Hubungi kami di

Catatan Netizen

Pengalaman Perawatan Gigi di Masa Pandemi Covid-19

Zilfia Sarah

Terbit

|

Ilustrasi, penulis saat sakit gigi, foto : © menixnews.com

“SAKIT gigi kok gak kenal waktu. Da tahu lagi masa pandemi Covid-19, tetap aja nih gigi cenut-cenut. Mo ke dokter gigi, tapi galau karena takut bisa berpotensi tertular Covid-19.”

————

KELUHAN di atas saya tahankan selama lima bulan terakhir. Terhitung sejak Maret sampai awal Agustus 2020, gigi geraham atas kiri saya yang baru seminggu ditambal pada awal Maret lalu ternyata sakit sekali. Jangankan untuk mengunyah, untuk berkumur saat sikat gigi saja rasanya senut-senut karena air masuk ke bagian dalam gigi yang ditambal.

Ketika ditambal, lubang pada gigi tersebut kecil. Saya kira tidak masalah ketika dokter Sugeng, dokter gigi langganan yang berpraktik di Kimia Farma Kampung Utama, Batam, melakukan penambalan permanen langsung tanpa perawatan terlebih dahulu.

Sang dokter juga tidak melakukan penambalan sementara sebagaimana biasanya ketika saya menambal gigi-gigi yang lain. Ketika saya tanya, katanya, lubang giginya kecil dan tidak terlalu dalam, jadi tidak apa-apa jika langsung ditambal permanen.

Sayangnya, sepekan berselang, gigi yang ditambal tersebut mulai sakit mendenyut. Dan ketika hendak ke dokter gigi lagi, Indonesia mulai dihebohkan dengan kasus Covid-19 yang merebak dimana-mana.

Berita tentang tenaga medis banyak terkena Covid-19 juga menghiasi layar berita setiap waktu baik di televisi maupun media online dan media sosial. Termasuk berita-berita sejumlah dokter gigi yang terkena Covid-19.

Alhasil, niat hendak ke dokter gigi untuk memperbaiki tambalan gigi, saya urungkan. Saya pun terpaksa membeli obat peredah nyeri dan anti-biotik yang pernah diresepkan sang dokter. Karena saya menyusui, maka untuk dosisnya saya baca-baca di google dan bertanya ke dokter-dokter kenalan saya agar obat yang saya konsumsi tetap aman untuk baby boy yang saat itu baru berumur dua bulan.

Adapun yang obat nyeri yang saya konsumsi adalah Mefenamic Acid 500 mg yang generik dan Mefinal 500 mg yang paten. Kedua obat ini tidak saya konsumsi secara bersamaan melainkan secara bergantian. Ketika rasa sakitnya tidak begitu hebat, saya mengonsumsi obat yang generik. Namun, ketika rasa sakitnya tidak tertahan dan obat generik tidak mempan, saya meminum obat patennya.

Mefenamic Acid 500 mg (biru), Mefinal 500 mg (pink) dan Clindamcyin 150 mg (kapsul hijau). Photo by menixnews.com

Sementara untuk anti-biotiknya saya konsumsi Clindamcyin 150 mg yang berbentuk kapsul warna hijau. Baik obat nyeri maupun anti-biotik saya konsumsi 3x sehari, setiap 8 jam sekali.

Harga ketiga obat tersebut terbilang murah. Untuk Mefenamic Acid 500 mg generik harganya hanya Rp6.000 per papan, sementara Mefinal 500 mg Rp18.000 per papan, dan Clindamcyin 150 mg Rp10.000 per papan.

Selama lima bulan terus-menerus konsumsi obat, rasanya sudah tidak tahan lagi. Sudah bosan, dan masalah tambalan gigi ini harus diselesaikan. Apalagi, ketika mulai mendenyut, bagian gigi lainnya juga ikut senut-senut.

Kebetulan, selain gigi tambalan yang bermasalah, saya juga menyimpan dua masalah gigi lainnya yakni gigi bungsu kiri atas yang malaposisi dan sangat sulit dibersihkan. Kini, kondisinya sudah berlubang dan harus segera dicabut dengan cara operasi kecil. Kedua, gigi geraham kiri bawah juga sudah berlubang dan harus segera ditambal.

Alhasil, karena tidak tahan lagi dengan sakit yang tidak kunjung reda dan bosan konsumsi obat terus-menerus, pada awal Agustus lalu saya beranikan untuk ke dokter gigi. Ada empat dokter gigi yang saya datangi dan semuanya memberikan perlakuan yang berbeda-beda.

Dokter Gigi Kimia Farma Batam Centre

Hasil rekomendasi seorang teman yang mengatakan dokter gigi di Kimia Farma Batam Centre bagus, saya pun pergi ke sana awal Agustus lalu. Saya ke sana sekitar pukul 15.00 WIB. Saat tanya ke bagian pendaftaran pasien gigi dengan kartu BPJS, sang petugas mengatakan kalau dokternya hari itu praktik mulai pukul 17.00 WIB. Dia meminta saya menunggu atau boleh pulang dahulu dan kembali lagi sebelum pukul 17.00 WIB.

Okay, karena ada baby boy di rumah yang butuh ASI, saya pilih pulang dahulu. Sekitar pukul 16.30, saya kembali ke klinik dengan harapan jadi pasien pertama tepat pukul 17.00.

Sayangnya, begitu sampai, sang petugas mengatakan dokter dan perawatnya belum datang. Saya pun menunggu dengan resah karena meninggalkan baby boy di rumah dengan kakak-kakaknya. Sebelum berangkat saya sangat berharap dokter bisa on time sehingga saya tidak perlu lama-lama meninggalkan baby boy yang masih sangat aktif menyusu.

Namun apa mau dikata, dokter baru datang saat jarum jam menunjukkan hampir pukul 18.00 WIB. Saat pemeriksaan, tidak ada protokol kesehatan yang rumit-rumit. Pasien hanya diwajibkan pakai masker dan cuci tangan atau pakai hand sanitizer yang tersedia di tempat. Sang dokter dan perawat juga hanya menggunakan masker dan sarung tangan.

Setelah memeriksa tiga bagian gigi yang saya keluhkan, sang dokter cowok yang masih terbilang muda, mengatakan bahwa gigi-gigi saya harus menjalani perawatan. Namun, tidak bisa dilakukan di klinik ini karena tidak tersedia layanan perawatan gigi. Yang ada hanya tambal dan cabut.

Saya pun diberi rujukan ke Rumah Sakit Elizabeth Baloi. Saya tidak diberikan obat apapun. Well, saya pun pulang dengan selembar surat rujukan.

Rumah Sakit Elizabeth

Di surat rujukan tersebut tertera jadwal Poli Gigi RS Elizabeth pagi dan sore. Pagi mulai pukul 09.00-12.00 dan sore pukul 14.00-16.00 WIB. Dan surat rujukan itu berlaku selama dua bulan, sampai dengan 18 Oktober 2020.

Beberapa kemudian, saya pun mendatangi RS Elizabeth pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB. Namun, sesampainya di sana dan saya ingin mendaftar, sang petugas mengatakan bahwa praktik dokter gigi hanya pagi, mulai pukul 09.00-12.00 WIB dari Senin-Jumat. Baiklah, saya pun pulang tanpa hasil.

Niatnya, keesokan harinya hendak kembali ke sana lagi sekitar pukul 08.00, agar bisa menjadi pasien pertama dokter gigi. Namun, setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman, terkait kasus penyebaran Covid-19 di Batam, saya jadi ragu dan parno hendak berobat ke RS manapun karena khawatir. Alhasil, saya putuskan untuk ke dokter gigi langganan di Kimia Farma Kampung Utama.

Dokter Gigi Kimia Farma Kampung Utama

Selama masa pandemi ini, jam praktik dokter dikurangi menjadi Senin-Sabtu jam 10.00-12.00 dan 19.00-21.00 WIB. Khusus hari Jumat, tidak buka praktik pagi. Sementara akhir pekan (Minggu) dan hari libur, tidak buka.

Pertengahan Agustus lalu, ditemani suami, saya pun menyambangi dokter gigi Sugeng di Kimia Farma Kampung Utama, Batam. Setelah memeriksa semua kondisi gigi saya, dia mengatakan belum bisa melakukan tindakan apa-apa karena gigi saya masih sakit.

Yang harus saya lakukan adalah konsumsi obat nyeri dan anti-biotik secara teratur selama kurang lebih lima hari, kemudian kembali lagi. Sementara untuk gigi bungsu yang malaposisi, harus dilakukan operasi kecil dengan biaya Rp750.000. Namun, operasi ini tidak ditanggung BPJS.

Well, saya pun pulang dengan membawa obat nyeri Mefenamic Acid 500 mg dan anti-biotik Clindamcyin 150 mg, masing-masing satu papan.

BTW, berobat ke dokter gigi di klinik ini tidak menggunakan prosedur kesehatan yang ribet. Hanya wajib menggunakan masker dan mencuci tangan atau memakai hand sanitizer yang sudah disiapkan di tempat. Sementara untuk dokter dan perawatnya, hanya menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan.

Dokter Gigi Puskesmas Tanjung Buntung

Merasa perlu mencari second opinion, Saya mendatangi dokter gigi di Puskesmas Tanjung Buntung, Bengkong, yang tidak jauh dari rumah.

Saya ke sana karena tahu di sana ada dokter gigi senior yang juga terkenal bagus. Lagipula, berobat di Puskesmas tidak mahal.

Sesampainya di sana, ternyata ada dua dokter yang praktik. Dokter gigi senior, drg Nico, dan dokter gigi masih muda (saya lupa namanya).

Meskipun di sana saya tidak menggunakan kartu BPJS Kesehatan karena Faskes pertama saya adalah di Klinik Kimia Farma (dimana saja ada Kimia Farma bisa digunakan), saya hanya membayar uang pendaftaran Rp5000.

Setelah masuk ke ruang praktik dokter, ternyata di sini tidak bisa dilakukan perawatan dan tambal gigi. Yang bisa dilakukan hanyalah cabut gigi. Hasil pemeriksaan dokter gigi yang masih muda, dia menyarankan untuk perbaikan tambalan gigi di klinik dokter.

Sementara untuk mencabut gigi bungsu saya, bisa dilakukan di Puskesmas hanya saja tidak bisa hari itu karena kondisi gigi saya masih sakit. Namun, ada yang merisaukan saya untuk mencabut gigi bungsu di sini karena dokter tersebut mengatakan,”Semoga giginya bisa tercabut semua ya, karena posisinya miring. Semoga saja tidak patah dan tertinggal di dalam.”

“Lalu, kalau patah di tengah gemana dokter?” Tanya saya seraya membayangkan betapa sakitnya jika ada tunggul gigi tersisa di dalam gusi. Pastilah sakit sekali.

“Biasanya akan turun sendiri pelan-pelan,”katanya lagi. Hiks…. jawaban sang dokter bikin saya nyeri. Saya pun pulang dengan membawa rasa khawatir. Saya tidak diberi obat karena obat nyeri memang masih ada di rumah.

BTW, dokter dan perawat di sini menggunakan APD (alat pelindung diri) yang lengkap mulai dari sarung tangan, masker, baju hazmat, dan pelingdung mata (face shield).

Balik ke Dokter Gigi Kimia Farma Kampung Utama

Ke dokter gigi di masa pandemi? Rasanya memang bikin galau dan takut. Ya, takut tertular Covid-19. Namun, saya beranikan diri karena saya tidak mau gegara takut Coivd-19, eh saya menderita sakit gigi berkepanjangan. Ikhtiar dengan mengikuti protokol kesehatan dan berserah diri pada Allah SWT.

Setelah dari Puskesmas, malam harinya saya kembali mendatangi dokter langganan, Dokter Sugeng, di Kimia Farma Kampung Utama karena tambalan gigi saya tidak juga mereda sakitnya.

Dan berikut adalah tahap-tahapan perawatan yang saya lalui, dimana semua biaya perawatan dan obat bisa menggunakan kartu BPJS:

1. Perawatan Tahap I

Pada tahap pertama, saya hanya diberikan obat pereda nyeri Mefenamic Acid 500 mg dan anti-biotik Clindamcyin 150 mg, masing-masing satu papan atau 10 tablet/obat. Obat ini harus diminum 3x sahari dan saya meminumnya per 8 jam sekali.

Untuk obat nyerinya, jika sudah tidak sakit, bisa dihentikan. Namun, untuk anti-biotik harus dihabiskan. Kedua obat tersebut habis dalam waktu tiga hari.

2. Perawatan Tahap II

Setelah tiga hari konsumsi obat, ternyata sakit gigi saya belum mereda. Rasa sakitnya mereda hanya sekitar 3-4 jam setelah minum obat. Selebihnya sakit kembali. Saya pun mendatangi lagi drg Sugeng. Kali ini, sang dokter melakukan tindakan serius.

Setelah pemeriksaan, dia mengatakan bahwa terjadi pembusukan di bagian akar gigi yang ditambal sehingga perlu dilakukan perawatan saluran akar gigi. Alhasil, tambalannya dilubangi, kemudian dicucuk bagian area yang sakit menggunakan jarum halus yang disebut jarum endodontik untuk membersihkan kotoran (kuman dan bakteri) dari saluran akar, serta membuang gas di dalamnya.

foto diambil dari seputar ilmu.

Saat proses itu dilakukan, memang tercium bau busuk. Inilah sumber senut-senut tersebut. Setelah dibersihkan, lubang pada tambalan tadi ditutup dengan kapas. Saya pun diberi lagi obat pereda nyeri Mefenamic Acid 500 mg dan anti-biotik Clindamcyin 150 mg, masing-masing satu papan.

Saya diminta kembali lagi untuk melanjutkan perawatan gigi setelah tiga hari dan paling lama satu minggu.

Setelah dilakukan perawatan tersebut, sakitnya memang mereda. Satu jam setelah makan obat, mulai bisa tidur dengan nyenyak. Dan keesokan paginya tidak ada lagi rasa sakit. Saya pun mulai menggunakan gigi sebelah kiri untuk mengunyah.

Saat dipakai untuk mengunyah masih terasa nyeri, kadang-kadang. Namun karena sakitnya hanya sesekali, saya tidak meminum obat anti-nyeri melainkan hanya menghabiskan anti-biotiknya.

3. Perawatan Tahan III

Tiga hari setelah perawatan tahap II, saya kembali mendatangi drg Sugeng. Dokter pun menanyakan keluhan pada gigi saya. Saya menjawab apa adanya. Kemudian sang dokter membersihkan lubang tambalan dengan membuang kapas dan menusukkan kembali jarum endodontik ke lubang gigi. Lalu dia berkomentar,”Oooo sudah bersih kok”.

Tak lama kemudian, dia menyemprotkan (semacam) anti-bakteri, mengeringkan, dan menyemprotkan obat cair.  Lalu, dia menutup lubang dengan kapas. Terakhir, gigi saya ditambal dengan tambalan sementara.

Dia berpesan untuk kembali lagi tiga hari ke depan atau paling lama sepekan. Kali ini dia tidak memberikan saya obat karena obat anti-nyeri masih tersisa di rumah. Dia hanya mengingatkan, konsumsi obat jika memang gigi saya mendenyut.

4. Perawatan Tahap IV

Setelah ditambal sementara ini, gigi rasanya memang jauh lebih enak. Maksud saya sudah sangat jarang sakit. Namun, saya tidak berani memakainya untuk mengunyah karena takut tambalan sementaranya pecah. Saya pun tidak lagi mengonsumsi obat anti-nyeri karena memang tidak sakit.

Setelah tiga hari, saya kembali lagi ke drg Sugeng. Dia bertanya apakah masih ada nyeri. Saya menjawab, jika sesekali nyeri masih muncul tapi memang sangat jarang. Biasanya muncul saat untuk kumur atau sikat gigi.

Dokter langsung memeriksa. Ia membuka tambalan sementara dengan cara mengebornya. Kemudian, kembali dibersihkan dengan semprotan, dan dikeringkan dengan semprotan juga.

Lalu, ia memberikan, dua helai seperti tisu halus (saya tidak tahu apa namanya) ke dalam lubang gigi tersebut dan kemudian menutupnya kembali dengan tambalan sementara.

Saat saya tanya perihal benda tersebut, drg Sugeng menjelaskan bahwa yang dimasukkan ke dalam lubang gigi saya adalah seperti tisu halus yang gunanya sebagai media untuk memasukkan obat ke saluran akar gigi. Obat itulah yang berfungsi untuk mengobati saluran akar gigi yang sempat membusuk.

Setelahnya, saya diminta untuk kembali lagi tiga hari ke depan. Kali ini ia memberikan resep berupa vitamin C yang bisa saya ambil di apotik Kimia Farma. Saya tidak bayar untuk vitamin yang diberikan karena sudah ditanggung BPJS.

5. Perawatan Tahap V

Untuk kelima kalinya, saya kembali mendatangi drg Sugeng (lima kali ini hanya untuk kasus satu gigi ini saja ya. Sebelum-sebelumnya ntah sudah berapa kali saya mendatangi drg Sugeng karena di mulut saya ada 4 bagian gigi yang ditambal). Dan, masih ada gigi bungsu yang malaposisi yang direkomendasikan untuk dicabut karena sudah berlubang.

Kali ini saya sangat berharap perawatan saluran akar gigi selesai. Namun, setelah dokter memeriksa, gigi saya belum bisa ditambal permanen. Dokter kembali membuka tambalan sementara saya dengan cara dibor. Kemudian membuang “tisu obat” yang sebelumnya diletakkan di dalam lubang gigi. Lalu membersihkan dan mengeringkan lubang gigi tersebut.

Setelah itu, dilakukan pengisian. Saluran akar diisi dengan bahan pengisi saluran akar. Pengisian dimaksud adalah tambalan sementara yang diberikan obat agar saluran gigi benar-benar membaik. Dan, saya pun diminta untuk datang lagi tiga hari berikutnya.

6. Perawatan Tahan VI

Lima kali ke dokter gigi, ternyata belum cukup untuk kasus perawatan saluran akar gigi saya ini. Saya pun datang untuk yang keenam kali. Kali ini saya kembali berharap agar lubang gigi saya bisa ditambal permanen karena sudah tidak ada rasa sakit sama sekali.

Setelah diperiksa dokter dan tambalan sementara dibuka serta lubang gigi dibersihkan, ternyata menurut dokter, kondisi gigi saya belum bisa ditambal permanen. Dokter kembali melakukan pengisian untuk kali kedua.

Dan, kali ini saya diminta untuk kembali lagi satu pekan mendatang.

7. Perawatan Tahan VII

Selama sepekan, Alhamdulillah gigi saya tidak ada sakit sama sekali. Saya pun sudah aktif menggunakannya untuk mengunyah namun tetap hati-hati karena tambalannya masih sementara. Saya takut jika tambalannya retak atau copot, akan mengakibatkan sakit lagi.

Setelah sepekan, saya pun kembali mendatangi drg Sugeng. Ia pun memeriksa kembali dan membongkar tambalan sementara seraya memastikan kondisi gigi saya sudah siap untuk ditambal permanen.

Bagian-bagian gigi, ist.

Pada tahap ini, akhirnya lubang gigi saya (karies) bisa ditambal permanen. Saluran akar diisi dengan bahan pengisi saluran akar, kemudian lubang gigi ditutup dengan bahan tambal dan direstorasi dengan mahkota tiruan. Alhamdulillah. Semoga tambalan ini tidak lagi bermasalah.

Ternyata perawatan saluran akar gigi ini memakan waktu lama ya dan ini pengalaman pertama kali bagi saya. Semoga sharing ini bermanfaat ya my blog readers. (sri murni)

Note: Cerita ini hanya berdasarkan pengalaman saya dan mungkin ada istilah kedokteran yang tidak sesuai.

Seperti ditulis oleh Sri Murni di blog-nya, 
menixnews.com

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook