Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    BMKG: Cuaca Hari Ini (20/04/2026) Berawan dan Hujan Ringan
    2 jam lalu
    Lomba Cerdas Cermat Kader Posyandu Tanjungpinang Diikuti 145 Tim
    12 jam lalu
    Tersangka Pembakar Rumah Kos di Komplek Wijaya Kusuma Tertangkap
    12 jam lalu
    Polisi Amankan 34 Calon Pekerja Migran Ilegal di Batam Centre
    12 jam lalu
    Kecelakaan Lalu Lintas di Kepri Didominasi Usia Produktif serta Pelajar
    12 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Pulau Minyak dan Karantina; Sambu, 1929”
    3 jam lalu
    Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
    3 hari lalu
    Kampanye Keselamatan Berlalu Lintas Digelar di SMKN 1 Batam
    3 hari lalu
    Berapa Lama Emas Harus Disimpan Agar Menguntungkan?
    6 hari lalu
    Pemko Batam Rencanakan Bangun Zona Selamat Sekolah di SD Negeri 001 Batam Kota
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    1 bulan lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    2 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    3 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    3 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    4 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Ong Sam Leong, Orang Di Balik Batam Brickworks”

Editor Admin 3 bulan lalu 2.9k disimak
Pabrik batu bata ‘Batam Brickworks’ terlihat dari perairan pulau Batam. © Cornell University Library/ koleksi pribadi Bintoro SuryoDisediakan oleh GoWest.ID

ONG Sam Leong (1857-1918) adalah sosok pengusaha Tionghoa yang dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah bisnis di negeri Jiran itu.

Daftar Isi
Pengusaha Berpengaruh dari SingapuraBatam Brickwork di pulau Batam

Oleh: Bintoro Suryo


IA lahir dalam keadaan sederhana. Ong hanya mendapatkan pendidikan formal yang terbatas, namun semangat dan ketekunan, membawanya meraih kesuksesan yang luar biasa.

Pengusaha Berpengaruh dari Singapura

KARIER bisnis Ong dimulai saat ia menjadi agen komisi pada usia 21 tahun. Ketertarikan Ong terhadap industri kayu membawanya ke Pahang dan Kemaman di Terengganu, Semenanjung Malaya. Dalam buku : ‘One hundred years history of the Chinese in Singapore (1967)’, puncak karier Ong disebutkan terjadi pada tahun 1899 ketika ia menandatangani kontrak dengan Christmas Island Phosphate Company Limited untuk menyediakan tenaga kerja ke Pulau Natal, sebuah pulau yang terletak 400 km di selatan Jawa.

Ong Sam Leong. © Christmas Island Archive/ koleksi pribadi Bintoro Suryo

Perusahaannya, Ong Sam Leong and Company, berhasil menguasai kontrak ini, memanfaatkan “rumah kuli” di Pagoda Street, Singapura, untuk merekrut pekerja, sebagian besar dari Guangdong dan Guangxi, Tiongkok. Selain itu, Ong juga memiliki toko kelontong di Pulau Natal, yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi para pekerja tambang.

Usahanya tidak berhenti di situ; sebelumnya, ia juga disebutkan telah memiliki pabrik batu bata di Batam dengan nama ‘Batam Brickwork’ dan sejumlah saham di pabrik gergaji di Singapura.

Ong Sam Leong dalam sebuah foto di pulau Christmas, © Christmas Island Archive/ koleksi pribadi Bintoro Suryo

Ketika Ong meninggal pada tahun 1918, ia meninggalkan warisan yang meliputi berbagai properti dan perkebunan karet. Dua putranya, Boon Tat dan Peng Hock, melanjutkan jejak kesuksesan ayah mereka dengan mendirikan taman hiburan New World di Jalan Besar pada tahun 1923, yang menjadi salah satu destinasi hiburan terbesar di Singapura.

Jurnalis Straits Times Singapura, Lee Hwee Hoon melaporkan pada tahun 2006 silam, makam sang pengusaha sukses yang sempat terlantar bertahun-tahun, akhirnya ditemukan oleh seorang kepala sekolah di negeri singa itu, Tan Bee Luan.

Komplek makam Ong Sam Leong di bukit Brown, Singapura. © Bukit Brown Cemetery/ koleksi pribadi Bintoro Suryo

Tan yang juga merupakan pensiunan dari kantor arsip nasional Singapura, saat itu menyebut makam Ong Sam Leong yang terletak di Bukit Brown Cemetery, merupakan yang terbesar di sana. Luasnya sekitar 600 meter persegi dan dihiasi dengan ornamen khas Tionghoa, termasuk patung singa dan kuil dewa bumi. Makamnya ditemukan dalam keadaan terlantar. Setelah dibersihkan, makam tersebut didokumentasikan oleh Arsip Nasional Singapura. Yang menarik, makam sang pengusaha tersusun dari batu bata bermerk ‘Batam’.

Patung Ong Sam Leong di komplek pemakamannya yang ditemukan terlantar pada 2006. © Wiki Common/ koleksi pribadi Bintoro Suryo

Untuk menghormati Ong, sebuah jalan di Singapura dinamakan Sam Leong Road, yang terletak di antara Jalan Besar dan Verdun Road. Jalan ini sebelumnya dikenal sebagai Paya Road sebelum diubah namanya oleh Komisaris Munisipal pada tahun 1928.

Batam Brickwork di pulau Batam

MAKAM Ong Sam Leong di Bukit Brown, dibangun menggunakan batu bata dengan merk “Batam” yang tercetak di atasnya. Informasi yang umum adalah Ong Sam Leong pernah menjadi pemilik Batam Brick Works.

Ketika membaca dari sumber yang berbeda, terutama pada artikel yang terbit setelah tahun 2009, ada klaim bahwa Ong Sam Leong bukan pemilik, melainkan mitra bisnis Batam Brick Work selama periode singkat (1898-1901). Pemilik Batam Brick Company, Pulau Batam, dan Singapura disebutkan adalah Raja Ali Kelana, seorang bangsawan dari kesultanan Riouw Lingga yang memegang hak konsesi lahan di pulau Batam pada masanya. Raja Ali disebutkan merupakan pemilik tunggal sampai akhirnya dibeli oleh Sam Bee Brick Works pada tahun 1910.

Sementara dalam sebuah catatan lain, Raja Ali Kelana disebut mengembalikan modal Ong Sam Leong di awal-awal tahun perintisan mereka berdua, sehingga modal dan kepemilikan pabrik batu bata menjadi miliknya sendiri.

Melalui orang kepercayaannya, ia kemudian terus mempublikasi perihal kepemilikan tersebut hingga beberapa tahun kemudian di sejumlah surat kabar yang terbit di Singapura. Seperti yang dilakukan oleh orang bernama Raja Mohammed Akib yang mempromosikan ‘pengambil alihan’ perusahaan itu oleh Raja Ali Kelana dalam kolom iklan The Singapore Free Press and Merchantile Advertiser.

Berdasarkan dokumen ‘Twentieth Century Impressions of British Malaya‘ yang diterbitkan oleh Lloyd Greater Britain Publishing Company Ltd pada 1908, pabrik batu bata ‘Batam Brickworks’ tercatat telah lama beroperasi di Batam, sebelum Raja Ali Kelana masuk dalam kepemilikan pada sekitar tahun 1896. Pada saat diambil alih oleh Raja Ali Kelana dari kemitraan bersama Ong Sam Leong di awal abad 20, ‘Batam Brickworks’ di Batam sebenarnya telah mampu memproduksi hingga 30.000 ribu batu bata dalam sehari.

Pabrik batu bata ‘Batam Brickworks’ terlihat dari perairan pulau Batam. © Cornell University Library/ koleksi pribadi Bintoro Suryo

Dalam buku ‘Islamic Modernism in Malaya (Ibrahim bin Abu Bakar, 1994), setelah mengakuisisi kepemilikan sendiri, Raja Ali Kelana kemudian menyerahkan pengelolaan bisnis Batam Brickwork kepada orang kepercayaannya, Syed Sheikh Alhady dan seorang Tionghoa bermarga Tan untuk menjalankan bisnis batu batanya di Singapura. Mereka juga menggandeng seorang Eropa untuk menjadi pengelola. Sementara Raja Ali Kelana yang bermodal konsesi lahan pada awal keterlibatan di ‘Batam Brickworks’, tetap bertempat tinggal di pulau Penyengat.

“…according to Syed Sheikh Alhady and Tan, Raja Ali Kelana owned the Batam Brickwork, but did not manage them himself since he was living in pulau Penyengat. The Business was first managed by a European. However, after the European left the post, it was given to Al Hadi. The head office for the Business was in prince Street, Singapore. Al Hady became a manager and stayed in Singapore …” (Ibrahim bin Abu Bakar, 1994)

Namun, dari tahun 1912-1921, Ong Sam Leong & Co. tampaknya telah mengambil alih kendali Batam Brick lagi.

Seorang pekerja di pabrik batu bata ‘Batam Brickworks’ di daerah Batoe Hadji (Batuaji) Batam. © Cornell University Library/ koleksi pribadi

Suplai produksi batu bata di ‘Batam Brickworks’ kala itu, terutama untuk memenuhi kebutuhan di Singapura, pada departemen kereta api serta menangani suplai permintaan batu bata untuk negeri-negeri Melayu di semenanjung Malaya. Dengan masuknya Raja Ali Kelana dan klaim kepemilikannya sendiri sejak awal abad 20, produksi batu bata di Batam, telah ditingkatkan menjadi dua kali lipat.

Mesin produksi batu bata di pabrik ‘Batam Brickworks’ yang didatangkan untuk meningkatkan produksi sekitar tahun 1900. © Cornell University Library/ koleksi pribadi Bintoro Suryo

Paska penambahan mesin produksi, pengelola ‘Batam Brickworks’ mulai mempromosikan produk mereka untuk pemasaran yang lebih luas lagi. Iklan pertama untuk penjualan batu bata dari pabrik batu bata ‘Batam Brickwork’ muncul pada tahun 1900, dan kantor mereka di Singapura terletak di 135 Prinsep Street. Agen yang menangani penjualan bernama Syed Sheikh Alhady.

Iklan Batam Brickwork di surat kabar Singapura tahun 1900. © National Library Singapore

Pada tahun berikutnya, iklan yang diterbitkan di surat kabar Singapura memberikan wawasan lebih lanjut tentang Batam brick works. Pada tahun 1901, pengelola usaha itu memenangkan medali perunggu di Penang Agriculture Show (untuk kualitas batu bata). Pada tahun 1904, pengelola Batam Brickwork juga mendapat penghargaan lain, yakni medali perunggu Hanoi.

Pemberitaan awal tidak menyebutkan pemilik, tetapi lebih menyoroti kualitas batu bata yang meningkat, yang memenangkan dua penghargaan penting untuk kualitasnya.

Sementara pada artikel tahun 1909 yang berjudul “Sebuah Cerita yang Rumit dari Pulo Batam“, sebuah gugatan yang dibatalkan oleh Messrs. Been, Meyer dan Co. Limited melawan Raja Ali, pemilik Batam Brick Works, memberikan wawasan baru tentang kepemilikan awal perusahaan itu dan kemungkinan petunjuk bahwa bisnis tersebut sedang menghadapi masalah arus kas pada tahun tersebut.

Publikasi pada tahun 1909. © National Library Singapore

Pada tahun 1909, harga batu bata adalah $160 per 10.000 batu bata. Pada tahun 1910, ada iklan yang menyoroti perubahan kepemilikan Batam Brick Works, yang diambil alih oleh Sam Bee Brick Works dan ditandatangani oleh Teo Hoo Lye.

Publikasi pada tahun 1909. © National Library Singapore

Pada tahun 1910, setahun menjelang dibubarkannya kesultanan Riouw Lingga dengan pemecatan Sultan Abdurrahman II oleh Pemerintah Kolonial Belanda, kepemilikan Batam Brickworks dipindahkan ke Sam Bee Brick Works. Dalam catatan Rojak Librarian, Raja Ali Kelana sebagai pemilik pabrik batu bata tersebut, menghadapi tekanan politik dari pemerintah Belanda yang melabelinya sebagai pemberontak potensial. Ia memutuskan untuk menjual bisnisnya dan pindah ke Johor.

Publikasi pada tahun 1910. © National Library Singapore

Pada tahun 1912, ada iklan lain yang menyoroti bahwa Batam Brick yang terkenal itu, telah berubah kepemilikan lagi. Yang menarik, kali ini di bawah pengawasan Eropa dengan agen penjualan Messrs. Boustead & Co. dan Ong Sam Leong (41 Robinson Road), mitra usahanya di awal masa perintisan Batam Brickworks.

Publikasi pada tahun 1912. © National Library Singapore

Terhitung pada tahun itu juga, bisnis Batam Brickworks kembali dipegang oleh Ong Sam Leong secara penuh. Produk batu batanya makin terdistribusi ke banyak wilayah di nusantara. Namun, pada tahun 1921, Batam Brick Work kemudian dijual oleh Ong Sam Leong & Co setelah kematian sang pemilik, Ong Sam Leong pada tahun 1918.

(*)

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan batam, Batam Brickworks, Batu bata, Brickwork, Chinese, History, kepri, kepulauan riau, malaysia, Ong Sam Leong, Raja Ali Kelana, sejarah, singapore, singapura, tionghoa
Admin 26 Januari 2026 26 Januari 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali2
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Waka BP Batam Hadiri Entry Meeting Laporan Keuangan dan Kepatuhan
Artikel Selanjutnya Pemungutan Suara Ulang di 24 Daerah: KPU dan Bawaslu Dikritik Soal Kelalaian

APA YANG BARU?

BMKG: Cuaca Hari Ini (20/04/2026) Berawan dan Hujan Ringan
Artikel 2 jam lalu 41 disimak
“Pulau Minyak dan Karantina; Sambu, 1929”
Histori 3 jam lalu 99 disimak
Lomba Cerdas Cermat Kader Posyandu Tanjungpinang Diikuti 145 Tim
Artikel 12 jam lalu 118 disimak
Tersangka Pembakar Rumah Kos di Komplek Wijaya Kusuma Tertangkap
Artikel 12 jam lalu 116 disimak
Polisi Amankan 34 Calon Pekerja Migran Ilegal di Batam Centre
Artikel 12 jam lalu 117 disimak

POPULER PEKAN INI

Kapolda Kepri Pastikan Proses Hukum Kematian Bripda Natanael Dijalankan Secara Transparan
Artikel 5 hari lalu 379 disimak
BP Batam Pastikan Pengadaan Pot Bunga Pakai Dana CSR
Artikel 5 hari lalu 325 disimak
BP Batam Segera Bangun Dua Jaringan Pipa Distribusi
Artikel 5 hari lalu 325 disimak
Penertiban Tambang Pasir Ilegal di Kampung Jabi, Batu Besar
Artikel 5 hari lalu 305 disimak
Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
Histori 3 hari lalu 296 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?