Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Hujan Angin Kencang Tumbangkan Pohon, Atap Rumah Warga Tertimpa
    18 jam lalu
    Tabrakan Angkot vs Trailer di Jalan Brigjen Katamso, Tidak Ada Korban Jiwa
    18 jam lalu
    Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi, Polisi Periksa Kadishub Batam
    2 hari lalu
    Hingga 3 Hari Ke Depan, Tanjungpinang Diperkirakan Diguyur Hujan
    2 hari lalu
    Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Damkar Evakuasi Monyet di Lingkungan Warga Sebong Pereh
    3 jam lalu
    Rencana Larangan Bawa HP ke Sekolah untuk Siswa SMA/K di Kepri, Berlaku 2027
    3 jam lalu
    PSG Juara Lagi: Tundukkan Arsenal Lewat Adu Penalti 4-3
    18 jam lalu
    “Menyusur Sungai Bersama Sultan, Terjebak Badai di Gunung Tanda”
    2 hari lalu
    Libatkan RT/RW, Pengelolaan Sampah dengan TPS Komunal di Batam
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Analisis Data Cuaca Kota Batam (Periode Mei 2026)
    3 jam lalu
    Data Akomodasi Batam: Hub Utama Pariwisata, Penggerak Okupansi di Kepri
    4 jam lalu
    Sultan Muhammad II Muazzam Shah (Sultan Riau Lingga Kedua 1832 – 1835)
    4 jam lalu
    Data Kependudukan Kota Batam 2026
    2 hari lalu
    Data Curah Hujan Tahunan di Batam 10 Tahun Terakhir
    3 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    10 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
BenarNews.org

Pembatalan Pameran Lukisan Yos Suprapto Picu Keresahan Soal Kebebasan Seni

Editor Admin 1 tahun lalu 650 disimak
Orang-orang mengunjungi pameran yang menampilkan artefak sejarah yang dipulangkan dari Belanda di Galeri Nasional Jakarta pada 8 Desember 2023. © F. Adek Berry / AFPDisediakan oleh GoWest.ID

KEPUTUSAN mendadak untuk membatalkan pameran lukisan karya pelukis Yos Suprapto di Galeri Nasional Jakarta telah memicu kritik keras dari para aktivis dan seniman, yang menyebut insiden ini sebagai tanda bahaya bagi kebebasan berekspresi di Indonesia.


YOS, yang dikenal dengan gaya realisme simbolis, awalnya dijadwalkan menggelar pameran bertajuk Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan mulai 20 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025. Namun, beberapa jam sebelum pembukaan, pameran itu dibatalkan karena beberapa lukisan dianggap “vulgar” dan “berpotensi menyinggung pihak lain,” menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Salah satu karya yang dipermasalahkan adalah Konoha I, yang menampilkan sosok pria berpakaian seperti raja duduk di singgasana dengan kakinya menginjak orang-orang yang tengkurap. Di belakangnya, tampak individu berseragam menodongkan senjata.

Lukisan lain, Konoha II, menggambarkan dua orang tanpa busana—salah satunya mengenakan atribut Raja Jawa—dikelilingi figur berwarna biru yang menjilati selangkangannya, dengan latar bangunan yang menyerupai istana kepresidenan di Ibu Kota Nusantara.

Para aktivis HAM dan pegiat seni mengutuk pembatalan ini sebagai bentuk sensor yang merugikan kebebasan berekspresi. 

“Ini peringatan bagi masyarakat kita bahwa kebebasan berekspresi di Indonesia sedang dalam keadaan bahaya,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid dalam diskusi di Jakarta pada Minggu (22/12).

“Penyensoran atau pembredelan karya seni hanya terjadi di negara otoriter dengan alasan mengganggu stabilitas politik, norma agama, dan norma sosial ekonomi,” ujar Usman lagi.

Istilah Raja Jawa ini sempat menjadi perbincangan menyusul pidato Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam musyawarah nasional partai pada 21 Agustus lalu.

Meski Bahlil kala itu tak pernah memerinci sosok yang dimaksud, tapi sejumlah pengamat politik kala itu menyimpulkan bahwa Raja Jawa yang dimaksud Bahlil adalah Joko “Jokowi” Widodo yang kala itu masih menjabat presiden.

Peneliti Koalisi Seni, Ratri Ninditya, menyebut polemik batalnya pameran lukisan Yos sebagai pertanda negara yang semakin represif terhadap beragam kritik.

“Ini menegaskan bahwa negara semakin melarang suara-suara kritis,” kata Ratri, seraya menyitir sejumlah pelarangan karya-karya yang sempat terjadi sepanjang tahun ini seperti pemutaran film Eksil yang menceritakan pelarian politik pasca 1965 dan Dirty Vote yang membahas dugaan kecurangan pada rangkaian Pemilu 2024.

Ratri menilai kebebasan berekspresi pun berpotensi kian parah di masa-masa mendatang, terlebih jika Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) hasil revisi resmi berlaku 2026, lantaran mereka yang menghina presiden dan pejabat negara dapat dipenjara.

“Sekarang belum berlaku saja sudah banyak pelarangan,” ujarnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon membantah tuduhan bahwa pemerintah telah membatasi kebebasan berekspresi.

“Saya kira tidak ada bredel. Itu kurator yang menentukan,” ujar Fadli kepada wartawan akhir pekan lalu.

“Saya kira, kami mendukung kebebasan berekspresi, tapi tentu kebebasan berekspresi itu jangan sampai melampaui batas kebebasan orang lain.”

Pernyataan senada disampaikan Zamrud Setya Nugraha, ketua tim kuratorial dan pameran dari Indonesian Heritage Agency, yang menyebut pembatalan terjadi karena ketidaksepakatan antara Yos dan kurator.

“Tidak (ada arahan). Kurator dalam proses kerja profesional pasti punya ruang yang tidak bisa diintervensi,” ujar Zamrud seperti dikutip Kompas.com.

Namun, kritik terus bermunculan. Penulis Okky Madasari melalui akunnya di media sosial X menyebut pembatalan ini sebagai ironi, mengingat Fadli sebelumnya dikenal sebagai pembela kebebasan berekspresi.

Menurut Okky, Fadli dan kementeriannya semestinya menjadi lembaga yang memastikan bahwa tidak ada pemberangusan terhadap produk budaya.

“Ini belum ada tiga bulan pemerintahan baru, sudah ada sensor terhadap pameran di Galeri Nasional,” tulis Okky.

Yos sendiri membantah tudingan bahwa karyanya vulgar.

“Kalau itu dianggap kemesuman, berarti otak orang yang mengatakan bahwa itu mesum, bahwa itu senggama, orang itu berpikirannya sebatas itu,” kata Yos dalam keterangan pers pekan lalu.

“Dalam bahasa seni rupa, telanjang itu simbol kejujuran, simbol kepolosan. Itu hanya simbol kesenian yang harus dipahami dengan bahasa kesenian.”

Dalam lukisan Konoha I, Yos mengatakan hendak menceritakan tentang bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyat kecil, di mana mereka akan selalu menanggung kebijakan penguasa.

Sementara dalam Konoha II, Yos mengatakan hendak mengisahkan soal kebiasaan “asal bapak senang”. Kebiasaan itu diterjemahkannya lewat visual orang saling menjilat.

“Asal bapak senang itu saya terjemahkan menjilat pantat. Menjilat itu kan ekspresi yang kerap kita dengar. Metafora,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kebiasaan “menjilat” itu kemudian membuat masyarakat menjadi hancur lebur.

Kaitan lukisan, Yos suprapto
Admin 25 Desember 2024 25 Desember 2024
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Studi Tunjukkan Perempuan Masih Tertinggal dalam Sektor AI
Artikel Selanjutnya Kapal Ro-Ro KMP Mulia Nusantara Terbakar di Pelabuhan ASDP Batam

APA YANG BARU?

Damkar Evakuasi Monyet di Lingkungan Warga Sebong Pereh
Lingkungan 3 jam lalu 104 disimak
Rencana Larangan Bawa HP ke Sekolah untuk Siswa SMA/K di Kepri, Berlaku 2027
Pendidikan 3 jam lalu 114 disimak
Analisis Data Cuaca Kota Batam (Periode Mei 2026)
Statistik 3 jam lalu 96 disimak
Data Akomodasi Batam: Hub Utama Pariwisata, Penggerak Okupansi di Kepri
Statistik 4 jam lalu 123 disimak
Sultan Muhammad II Muazzam Shah (Sultan Riau Lingga Kedua 1832 – 1835)
Tokoh 4 jam lalu 134 disimak

POPULER PEKAN INI

“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
Histori 5 hari lalu 689 disimak
BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
Artikel 5 hari lalu 679 disimak
Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
Artikel 5 hari lalu 633 disimak
Prakiraan Cuaca Kepri Jumat (29/5/2026): Berawan hingga Hujan Ringan, Waspadai Petir
Artikel 3 hari lalu 586 disimak
Polda Kepri Hentikan Kasus Kecelakaan Maut WNA Tiongkok Lewat RJ
Artikel 5 hari lalu 532 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?