Hubungi kami di

Tanah Air

Prediksi Satgas IDI: Tak Ada Lagi Mutasi Varian Covid-19 Berbahaya di Indonesia

Terbit

|

Ilustrasi: Varian Omicron. F. Dok. CNN Indonesia.com/Stockphoto

KABAR baik! Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) memprediksi tidak akan ada lagi mutasi SARS-CoV-2 atau Covid-19 berbahaya yang muncul baik di Indonesia maupun global.

Hal ini disampaikan Ketua Satgas Covid-19
PB IDI, Zubairi Djoerban, melalui cuitan di akun twitter pribadinya @ProfesorZubairi, Jumat (15/4/2022).

“Apakah ke depan akan lebih banyak varian baru virus SARS-CoV-2? Selama virus menyebar melalui populasi, mutasi terus terjadi,” kata Zubairi dalam cuitan di akun twitter pribadinya.

Untuk itu, Zubairi tetap meminta seluruh elemen masyarakat tetap patuh terhadap protokol kesehatan Covid-19, sekalipun tren penurunan kasus mulai terjadi di sejumlah negara, salah satunya Indonesia.

BACA JUGA :  Larangan 14 Negara Masuk RI Dihapus, Karantina Jadi 7 Hari

Zubairi kemudian mewanti-wanti varian Omicron akan menggeser posisi varian lainnya seperti Delta yang sempat mendominasi Indonesia maupun global pertengahan tahun lalu.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes) misalnya mencatat jumlah kumulatif kasus varian Omicron di seluruh Indonesia berjumlah 10.055 kasus data per 11 April 2022. Disusul varian Delta 8.671 kasus, Alfa 83 kasus, dan Beta 22 kasus.

“Dan keluarga Omicron terus berkembang-yang dengan cepat menggeser Delta. Tapi, mutasi menjadi varian berbahaya mungkin tak akan ada lagi,” ujarnya.

BACA JUGA :  AS Soroti Dugaan Pelanggaran HAM Lewat Aplikasi PeduliLindungi

Untuk itu, Zubairi meminta masyarakat mulai beradaptasi menuju endemi dengan tetap disiplin protokol kesehatan. Ia juga mengimbau masyarakat tetap memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.

Menurutnya, jika Indonesia sudah masuk fase endemi, tidak menutup kemungkinan jumlah penambahan kasus harian Covid-19 bisa melonjak kembali. Lonjakan itu bisa terjadi apabila banyak pelanggaran yang dilakukan baik pemerintah maupun warga.

“Jangan jemawa, dan transparan dalam berkomunikasi dengan rakyat terkait kebijakan penanganan Covid-19,” ujar Zubairi.

(*)

sumber: CNN Indonesia.com

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid