Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Lupa Matikan Kompor, Dapur Warung di Tanjungpinang Ludes Terbakar
    13 jam lalu
    Sempat Ditahan di Malaysia, 4 Nelayan Asal Bintan Akhirnya Dipulangkan KJRI Johor Bahru
    14 jam lalu
    Anggaran Terbatas, Pemko Batam Baru Bisa Cover 4.000 Lansia dari 20 Ribu Target Penerima
    17 jam lalu
    Harga Emas di Batam Naik Lagi
    18 jam lalu
    Cuaca di Kota Batam Jum’at (3/07) Diprediksi Cerah Berawan
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kalahkan Austria 0-3, Tim Matador isi 1 Slot di Babak 16 Besar
    22 jam lalu
    Susul Kanada dan Meksiko, Tuan Rumah Amerika Masuk Babak 16 Besar
    2 hari lalu
    Dramatis Belgia Kontra Senegal, Belgia Unggul 3-2
    2 hari lalu
    Dual Gol Harry Kane ke Gawang Kongo Bawa Inggris ke Babak Selanjutnya
    2 hari lalu
    Catatan Rekor Mengesankan Iringi Meksiko Lolos ke Babak 16 Besar
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    13 jam lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    14 jam lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    17 jam lalu
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    4 hari lalu
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    7 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Jejak Tanjung Uban; “Oil Town into Paradise” di Masa Hindia Belanda

Editor Admin 3 tahun lalu 3.2k disimak
Salah satu sudut kota tua Tanjung Uban © F. bintorosuryo.com

TANJUNG Uban adalah sebuah kota tua di bagian Utara pulau Bintan. Kota kecil itu sudah ramai sejak dulu karena letaknya yang strategis, selat Uban yang terletak di hadapannya, terhubung ke laut China Selatan.

Daftar Isi
Nama Tanjung UbanTanjung Uban di Masa Hindia BelandaTanjung Uban Paska Kemerdekaan

Oleh : Bintoro Suryo


ADA aktifitas pelayaran yang Ramai di sana sejak dahulu. Dari perairan di hadapannya, terlihat banyak depo-depo minyak yang kini dikelola Pertamina. Depo-depo tersebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Menukil laman kemendikbud, Sejarawan Aswandi Syahri menulis sejarah Kota Tanjunguban di Kabupaten Bintan, tidak dapat dilepaskan dari pembangunan instalasi pangkalan minyak milik Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM).

Tidak berlebihan bila mengatakan bahwa tonggak penting sejarah Kota Tanjung Uban bermula ketika NKPM mulai membangun pangkalan minyak. Pangkalan minyak itu untuk menampung produksi kilang minyak Sungai Gerong di Sungai Musi, Palembang yang pembangunannya selesai sekitar tahun 1930.

Sejak saat itu, Tanjung Uban bergerak dari sebuah kampung nelayan menjadi kota kecil yang lebih ramai. Bahkan pada suatu ketika di tahun 1948, masyarakat di “kota minyak” dan semua pekerja di pangkalan minyak ini pernah mencapai taraf kemakmuran yang signifikan.

Semua barang kebutuhan pokok disubsidi, sehingga hidup bagaikan di surga. “Oil Town Into Paradise”, begitu tulisan Alan Wolstenholme dalam surat kabar The Straits Times, 28 Oktober 1948 untuk menggambarkan kota kecil Tanjung Uban di bagian Utara pulau Bintan saat itu.

Paska dikelola oleh Pertamina, Depo minyak di Tanjung Uban kini menjadi 10 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Utama yang menerima FAME (Fatty Acid Methyl Eter) dan menyalurkan Biosolar 20 persen (B20) ke TBBM di sekitarnya di Indonesia.

Pertamina menyebut, TBBM Tanjung Uban sebagai Terminal Utama, diestimasikan bisa menyerap FAME sekitar 8.700 KL per-bulan. FAME yang diblending dengan Solar menjadi Biosolar atau B20, selanjutnya didistribusikan ke sejumlah TBBM sekitarnya antara lain TBBM Kijang, Kabil-Batam, dan Natuna.

Nama Tanjung Uban

Penamaan Tanjung Uban berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat berasal dari sebuah pohon yang sudah tua, daun dan akarnya menjuntai ke bawah dan berwarna putih. Orang yang lihat dari laut, pohon itu seperti uban. Karena daratan di Tanjung Uban, menjorok ke laut, sehingga disebut tanjung.

Salah satu sudut kota tua Tanjung Uban, © F. bintorosuryo.com

Pohon itu letaknya di samping Keramat Tanjung Uban. Tapi kini sudah tak tersisa lagi. Dan pohon itu pun tak sempat diberi nama oleh penduduk. Tentang Keramat Tanjung Uban, diyakini adalah makam seorang ulama besar yang meninggal dalam perjalanan dari Semenanjung Malaka menuju Negeri Betawi di Sunda Kelapa.

Tanjung Uban di Masa Hindia Belanda

Pada masa Kesultanan Johor, Riau Lingga dan Pahang pada era Hindia Belanda, Tanjung Uban sudah ada. Pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Daeng Celak (1728-1745) telah diusahakan perkebunan gambir di Pulau Bintan (termasuk bahagian darat Tanjung Uban) yang dikerjakan oleh buruh-buruh Cina dan Melayu.

Sedangkan bahagian pesisir Tanjung Uban yang menghadap Selat Riau adalah daerah rawa-rawa yang pada umumnya dihuni oleh nelayan Melayu. Jadi pada abad ke 18, Tanjung Uban sudah ramai dihuni oleh masyarakat Melayu dan Cina.

Kapal ‘Stanvac Pendopo’ yang mengangkut minyak saat merapat di pelabuhan Tanjung Uban pada bulan Februari 1948. © Photo Copyright Harold Corsini – aukevisser.nl

Tanjung Uban menjadi lebih ramai setelah Pemerintah Hindia Belanda membangun tempat pengisian dan penyimpanan minyak pada tahun 1930 yang dikelola oleh STANVAC (Standard Vacuum Pertolium Company). Para pekerja Stanvac adalah orang Cina kanton yang didatangkan dari Singapura. Baru pada tahun 1932, Stanvac menerima pegawai anak-anak Melayu dan pendatang dari luar daerah.

Tahun 1934, orang-orang Cina mulai membuka warung-warung kopi dan toko-toko kelontong di Tanjung Uban. Di samping itu, didirikan juga Sekolah Cina di sekitar Kampung Cenderawasih. Tahun 1941, Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Tanjung Uban sebagai pusat KNIL (Koninkelijk Nederlands Indisch Leger) untuk wilayah Residen Riau. Maka dibangunlah perumahan tentara yang sekarang menjadi Komplek TNI-AL

Tahun 1947, untuk membantu Angkatan Laut Belanda menjaga pantai dan penyelundupan maka Departemen Van Sheepvaat membentuk satuan tugas yang diberi nama ” Zee en Kustbeweking Dienst ” ( Dinas Penjagaan Laut dan Pantai ) yang berpangkalan di Tanjung Uban. Tahun 1949, Jawatan Pelayaran RI membangun asrama, dermaga, proyek air minum jago yang sekarang menjadi Komplek KPLP/Kesyahbandaran.

Tanjung Uban Paska Kemerdekaan

Berdasarkan SK.Provinsi Sumatra Tengah No.9/Dper/Ket/50 tanggal 8 Mei 1950 tentang otonomi Tingkat II Kepulauan Riau, dibentuk Kresidenan Tanjungpinang yang membawahi Kecamatan Bintan Selatan, Kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Galang dan Kecamatan Batam. Dengan demikian secara pemerintahan, daerah Tanjung Uban telah menjadi Kecamatan sejak tahun 1950.

Salah satu bangunan tua di Tanjung Uban, © F. bintorosuryo.com

Sebelum tahun 1963, penduduk Kota Tanjung Uban menggunakan Dollar Singapura dalam transaksi jual-beli, seperti halnya penduduk Provinsi Kepulauan Riau lainnya. Rupiah Kepulauan Riau (KR) merupakan mata uang penduduk setelah terjadinya konfrontasi dengan Kerajaan Malaysia sebelum bergabung dengan Rupiah sebagai mata uang RI pada tahun 1964.

Walaupun penduduk Kota Tanjung Uban berasal dari berbagai etnis, seperti terlihat adanya kampung-kampung yang bernama: Kampung Jawa dan Kampung Bugis dalam kawasan ini, namun sehari-hari dalam berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Melayu Kepulauan.

Tugu ‘Tanjung Uban’ di kota tua Tanjung Uban, © F. bintorosuryo.com

Saat ini, Tanjung Uban menjadi sebuah kelurahan dengan nama kelurahan Tanjung Uban Kota dan merupakan salah satu kelurahan yang ada di kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan.

(*)

Sumber : 
'Tanjung Uban - p2k.stekom.ac.id 
'Tanjunguban, ‘Kota Pelabuhan’ di Bintan' - kemendikbud.go.id
'Selayang Pandang tentang Asal-Usul Tanjung Uban' - kompasiana.com 
'Kecamatan Bintan Utara' - bintantourism.com
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini terbit pertama kali di : bintorosuryo.com

Kaitan Angkatan laut, bintan, hindia belanda, History, Minyak, pertamina, sejarah, Stanvac, Tanjung uban
Admin 30 November 2023 30 November 2023
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali3
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya 141 Rumah Warga di Karimun Terendam Banjir 
Artikel Selanjutnya KPU Batam Tetapkan 320 Titik Pemasangan Alat Peraga Kampanye

APA YANG BARU?

Lupa Matikan Kompor, Dapur Warung di Tanjungpinang Ludes Terbakar
Artikel 13 jam lalu 156 disimak
Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
Seni 13 jam lalu 134 disimak
Sempat Ditahan di Malaysia, 4 Nelayan Asal Bintan Akhirnya Dipulangkan KJRI Johor Bahru
Artikel 14 jam lalu 126 disimak
Pulau Los, Tanjungpinang
Wilayah 14 jam lalu 128 disimak
Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
Statistik 17 jam lalu 148 disimak

POPULER PEKAN INI

Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
Statistik 7 hari lalu 411 disimak
Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
Rupa 7 hari lalu 341 disimak
Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
Artikel 5 hari lalu 320 disimak
Lebih Mudah dan Murah, Trans Batam Resmi Layani Tujuan Bandara Hang Nadim
Artikel 4 hari lalu 311 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 5 hari lalu 288 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?