Hubungi kami di

Khas

“Naik Kelas Tapi Rupiah Merosot”

ilham kurnia

Terbit

|

BANK Dunia menaikkan status Indonesia dari middle income menjadi upper middle income country pada Kamis (2/7/2020) pekan ini.

Dalam keterangan resminya, Kementerian Keuangan menyebutkan kenaikan status tersebut diberikan setelah berdasarkan asesemen Bank Dunia terkini, di mana gross national income (GNI) per capita Indonesia pada 2019 naik menjadi US$4.050 dari posisi sebelumnya U$$3.840.

Sebagaimana diketahui, Bank Dunia membuat klasifikasi negara berdasarkan GNI per capita dalam 4 kategori, yaitu low income US$1.035, lower middle income (US$1.036 – US$4,045), upper middle income (US$4.046 – US$12.535), dan high income (>US$12.535).

Klasifikasi kategori ini biasa digunakan secara internal oleh Bank Dunia.

Namun, kategori itu juga dirujuk secara luas oleh lembaga dan organisasi internasional dalam operational guidelines.

Bank Dunia menggunakan klasifikasi ini sebagai salah satu faktor untuk menentukan suatu negara memenuhi syarat dalam menggunakan fasilitas dan produk Bank Dunia, termasuk loan pricing (harga pinjaman).

Kenaikan status Indonesia tersebut merupakan bukti atas ketahanan ekonomi Indonesia dan kesinambungan pertumbuhan yang selalu terjaga dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, pada Jumat (3/7/2020), Rupiah masih melanjutkan pelemahannya. Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 180 poin atau 1,25 persen ke level Rp14.557 per dolar AS pada pukul 11:00 WIB.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo dikutip dari Bisnis mengatakan dalam beberapa hari terakhir, kondisi global relatif stabil. Kendati demikian, nilai tukar rupiah menjadi salah satu mata uang yang terpuruk di regional.

Menurut Dody, pemicunya karena masalah domestik, yaitu isu gelombang kedua pandemi Covid-19, termasuk juga isu DPR terkait burden sharing, dan isu lainnya.

Dody menyampaikan nilai tukar rupiah memang tidak mudah dikelola karena berhadapan dengan ekpektasi dan confidence di pasar.

“Ini berakibat rupiah tertekan. Jadi, ini menunjukkan upaya stabilitas nilai tukar harus dilakukan secara tepat oleh BI,” katanya dalam webinar LPPI, Jumat (3/7/2020).

Dody menyampaikan aliran portofolio asing ke SBN mulai masuk dalam beberapa hari terakhir. Namun, kondisi ini bisa berbalik jika kepercayaan investor asing menurun.

BI memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran 14.000-14.600 di akhir tahun 2020. Doddy menambahkan, nilai tukar rupiah memang masih masih undervalue.

Namun, dia yakin rupiah akan kembali menguat dengan inflasi dan current account deficit (CAD) yang diperkirakan rendah.

Adapun, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa saat ini rupiah kembali dikelilingi sentimen negatif, salah satunya arus dana asing yang keluar dari pasar dalam negeri.

Pasar masih khawatir terhadap kasus Covid-19 yang belum menunjukkan sinyal mereda.

Dengan demikian, rupiah diyakini masih akan bertahan di zona merah.

Namun, sebagian pasar cukup optimistis terhadap perkembangan vaksin. Apalagi terdapat kabar pengujian vaksin dari BioNTech berhasil meningkatkan imun.

(*)

Sumber : Kemenkeu / Bisnis

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *