Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Kerjasama dengan BTP, Menteri P2MI Resmikan Migran Center di Batam
    17 jam lalu
    Bakrie Group Tertarik Berinvestasi di Batam
    2 hari lalu
    Timbul Kekhawatiran Pencemaran Laut Terjadi Akibat Tenggelamnya Kapal MV Golden Star 1
    2 hari lalu
    Prakiraan Cuaca Batam, Selasa dan Rabu Waspadai Hujan dan Petir
    2 hari lalu
    Ombudsman Kepri:”Batam Perlu Jalur Khusus Busway”
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Gol Tunggal Ole Romeny Menangkan Timnas Garuda Atas Mozambik
    21 jam lalu
    Piala Dunia 2026, Berikut Jadwal Lengkap Babak Penyisihan Grup
    2 hari lalu
    Tiket Semifinal Dramatis: Eksekusi Penalti Evandra Florasta Singkirkan Vietnam
    3 hari lalu
    Bagaimana Kota Pesisir Pengaruhi Kesehatan Terumbu Karang: Kisah dari Batam dan Natuna
    3 hari lalu
    Anakronisme Gambar Raja Ali Haji
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
    1 hari lalu
    Infografis: Penanganan Insiden Tenggelamnya MV Golden Star 1 di Selat Singapura
    4 hari lalu
    Data Inflasi di Propinsi Kepri Semester I 2026
    4 hari lalu
    Data, Kuota dan Distribusi BBM Bersubsidi di Batam
    5 hari lalu
    Raja Haji Ali (Tengku Selat)
    6 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    5 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    11 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
BenarNews.org

Pakar: Jumlah Kelas Menengah Turun, Ekonomi Nasional Dalam Bahaya

Editor Admin 2 tahun lalu 777 disimak
Firdaus Wadjidi, seorang fotografer lepas sejak mengalami PHK setahun lalu, sedang mengedit video di kediamannya di Ciledug, Tangerang, Banten, pada 12 September 2024. © F. Pizaro Gozali Idrus/BenarNewsDisediakan oleh GoWest.ID

SETELAH mengalami pemutusan hubungan kerja dari sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta awal tahun ini, Triana Rahmawati, harus benar-benar menghitung pengeluaran keluarganya. 

Daftar Isi
“Turun kelas”Bahayakan ekonomi nasionalAkhiri era upah murah

SELAGI masih bekerja, perempuan berusia 35 tahun itu mendapatkan gaji di atas upah minimum, cukup untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai pendidikan dua anaknya yang duduk di sekolah dasar dan pra-sekolah.

“Suami saya masih bekerja, tapi kami menjadi single income dari sebelumnya double income. Saya harus siap hidup serba terbatas,” ujar Triana kepada BenarNews, Kamis (12/09).

Dia khawatir suaminya juga kehilangan pekerjaan karena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) juga sering melanda sektor tersebut.

“Sekarang saya masih cari-cari pekerjaan, sambil belajar ini itu. Jadi jika kembali bekerja saya punya keterampilan yang bisa dijual,” ujar Triana yang kini sedang belajar pemograman komputer.

Kisah yang sama dialami Firdaus Wajidi, 42 tahun, seorang fotografer lepas. Sejak mengalami PHK pada Agustus 2023 lalu, kondisi ekonomi keluarganya cukup sulit.

Bapak tiga anak ini, kesulitan membayar kebutuhan sekolah, cicilan rumah dan untuk bahkan kebutuhan sehari-hari.

Sebagai seorang pekerja lepas, dia tidak bisa mempunyai jaminan pendapatan tiap bulan. Kadang dalam satu bulan hanya ada satu dua pekerjaan yang menggunakan jasanya, sedangkan kebutuhan hidup harus terpenuhi sehari-hari.

“Mau mencoba melamar pekerjaan di media agak susah, karena usia yang sudah 40 tahun lebih. Selain itu hampir semua perusahaan media di Jakarta sedang tidak bagus keuangannya,” ujar Firdaus.

Untuk menopang ekonomi keluarga, Firdaus bersama istrinya memproduksi dan menjual donat dan risol mayo, meski tidak terlalu laku karena daya beli masyarakat juga menurun.

Rahmat Hidayat, 44, melayani pelanggan sambil menyiapkan jualan bakso bakarnya di Karawang, Jawa Barat, 31 Juli 2024. Ia terkena PHK saat pabrik sepatu tempatnya bekerja tutup tahun lalu. [Stefanno Sulaiman/Reuters]

“Turun kelas”

BADAN Pusat Statistik (BPS) mengkonfirmasi fenomena yang terjadi pada Triana dan Firdaus juga dialami jutaan keluarga lain, yaitu “turun kelas” – dari kelas menengah menjadi aspiring middle class atau kelas menengah rentan.

Dalam kurun waktu 2019 hingga 2024, jumlah kelas menengah di Indonesia turun hingga hampir 10 juta orang. Pada 2019 jumlah kelas menengah sebanyak 57,33 juta orang, turun menjadi 47,85 juta orang tahun ini.

Sebaliknya, kelas menengah rentan naik dari 128,85 juta jiwa pada 2019 menjadi 137,5 juta jiwa pada 2024, kata BPS.

Kelas menengah di Indonesia didefinisikan secara resmi sebagai rumah tangga dengan pengeluaran Rp2 hingga Rp9,9 juta per bulan.

Jumlah kelompok miskin pun meningkat tahun ini menjadi 25,22 juta jiwa, sedikit lebih tinggi dari 25,14 juta jiwa pada 2019, menurut BPS.

Menurut BPS, penyebabnya adalah efek pandemi COVID-19 masih belum hilang yang menyebabkan gelombang PHK di berbagai industri.

Menurut data Kementerian Tenaga Kerja, sebanyak 46.240 pekerja mengalami PHK pada periode Januari – Agustus 2024.

Menanggapi fenomena ini, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah akan memberikan perlindungan jaminan sosial baik kesehatan maupun ketenagakerjaan untuk kalangan menengah yang turun kelas. 

Menurut Muhadjir, meski ada penurunan jumlah kelas menengah, tapi di sisi lain ada penurunan tingkat kemiskinan ekstrem.

“Angka kemiskinan kita juga turun. Itu berarti ada miskin yang naik ke aspiring middle class,” ujar Muhadjir seperti dikutip Kompas.

Para pekerja turun ke jalan dalam sebuah unjuk rasa di Jakarta mengecam Undang-Undang Cipta Kerja yang menurut para aktivis dan pakar perburuhan bertujuan untuk memicu investasi di Indonesia dengan menggadaikan hak-hak buruh dan perlindungan lingkungan. [Achmad Ibrahim/AP]

Bahayakan ekonomi nasional

PENGAJAR dan Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Jahen Fachrul Rezki mengatakan penurunan jumlah kelas menengah ini membahayakan ekonomi nasional.

Menurut dia, kelas menengah penting karena kelompok ini, yang jumlahnya 66,35% dari penduduk Indonesia, adalah penopang utama ekonomi domestik dengan kekuatan belanja rumah tangga dan menguasai 81,49% dari total konsumsi.  

Selain itu, kata Jahen, kelompok menengah ini juga mempunyai kapasitas pengembangan keterampilan yang baik dan juga pembayar pajak.

“Jika jumlah kelas menengah turun akan ada dampak negatif bagi konsumsi rumah tangga nasional, ketersediaan tenaga kerja terdidik dan kemampuan negara mengumpulkan pajak,” ujar Jahen kepada BenarNews.

Menurut Jahen selain dampak Covid-19, penurunan kelas menengah di Indonesia terjadi karena pertumbuhan ekonomi, meski tumbuh 5%, selama ini tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan nilai tambah yang tinggi, meningkatkan produktivitas pekerja.

Pekerjaan yang muncul bersifat low value added (bernilai tambah rendah) seperti pada sektor retail maupun ekstraktif.

Menurut dia, pemerintah belum mampu menggerakkan sektor manufaktur atau jasa dengan nilai tinggi seperti sektor informasi dan teknologi komunikasi.

“Yang muncul gig economy (ekonomi berbasis pekerjaan freelance) seperti Gojek dengan value added rendah. Seharusnya Gojek itu hanya jadi sampingan, tapi Indonesia malah jadi pekerjaan utama,” ujar dia.

Yorga Permana, dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, mengatakan penurunan kelas menengah terjadi saat pekerja formal beralih menjadi pekerja informal, karena pekerjaan layak tidak tersedia di sektor formal.

Menurut Yoga, pemerintah belum memperhatikan kondisi pekerjaan layak yang didapatkan masyarakat.

Bahkan, tambah dia, seperti membiarkan sektor informal mendominasi pasar tenaga kerja dan tren gig economy sejak tahun 2014.

Selain itu, juga terjadi transformasi struktural yang tidak sempurna, yaitu terjadi penurunan tenaga kerja sektor pertanian dengan peningkatan tenaga kerja sektor jasa yang berketerampilan rendah.

“Perlu kerja layak untuk mendorong masyarakat keluar dari kemiskinan, melakukan mobilitas sosial, dan naik kelas ke kelas menengah,” ujar Yorga.

Para pencari kerja memadati sebuah bursa kerja di Surabaya, 10 September 2019. [Juni Kriswanto/AFP

Akhiri era upah murah

DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Muhammad Faisal mengatakan pemerintah perlu memperhatikan pendapatan kelas menengah pekerja formal.

Menurut dia, upah riil yang diterima para pekerja di Indonesia sekarang tidak sebanding dengan inflasi yang terjadi, meski nilai inflasi tidak begitu besar.

Pemerintah harus mengakhiri era pekerja bergaji murah, sehingga masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tinggi dan menciptakan lapisan kelas menengah yang kuat.

Tapi sebelum itu, kata Faisal, pemerintah harus memulai program untuk meningkatkan produktivitas dan keterampilan masyarakat. 

“Bisa saja upah secara nominal naik, tapi jika dibandingkan dengan inflasi, nilai upah sebenarnya tetap, tidak berubah dari tahun sebelumnya,” ujar dia.

Yorga menyarankan penciptaan kerja layak, yaitu kebijakan industri dengan fokus memberikan local multiplier (pengada lokal) terbesar, seperti sektor manufaktur atau tradable services (ekonomi digital, jasa perusahaan, keuangan).

Eko Listiyanto, Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), mengatakan dalam situasi seperti ini pemerintah bisa mengupayakan mengendalikan kenaikan harga barang dan jasa.

Selain itu, Eko juga merekomendasikan peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk menstimulasi kegiatan ekonomi dan melindungi industri padat karya.

“Tren suku bunga tinggi harus segera diakhiri untuk menggerakkan sektor riil dengan cara membanjiri likuiditas kredit bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) atau dunia usaha,” ujar Eko.

Sedangkan Jahen menyarankan pemerintah untuk memperhatikan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang baik namun murah untuk membantu mengurangi pengeluaran kelas menengah.

Karena pengeluaran terbesar kelas menengah di Indonesia masih untuk konsumsi, sehingga sisa pendapatan mereka berkurang untuk fasilitas pendidikan anak dan kesehatan, tambah Jahen.

Pizaro Idrus di Jakarta berkontribusi pada artikel ini. 

Kaitan Atas, Bawah, ekonomi, Kelas menengah
Admin 13 September 2024 13 September 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih1
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Membantu Penderita Gangguan Pita Suara Agar Bisa Berbicara Lagi
Artikel Selanjutnya Pendaftaran CPNS 2024 di Batam: Formasi Teknis Jadi Primadona

APA YANG BARU?

Kerjasama dengan BTP, Menteri P2MI Resmikan Migran Center di Batam
Artikel 17 jam lalu 127 disimak
Gol Tunggal Ole Romeny Menangkan Timnas Garuda Atas Mozambik
Sports 21 jam lalu 196 disimak
Data & Infografis Transportasi Bus Trans Batam
Statistik 1 hari lalu 248 disimak
Bakrie Group Tertarik Berinvestasi di Batam
Artikel 2 hari lalu 270 disimak
Piala Dunia 2026, Berikut Jadwal Lengkap Babak Penyisihan Grup
Sports 2 hari lalu 364 disimak

POPULER PEKAN INI

USD Terus Menguat Terhadap Rupiah, Picu Kekhawatiran Pengusaha Batam
Artikel 6 hari lalu 772 disimak
Pendidikan Keselamatan Berlalu Lintas untuk Siswa SD/ SMP Negeri di Batam
Pendidikan 6 hari lalu 715 disimak
Juknis SPMB Kepri 2026/2027 Terbit, Batam Siapkan 18.228 Kursi di SMA/K Negeri
Pendidikan 6 hari lalu 690 disimak
Tren Pendaftar SPMB SMA/SMK Kepri 3 Tahun Terakhir
Statistik 6 hari lalu 689 disimak
Data, Kuota dan Distribusi BBM Bersubsidi di Batam
Statistik 5 hari lalu 669 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?