Hubungi kami di

Histori

Kisah Pilu di Balik Jalan 1.000 KM Peninggalan Daendles

nien bagaskara

Terbit

|

DALAM waktu tiga tahun masa pemerintahannya, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Williem Daendels menyisakan penderitaan yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Di bawah kepemimpinan pria bertangan besi itu, ia berhasil membangun berbagai sektor di Hindia Belanda untuk kepentingan ekonomi maupun pertahanan.

Salah satu peninggalannya yang paling membekas dibenak masyarakat Indonesia adalah pembangunan Jalan sepanjang 1.000 Kilometer dari Anyer Panarukan atau yang disebut juga Jalan Raya Pos. Banyak sejarawan berpendapat bahwa jalan ini dibuat oleh Daendels mulai dari Buitenzorg menuju Cisarua kemudian diteruskan hingga Sumedang pada Mei 1808.

Sumber lain berpendapat bahwa jalan Daendels ini dibangun mulai dari Meester Cornelis (Jatinegara) selanjutnya ke selatan (Buitenzorg). Dalam peta Raffles terbitan London 1817 (peta ini lebih tua daripada peta – peta Belanda), dapat diketahui bahwa Jalan Raya yang dibuat Daendles ini dimulai dari Banten.

Dalam pembuatan jalan ini, berbagai kendala dihadapi oleh para pekerja. Mereka sempat berhenti bekerja ketika menemukan kesulitan di pegunungan Cadas di Sumedang. Para pekerja menolak melanjutkan pekerjaan yang sangat berat itu.

Keadaan ini membuat Pangeran Korel turun tangan dan menghadap Daendels. Ia meminta pengertian dan pemahaman Daendels atas keberatan para pekerja tersebut. Daendels pun memerintahkan Brigadir Jenderal von Lutzow yang menjabat sebagai komandan pasukan Zeni untuk segera mengambil tindakan dengan tembakan artileri bukit cadas berhasil diratakan. Pembuatan jalan berhasil diteruskan hingga Karangsambung.

Ilustrasi Daendels

Ilustrasi Daendels

Bayaran yang tak adil

Selanjutnya pada Juni 1808 setibanya di Karangsambung, Daendels menyediakan dana 30.000 gulden untuk membayar tenaga kerja. Pemberian upah didasarkan pada beratnya lokasi yang ditempuh seperti batuan padas, hutan lebat, lereng bukit atau gunung, keterjalan lokasi dan sebagainya.

Rinciannya antara lain rute Cisarua-Cianjur (10 ringgit perak per orang/bulan), Cianjur-Rajamandala (4 ringgit perak per orang/bulan), Rajamanadala-Bandung (6 ringgit perak per orang/bulan), Bandung-Parakanmuncang (1 ringgit perak per orang/bulan), Parakanmuncang-Sumedang (5 ringgit perak per orang/bulan), dan Sumedang-Karangsembung (4 ringgit perak per orang/bulan).

Selain upah, para pekerja juga mendapatkan beras dan garam. Namun di luar dugaannya, dana tersebut habis untuk pembiayaan jalan dan pemberian upah pekerja.

Untuk menyiasati kehabisan dana, Daendels mengumpulkan semua penguasa pribumi termasuk para bupati di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di rumah residen Semarang. Dia menyampaikan maksudnya untuk melanjutkan pembangunan jalan raya dari Cirebon sampai Surabaya.

BACA JUGA :  Nomor-Nomor Punggung Yang Dipensiunkan

Daendels meminta kepada mereka agar menyediakan tenaga kerja dengan menggunakan sistem kerja yang berlaku pada masyarakat yaitu heerendiensten, kerja wajib untuk raja. Untuk membangun proyek ini, Daendels mewajibkan setiap penguasa pribumi untuk memobilisasi rakyat dengan target pembuatan jalan sekian kilometer.

Tapi sadisnya, tidak sedikit priyayi atau penguasa pribumi yang gagal mengerjakan proyek ini dibunuh bersama para pekerjanya. Banyaknya korban pada pembuatan jalan Daendels ini masih simpang siur, menurut sejarawan korban meninggal sekitar 15 ribu orang dan di antara mereka dikubur secara tidak layak.

Daendels pun semakin keras menghadapi rakyat, dia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya.

1. Pro dan kontra

Setelah Jalan Anyer-Panarukan selesai, Daendels mengeluarkan tiga peraturan terkait dengan pangaturan dan pengelolaan jalan raya ini. Peraturan pertama dikeluarkan pada 12 Desember 1809 berisi aturan umum pemanfaatan jalan raya, pengaturan pos surat dan pengelolaannya, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta pos, komisaris pos, dinas pos dan jalan.

Peraturan kedua keluar pada 16 Mei 1810 tentang penyempurnaan jalan pos dan pengaturan tenaga pengangkut pos beserta gerobaknya. Peraturan ketiga tanggal 21 November 1810 tentang penggunaan pedati atau kereta kerbau, baik untuk pengangkutan barang milik pemerintah maupun swasta dari Batavia, Priangan, Cirebon, sampai Surabaya.

Meski begitu, pembangunan Jalan Anyer-Panarukan hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Di satu pihak pembangunan Jalan Raya Pos dipuji, namun disisi lain banyak pihak dicaci karena mengorbankan banyak nyawa.

Dampak jalan raya itu ternyata jauh melampaui perkiraan Daendels, terlebih dalam sarana ekonomi kolonial. Jalan ini mempersingkat waktu tempuh: Batavia-Surabaya dapat ditempuh dalam lima hari; pengiriman pos Batavia-Semarang hanya memerlukan 5-6 hari, sebelumnya memakan 14 hari di musim kemarau atau tiga minggu sampai sebulan di musim hujan.

Jalan ini memungkinkan pengembangan dan komersialisasi produk-produk perkebunan. Jalan ini juga menciptakan sebuah kelompok sosial penting, yaitu kaum pedagang perantara. Terakhir dan terutama, jalan raya ini menimbulkan pergerakan penduduk yang berpengaruh ke segala bidang. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook