Hubungi kami di

Ini Batam

PANEL-PANEL SURYA TERAPUNG DI DAM DURIANGKANG, BATAM BAKAL PUNYA LISTRIK TERBARUKAN? | TALK ABOUT

Terbit

|

DAM Duriangkang di Batam yang merupakan danau buatan terluas di kota pulau ini, direncanakan bakal digunakan juga untuk menjadi lokasi ‘peternakan’ panel-panel Surya yang akan menghasilkan energi listrik.

BP Batam baru saja menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sunseap Group untuk proyek ini, Senin (18/7/2021) kemarin. Waduk Duriangkang merupakan waduk yang dibangun dengan membendung sungai Duriangkang pada muaranya yang berbatasan langsung dengan laut. 

Tujuan pembangunan waduk untuk mengatasi meningkatnya kebutuhan air baku seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri di Kota Batam.   Saat ini waduk Duriangkang menjadi penyuplai utama air bersih di Batam. Sebanyak 80 persen kebutuhan air di Batam dipenuhi dari Waduk Duriangkang. 

Lantas, seberapa visibel dan efektif jika panel-panel Surya untuk menghasilkan energi listrik terbarukan mengapung dipasang di waduk tersebut?

Seorang peneliti energi terbarukan di Indonesia, Edo Raihan Irawadi menyampaikan beberapa kemungkinannya kepada GoWest Indonesia, Rabu (21/7/2021). Menurut pria yang biasa disapa Edo tersebut, jika menggunakan luas area waduk sebesar 1.200 hektar untuk dipasangi panel-panel Surya, energi listrik yang dihasilkannya berkisar 1,2 Giga Watt.

BACA JUGA :  Soerya Jadi Ketua Tim FTZ Plus

“Ya, nggak sampai 2 Giga Watt jika yang digunakan sekitar 1.200 hektar luas area waduk. Tipis-tipis dapat sekitar 1,2 Giga Watt. Itu jika seluruh area di-cover panel Surya”, kata Edo.

Untuk mencapai target 2 Giga Watt produksi listrik di waduk tersebut, bisa saja pihak pengelola juga manfaatkan area di sekitar waduk. Untuk diketahui luas daerah tangkapan air di waduk Duriangkang sekitar 79 km2. Untuk target 2 Giga Watt menurut Edo, juga perlu penjelasan lanjutan.

Apakah ini 2 Giga Watt hour (GWH) atau 2 Giga Watt peak (GWP).

Menurutnya, produksi listrik menggunakan panel Surya jauh berbeda dibanding produksi listrik dengan cara lain misalnya di PLTU yang menggunakan batubara atau PLTG dengan suplai energi gas.

“Efektif produksi listrik untuk tenaga Surya di kota Batam sekitar 4 jam per hari untuk penggunaan selama 24 jam”, jelasnya.

BACA JUGA :  Masyarakat Bisa Dapat Harga Distributor di Pasar Murah TPID

Ia membandingkan hasil produksi listrik sebesar 2 Giga Watt dari gas turbin di PLTG, akan equivalen dengan sepertiga nilai yang sama jika memanfaatkan panel-panel Surya untuk menghasilkan listrik.

Hasil produksi dari panel Photo Voltaic/ PV (panel Surya, pen) tersebut, bisa disimpan dalam panel-panel batere yang kemudian bisa digunakan untuk energi listrik.

Namun Edo mengingatkan bahwa penyimpanan energi Surya dalam batere membutuhkan investasi yang sangat besar.

“Batere untuk menyimpan energi listriknya sangat mahal, lebih mahal dari panel-panel PV-nya”, lanjutnya.

Jadi alternatifnya menurut pria itu adalah dengan menyalurkannya secara langsung untuk penggunaan umum. Dengan kapasitas produksi 2 Giga Watt tersebut, hasil akhirnya bisa untuk memenuhi 2,5 kali kebutuhan listrik riil di kota ini. Artinya, akan ada surplus listrik besar di kota ini ke depannya.

“Makanya lebih baik disalurkan. Mungkin itu, mengapa sebagiannya langsung diekspor ke Singapura”, katanya.

(nes/dam/GoWestID)

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook