AKTIVITAS penerbangan dan mobilitas warga Kota Batam kini berhadapan dengan gangguan jarak pandang akibat sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kepulauan Riau. Angin yang membawa kabut asap memicu penurunan visibility secara signifikan sejak Senin pagi.
Jarak pandang alami yang biasa mencapai 10 kilometer saat cuaca cerah berawan menyusut hingga tersisa 6 kilometer. BMKG mencatat penurunan mulai terlihat pada Senin pukul 06.00 WIB, dengan ketebalan asap yang bervariasi akibat pengaruh dinamika atmosfer dan pergerakan angin.
Kendati efisiensi pandangan berkurang, jarak pandang 6 kilometer dinyatakan masih berada dalam batas aman untuk prosedur lepas landas (take off) maupun pendaratan pesawat di Bandara Hang Nadim.
Pemicu dan Sebaran Titik Api
PENURUNAN kualitas udara dan pandangan ini berakar dari kemunculan sejumlah hotspot di Kepulauan Riau. Salah satu penyumbang asap terbesar teridentifikasi dari kebakaran perbukitan dan semak belukar seluas 35 hektare di Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, yang berkobar sejak Sabtu (22/8). Meski berlokasi jauh dari area bandara, emisi asap tetap terdorong angin hingga menyelimuti objek vital dan berbagai sudut kota.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Fitri Annisa, menyebut pihak BMKG terus melakukan pemantauan ketat secara real-time untuk menyuplai data berkala bagi para pemangku kepentingan penerbangan. Warga juga diimbau aktif mencegah potensi kebakaran baru dengan meniadakan kebiasaan membakar sampah, tidak membakar lahan, dan membuang puntung rokok pada tempatnya, serta segera melaporkan titik api ke pihak berwenang.
(ham)


