SETIAP hari di blok kami, di Ang Mo Kio Avenue 4, seorang kurir paket online, dengan ratusan paket, memilah-milah paket yang menjadi tanggungjawabnya, di lantai bawah yang terbuka.
Oleh: Sultan Yohana
MENGKLARIFIKASI berdasarkan lantai. Paket-paket itu, besar dan kecil, digeletakkan begitu saja di lantai, begitu juga dengan tas dia. Bahkan ketika ia mulai mengirim itu paket ke rumah demi rumah, paket yang belum dapat bagian, tergeletak begitu saja tanpa seorang pun yang menjaga.
Padahal di situ, ratusan orang berlalu-lalang. Warga yang tinggal maupun bukan. Isi paket itu pula, saya yakin banyak yang mahal.
Jika ada satu orang lewat iseng, ngentit satu paket saja, bakal bermasalah itu mas kurir, dan ngentit begitu mudah sekali. Tapi, sejauh ini, belum ada laporan kehilangan. Ini menunjukkan, bagaimana keaman di kehidupan Singapura begitu terjaga. Sampai-sampai barang-barang berharga, digeletakkan begitu saja tanpa dijaga.
Kondisi ini mengingatkan saya pada kampung saya, Malang, dekade 80an. Ketika itu saya usia sekolah dasar. Di Singosari misalnya, salah satu kota kecamatan Malang, petani yang baru saja memanen dan merontokkan padi, kerap membiarkan begitu saja padi-padi yang sudah disimpan di karung-karung, di tengah sawah hingga semalaman.
Tidak ada orang yang mau mengambil, meski padi-padi tak dijaga. Di tempat paman saya, di Karangploso, kecamatan sebelah, bawang putih atau merah yang dipanen dan dikeringkan, lalu disusun di bambu-bambu, ditaruh begitu saja di halaman depan rumah hingga kering dan siap dijual. Tidak perlu dijaga, tidak pula takut dicuri. Tetangga, kalau butuh satu dua genggam bawang atau cabe, ya tinggal minta saja.
Begitu amannya kampungku, dekade 80an lalu. Tak ada jambret, tak ada maling motor, tak ada tukang perkosa, tak ada tentara atau polisi yang suka menyiram air keras pada warga negara yang seharusnya ia lindungi. Paling, satu-dua rumah orang kaya dibobol, dan dicuri TV-nya. Itupun, serasa sudah menjadi berita yang luar biasa besar. Polisi nyaris tak pernah punya “pekerjaan” penting, kecuali sekedar menghadiri undangan hajatan orang penting di kampung. Tawuran antarkampung, seringkali diselesaikan secara kekeluargaan di hadapan polisi tanpa perlu “uang perdamaian”.
Lucunya, Singapura di era 80an, juga 70an, malah beken dengan tingginya angka kejahatan masyarakat. Iklan-iklan layanan masyarakat waktu itu, banyak yang bertema “awas jambret” atau “hati-hati maling”. Bahkan para penjahat begitu berani, menjambret kalung atau gelang para wanita saat di lift. Hal yang kini, tentu saja sudah tidak ada lagi.
Rasa aman itu mahal, dan dulu kita pernah memilikinya. Dulu! Tapi kini hilang entah dicuri siapa…
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


