10 jam lalu
    Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi, Polisi Periksa Kadishub Batam
    1 hari lalu
    Hingga 3 Hari Ke Depan, Tanjungpinang Diperkirakan Diguyur Hujan
    1 hari lalu
    Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    PSG Juara Lagi: Tundukkan Arsenal Lewat Adu Penalti 4-3
    10 jam lalu
    “Menyusur Sungai Bersama Sultan, Terjebak Badai di Gunung Tanda”
    1 hari lalu
    Libatkan RT/RW, Pengelolaan Sampah dengan TPS Komunal di Batam
    1 hari lalu
    SPMB Kota Batam 2026/2027 Dibuka Lebih Awal: Jalur Afirmasi Mulai 8 Juni 2026
    3 hari lalu
    “Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Data Kependudukan Kota Batam 2026
    1 hari lalu
    Data Curah Hujan Tahunan di Batam 10 Tahun Terakhir
    3 hari lalu
    Sultan Abdul Rahman I Muazzamshah (Sultan Riau Lingga Pertama)
    1 minggu lalu
    Pulau Kasu, Batam
    2 minggu lalu
    Tabel Ringkasan Inflasi Kota Batam (April 2026)
    4 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Tokoh

Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI

Editor Admin 4 bulan lalu 3.4k disimak
  • Nama: Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Raja Ja’far YDM Riouw VI
  • Jabatan: Wakil Kerajaan (Wakilschap/amir) pertama untuk Kepulauan Sulit dalam wilayah Kepulauan Batam
  • Ayah: Raja Ja’far YDM Riouw VI ibn Raja Haji Fisabilillah YDM Riouw IV
  • Saudara: Raja Joomahad (Jumaat), Raja Mohammad, Raja Khasim, Raja Mahmod, Raja Oosoop, Raja Hassan, Raja Yusuf, dan Raja Abbas. Saudara perempuan: Raja Gatiya, Raja Laouda, Raja Liya, Raja Halima, Raja Mariam, Raja Fatima, Raja Baingda, Raja Noor, Raja Ooya, Raja Mida, Raja Senay, Raja Sapia, Raja Biba, dan Raja Teleha.
  • Saudara Sepihak: Raja Abdurrahman YDM Riouw VII, Raja Ali YDM Riouw VIII, Raja Abdullah YDM Riouw IX (P.J. Begbie, 1827)

RAJA Hoesin (Raja Husin) merupakan putra Yang Dipertuan Muda Riouw VI dari pernikahannya dengan isteri lain di luar Engku Lebar binti Raja Ali YDM V Riouw.

Daftar Isi
Raja Hoesin (Raja Husin) dan Aktifitas PerompakanBerhijrah ke Dusun SulitDikenal sebagai Sultan Soelit di pulau Sugi Besar

Dalam dokumen silsilah keluarga kesultanan Johor yang ditulis oleh Peter James Begbie pada masa pencatatan tahun 1827, Raja Husin merupakan salah satu putra dari selir Raja Ja’far YDM Riouw VI.

“Raja Japhar, putra sulung Raja Hadgi, dan mantan Wakil Raja Rhio, menikah dengan Tuankoo Lebaar, putri Raja Ali, mantan Wakil Raja Rhio, dan memiliki tiga putra dan satu putri. Putra sulung bernama Raja Abdul Rachman, yang kedua, Raja Ali, dan yang ketiga, Raja Abdullah. Putrinya bernama Raja Maymoona.

Selain yang disebutkan di atas, Raja Japhar juga memiliki dua puluh tiga anak dengan isteri lainnya, terdiri dari sembilan putra dan empat belas putri, Nama-namanya sebagai berikut.
Putra: Raja Joomahad (Jumaat), Raja Mohammad, Raja Khasim, Raja Mahmood, Raja Hoesin, Raja Oosoop, Raja Hassan, Raja Yusuf, dan Raja Abbas.
Putri: Raja Gatiya, Raja Laouda, Raja Liya, Raja Halima, Raja Mariam, Raja Fatima, Raja Baingda, Raja Noor, Raja Ooya, Raja Mida, Raja Senay, Raja Sapia, Raja Biba, dan Raja Teleha.
(P.J. Begbie – Malayan Peninsula, Diterbitkan oleh Vepery Mission Press, 1834)

Secara kekerabatan, Raja Husin Ibn Raja Ja’far YDM Riouw VI ibn Raja Haji Fisabilillah YDM Riouw IV, merupakan sepupu dari Raja Ali Haji yang merupakan putera Raja Ahmad ibn Raja Haji Fisabilillah YDM Riouw IV. Raja Husin juga bersepupu dengan Wakil Kerajaan pertama Kepulauan Batam untuk wilayah P. Buluh, Raja Osman (Raja Usman) Ibn Raja Ahmad Ibn Raja Haji Fisabilillah YDM Riouw IV.

Raja Husin bersama Raja Osman dan Raja Yakup, merupakan perintis pertama pemerintahan pribumi di bawah kesultanan Riouw Lingga untuk wilayah Kepulauan Batam. Ketiganya mulai menjabat sebagai wakil kerajaan paska pembaruan kontrak antara pemerintah kolonial Belanda dan pihak kesultanan Riouw Lingga pada 1 Desember 1857.

Baca : “Menavigasi Laut Nongsa; Jejak Raja Issa di 1835”


SEBAGAI salah satu perintis pertama pemerintahan pribumi di wilayah Kepulauan Batam, Raja Hoesin (Raja Husin) ibn Raja Ja’far YDM Riouw VI ibn Raja Haji Fisabilillah YDM Riouw IV mengelola bagian paling luas, yakni di Kepulauan Sulit (Soelit, pen).

Pada masa awal pembagian wilayah pemerintahan pribumi di Kepulauan Batam, wilayah ini dibagi menjadi 3 pemerintahan pribumi:

  1. Bagian paling utara, wakil Nongsa, adalah yang terkecil. Wilayahnya membentang dari muara Sungai Ladi di pantai utara Batam, ke timur sepanjang pantai hingga ke kampung Bagan dekat muara Sungai Doeriankang, Kangboi, dan Assiamkang. Batas wilayah di pedalaman ditandai oleh Sungai Ladi dan Doeriankang. Wilayah ini pada awalnya ditangani oleh Raja Yakup.
  2. Wilayah Pulau Boeloeh meliputi Galang, Rempang, pulau-pulau Tandjong San, Stoko, Bolang, Bolang Kebam, Loemba, Rapat, dan pulau-pulau Samboe dan Blakang Padang, serta bagian Batam yang tidak termasuk Nongsa. Wilayah ini pada awalnya ditangani oleh Raja Osman.
  3. Wilayah Kepulauan Soelit meliputi Tjëmbol (Combol) Kapalla Djerie (Kepala Jeri), Kasoe (Kasu), Telaga-Toedjoe (Telaga Tujuh), pulau-pulau Kenting dan Mëtjan (Mecan), kelompok Plampong (P. Pelampung), Soegie (P. Sugi Besar), Soegie Bawa (P. Sugi Bawah), Moro Besar dan Kecil, kelompok Sangla (Salar), Sandam, dan Doerei (P. Durai) serta Kateman. Wilayah ini dipercayakan pertama kali kepada Raja Husin.

Penunjukkannya seiring pembaharuan kontrak antara kesultanan Riouw Lingga dan pemerintah kolonial Belanda, tentang kewajiban penempatan wakil kerajaan di wilayah-wilayah kerajaan, sebagai perpanjangan tangan Yang Dipertuan Muda Riouw di Penyengat (P. Wink, 1929).

Awalnya, ia mengelola pemerintahan dari pulau Terong.

Raja Hoesin (Raja Husin) dan Aktifitas Perompakan

SEORANG Kontrolir Belanda untuk wilayah Riouw, P. Wink, menuliskan keberadaan dan aktifitas Raja Husin dalam mengelola pemerintahan di Kepulauan Batam sejak 1857.

“Wakil kerajaan Radja Hoesin, yang mengelola dari Poelau Terong (sekarang di sub-divisi Tandjong Pinang), adalah orang yang terutama berhasil mengekang perompakan di bagian kepulauan ini pada masa itu.” (P. Wink, Mededeelingen Van Deafdeeling Bestuurs Zaken der Buitengewesten Van Het Departemen Van Bestuur’ Serie No.B, 1929)

Sebagai kepala pemerintahan dengan wilayah terluas di Kepulauan Batam, menurut P. Wink, Raja Husin dibantu oleh beberapa wakil kepala di beberapa lokasi pulau.

Radja Hoesin awalnya bermukim di P. Terong. Ia memiliki wakil-wakil di bawahnya yaitu:

  • Raja Moh. Samad di Moro
  • Raja Oesman di pulau Doerai (Durai)
  • Raja Gapek di Sei Goentoeng (Sungai Guntung)

Catatan P. Wink untuk upaya penanganan keamanan di Kepulauan Sulit oleh Raja Husin pada periode 1857 – 1869 (sebelum pencabutan kewenangan menangani masalah keamanan oleh pemerintah kolonial Belanda berdasarkan kontrak tahun 1869, pen ) sejalan dengan cerita turun temurun yang berkembang tentang raja Husin oleh masyarakat di Kepulauan Sugi dan Moro.

“Pada suatu ketika Raja Husin, Amir yang berkuasa pada masa itu dengan anaknya Raja Abdul Rahman mencoba masuk menaklukkan para lanon dengan berbekal ilmu yang ada. Mereka mendatangi perkampungan lanon. ketika itu, ketua lanon sedang menyirat tali dengan peralatan pisau yang sangat tajam. Begitu Raja Husin dan Raja Abdul Rahman memberi salam kepada ketua lanon tersebut, ia melempar pisau ke arah Raja Husin dan Raja Abdul Rahman. Akan tetapi tidak mengenai mereka dan pisau itu tertancap ke benda yang lain (dinding).

Seketika itu juga ketua lanon ini menyembah kepada Raja Husin dan Raja Abdul Rahman dengan menyatakan kekalahannya. Sejak saat itu, ketua lanon dan pengikut-pengikutnya takluk kepada Raja yang berkuasa pada Kerajaan Riau-Lingga itu. Oang-orang itu kemudian dibimbing dalam agama islam serta masuk agama islam.” 

Berhijrah ke Dusun Sulit

DI masa tuanya, Raja Husin tercatat telah berhijrah ke pulau Sugi Besar. Seorang Kontrolir Belanda yang menangani wilayah Kepulauan Batam pada 1882, J.G. Schot mencatat, Raja Husin sudah mendiami dusun Sulit pada masa tuanya. Sementara kewenangannya sebagai wakil kerajaan untuk wilayah Kepulauan Sulit masa itu, telah dimandatkan pada sang anak, Raja Haji Osman. Beberapa tahun kemudian, saat sang anak wafat karena sakit, posisi wakil kerajaan di wilayah ini sempat dijabat oleh keponakannya, Raja Abdul Hadi.

Namun sekitar tahun 1880, atas laporan Kontrolir Belanda, Raja Abdul Hadi yang mengelola wilayah Kepulauan Sulit dipecat oleh Yang Dipertuan Muda Riau. Ia terlibat dalam penjualan opium secara ilegal.

“Soelit-Doerei kemudian berhenti menjadi apanase dan kembali ke tangan bangsawan di Penyengat. Saat ini, wakil di Soelit adalah putra Radja Muda Riouw di Penyengat, yakni Radja Ali (Kelana). Dalam mengelola wilayah ini, ia di bawah bimbingan seorang ipar Yang Dipertuan Muda, bernama Radja Mat Thahir, yang merupakan seorang pemimpin yang cakap dan aktif.” (J.G. Schot – De Battam Archipel, 1882)

Aktifitas pemerintahan di wilayah Kepulauan Sulit yang awalnya dirintis oleh Raja Husin dan menjadi bagian wilayah Kepulauan Batam sejak 1857, dipecah dalam dua onderafdeeling pada sekitar tahun 1896.

Perairan sekitar selat Combol (Tjombol) yang memisahkan antara pulau Combol dan pulau Sugi Besar. © F. ylgi.org

Wilayah Kepulauan Sulit seperti pulau Combol, Citlim, Sugi, Moro hingga Durai dan Kateman masuk dalam wilayah onderafdeeling Karimun. Sementara wilayah pulau Terong, Kepala Jeri, Kasu dan sekitarnya, dilebur dalam pemerintahan pribumi di pulau Buluh dalam wilayah Onderafdeeling Kepulauan Batam.

Pemisahan ini akhirnya berimbas pada tata pemerintahan pribumi di wilayah Kepulauan Batam masa itu.

Pada masa 1896 hingga pembubaran wilayah onderafdeeling Batam pada 1907, wilayah Kepulauan Batam akhirnya tinggal menyisakan dua pemerintahan pribumi sebagai wakil kerajaan Riouw Lingga di Kepulauan Batam, yakni:

  1. Bagian paling utara, wakil Nongsa, adalah yang terkecil. Wilayahnya membentang dari muara Sungai Ladi di pantai utara Batam, ke timur sepanjang pantai hingga ke kampung Bagan dekat muara Sungai Doeriankang, Kangboi, dan Assiamkang. Batas wilayah di pedalaman ditandai oleh Sungai Ladi dan Doeriankang. Pada masa ini, kewenangan ditangani oleh Raja Muhammad Saleh bin Raja Yakup. Dikenal juga oleh masyarakat dengan nama Raja Muhammad atau Raja Mahmud. Penanganan pemerintahan pribumi untuk wilayah ini sudah dilakukan oleh Raja Mahmud alias Raja Muhammad dari kampung Bagan, tidak lagi dari kampung Nongsa di ujung Utara pulau utama, Batam.
  2. Wilayah Pulau Boeloeh (P. Buluh) meliputi Galang, Rempang, pulau-pulau Tandjong San, Stoko, Bolang, Bolang Këbam, Loemba, Rapat, dan pulau-pulau Samboe dan Blakang Padang, dan bagian Batam yang tidak termasuk Nongsa, termasuk wilayah Kepulauan Sulit yang dilebur ke wilayah ini (pulau Terong, Kepala Jeri, Kasu dan sekitarnya). Pada masa ini, ditangani oleh Raja Ali (Kelana) Ibn Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi YDM Riouw X langsung dari pulau Penyengat.

Dikenal sebagai Sultan Soelit di pulau Sugi Besar

RAJA Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI menghabiskan masa tuanya di pulau Sugi Besar. Ia dimakamkan di dusun Sulit setelah wafat.

Gerbang komplek pemakaman Raja Husin dan keluarga di Dusun Sulit (Soelit) pulau Sugi Besar. © F. ylgi.org

Sebagai perintis pertama pemerintahan kerajaan Riouw Lingga di wilayah Kepulauan Sulit yang saat itu masuk dalam wilayah Kepulauan Batam, Raja Husin dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Sultan Soelit (Sulit, pen). Hingga saat ini, tempat kediamannya hanya dihuni oleh para keturunannya saja.

Makam Raja Husin dengan nisan terbesar di antara makam-makam keturunannya di Dusun Sulit (Soelit) pulau Sugi Besar. © F. ylgi.org

Pada komplek makam utama, terdapat 8 makam dengan makam yang terbesar merupakan makam Raja Husin.

Terdapat sebuah Tempayan besar dari tanah liat di sisi masuk makam utama.

Tempayan besar untuk membasuh di area komplek pemakaman Raja Husin di Dusun Sulit (Soelit) pulau Sugi Besar. © F. ylgi.org

Menurut salah satu keturunannya, Raja Antoni yang mendiami dusun ini bersama keluarga besar keturunan Raja Husin, air di dalam tempayan, tidak pernah kering walaupun tidak pernah diisi ulang. Isinya merupakan air pembasuh/pembersih kaki dan tangan bagi pengunjung yang berziarah ke komplek makam ini.

Raja Antoni, keturunan ke-7 dari Raja Husin. © F. ylgi.org

“Tak pernah diisi dan tak pernah kering”, ujar keturunan ketujuh Raja Husin itu.

(ham)

Kaitan Amir, batam, Battam, Camat, Raja Hoesin, Raja Husin, Wakil kerajaan, Wakilschap
Admin 26 Januari 2026 26 Januari 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali1
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Tertipu Oknum Ketua Ormas, Uang 60 jt Raib, Anak Gagal Jadi Polisi
Artikel Selanjutnya Susi Air Diganti Smart Aviation, Jadwal dan Rute Penerbangan ke Dabo Tidak Berubah

APA YANG BARU?

Hujan Angin Kencang Tumbangkan Pohon, Atap Rumah Warga Tertimpa
Artikel 9 jam lalu 141 disimak
PSG Juara Lagi: Tundukkan Arsenal Lewat Adu Penalti 4-3
Sports 10 jam lalu 134 disimak
Tabrakan Angkot vs Trailer di Jalan Brigjen Katamso, Tidak Ada Korban Jiwa
Artikel 10 jam lalu 171 disimak
Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi, Polisi Periksa Kadishub Batam
Artikel 1 hari lalu 257 disimak
“Menyusur Sungai Bersama Sultan, Terjebak Badai di Gunung Tanda”
Histori 1 hari lalu 294 disimak

POPULER PEKAN INI

27 Atlet Pelajar Kota Batam Ikuti Seleksi O2SN Cabor Panjat Tebing
Sports 7 hari lalu 703 disimak
“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
Histori 4 hari lalu 655 disimak
BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
Artikel 4 hari lalu 645 disimak
Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
Artikel 4 hari lalu 599 disimak
Prakiraan Cuaca Kepri Jumat (29/5/2026): Berawan hingga Hujan Ringan, Waspadai Petir
Artikel 3 hari lalu 555 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?