Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Kapal Kargo Tabrak KM Putra Buluh di Perairan Bintan, 4 Nelayan Masih Hilang
    5 jam lalu
    Rumah Terbakar di Tanjungpinang, Diduga Akibat Obat Terapi yang Dibakar
    5 jam lalu
    Harga Emas Antam dan UBS di Batam Tembus Rp2,8 Juta/ Gram
    5 jam lalu
    Imigrasi Batam Gagalkan Keberangkatan 1.975 Calon Pekerja Migran Nonprosedural
    5 jam lalu
    Bareskrim Polri Temukan Brankas Ekstasi di Klab Malam Batam
    5 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    17
    Tanjungpinang Riau – Agustus 1928 & 1938 (Bagian 2)
    4 jam lalu
    52.835 Siswa Baru SD-SMP di Batam Dapat Seragam Dari Pemko Batam
    1 hari lalu
    Waduk Nongsa Menyusut 2,5 Meter, BP Batam Siapkan Langkah Darurat
    1 hari lalu
    Krisis Tenaga Pendidik di Batam
    1 hari lalu
    14
    Tanjungpinang Riau – Agustus 1928 & 1938 (Bagian 1)
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    3 minggu lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    4 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    1 bulan lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    1 bulan lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno ke London

Editor Admin 4 tahun lalu 821 disimak

SEPANJANG masa kepresidenannya, Sukarno telah melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai belahan dunia. Tapi, ada dua negara Eropa yang belum disambanginya: Belanda dan Inggris. Keengganan Sukarno ke Belanda jelas perkara prinsip dan harga diri. Ia tak sudi menginjakkan kaki ke negeri penjajah tersebut. Sementara Inggris, belum kesampaian saja.

“Aku sudah ke mana-mana kecuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkunjung,” kata Sukarno dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Ada kisah di balik undangan Kerajaan Inggris terhadap Bung Karno. Bermula ketika Sukarno berpidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960. Dalam pidatonya berjudul To Build The World Anew (Membangun Dunia Kembali), Bung Karno mempromosikan Pancasila untuk dianut dalam piagam PBB. Ia juga menyentil PBB yang lebih condong terhadap kepentingan adikuasa daripada negara-negara dunia ketiga. Tak luput pula kecaman dilayangkannya terhadap kuasa penjajahan Belanda di Irian Barat (kini Papua).

Pidato itu diakui sebagai salah satu pidato terbaik sekaligus paling kontroversial dalam Sidang Majelis Umum PBB. Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ganis Harsono, ada dua tokoh negara yang terkesan menyaksikan penampilan Sukarno, yakni Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja.

“Perdana Menteri Harold Macmillan dari Kerajaan Inggris, yang dua hari setelah Bung Karno menyampaikan pidatonya sengaja datang ke puncak Hotel Waldorf Astoria, tempat menginap Bung Karno,” tutur Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno.

Tak sampai setahun kemudian, tepatnya 28 Agustus 1961, Ratu Elizabeth II atas saran Macmillan mengundang Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke London. Sukarno melalui Departemen Luar Negeri menyatakan bersedia menerima undangan sang ratu. Kunjungan kenegaraan ke Inggris diagendakan pada Mei 1962. Pengumuman resmi pun disiarkan.

Berita rencana kunjungan Sukarno ke Inggris sampai ke negeri Belanda. Ratu Juliana tak senang mendengarnya. Apalagi Ratu Elizabeth II masih terbilang keponakan Juliana. Waktu itu hubungan diplomatik Indonesia dengan Belanda sudah putus akibat sengketa Irian Barat.

Pada 19 September 1961, Ratu Juliana menyatakan perudingan dengan Indonesia mengenai Irian Barat tak akan dilakukan. Ia bahkan membuka pintu bagi rakyat Irian Barat untuk menentukan masa depannya sendiri. Kebijakan dekolonisasi Belanda ini semakin memperburuk hubungan Belanda dengan Indonesia. Begitupun dengan Ratu Elizabeth II.

“Pernyataan Ratu Juliana kemudian berakibat kurang baik dan tidak membenarkan kemenakan jauhnya, Ratu Elizabeth, menjamu Presiden Sukarno di Istana Buckingham,” imbuh Ganis.

Tapi, Kerajaan Inggris bersikukuh mengundang Sukarno. Sempat terjadi perbedaan persepsi protokoler. Bung Karno seperti disebut Jenderal Abdul Haris Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, menghendaki penyambutan penuh kebesaran bagi seorang kepala negara. Namun, penyambutan seperti itu dibatasi oleh peraturan kerajaan, demikian disampaikan Wakil Perdana Menteri Edward Heath kepada Nasution ketika berkunjung ke Inggris pertengahan 1961.

“Ia sarankan agar datang saja sebagai kepala pemerintah. Itu lebih baik, karena dapat dilakukan pembicaraan secara bisnis, to talk business. Adapun dalam acara kebesaran kerajaan tidak akan dapat diadakan pembicaraan-pembicaraan, karena serba protokoler,” kata Nasution yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat.

Di London, baik pemerintah maupun staf Kedutaaan Besar Indonesia sibuk mempersiapkan penyambutan. Terlebih lagi sebulan menjelang kunjungan. Duta Besar Indonesia B.M. Diah mengatakan brosur tentang Indonesia dan riwayat hidup Sukarno dicetak untuk disebarkan. Persiapan protokoler untuk menyambut kedatangan Bung Karno sudah rapi. Bendera Merah Putih dipesan untuk menghiasi jalan utama yang akan dilewati Sukarno-Ratu Elizabeth II. Istana Buckingham bahkan sudah menyusun menu sarapan, makan siang, dan makan malam yang dibuat khusus untuk Bung Karno.

Namun, pada 21 April 1962, Sukarno melayangkan surat permintaan maaf kepada Ratu Elizabeth II. Karena situasi di dalam negeri, ia mengatakan tak bisa meninggalkan Indonesia. Situasi memang lagi genting menyusul serangan Belanda terhadap armada Angkatan Laut Indonesia di Laut Arafuru pada awal tahun. Pada Maret 1962, perundingan yang dimediasi Amerika Serikat macet sehingga Indonesia dan Belanda terancam perang.

Kunjungan resmi Sukarno ke London batal. Surat kabar Inggris, seperti ditulis Toeti Kakiailatu dalam biografi B.M. Diah: Wartawan Serba Bisa, memberitakan hal pembatalan ini di halaman satu: “SUKARNO SNUBS THE QUEEN!” (Sukarno Melecehkan Ratu).

Meski agak menyesalkan, Ratu Elizabeth II memakluminya. Itu dinyatakan dalam suratnya bertanggal 8 Mei 1962.

“Menteri-menteri saya dan saya sendiri telah siap sedia menyambut kedatangan Yang Mulia, dan untuk memperlihatkan kepada Yang Mulia perihal negara kami, akan tetapi saya percaya bahwa kita akan mempunyai kesempatan untuk ini pada waktu yang lain,” kata Ratu Elizabeth II dalam suratnya, dikutip Ganis Harsono.

Setelah sengketa Irian Barat berakhir, semestinya kunjungan itu direalisasi. Tapi, Sukarno memasuki babak konflik baru dengan Negara Federasi Malaysia. Ia menolak gagasan pembentukan Negara Malaysia dan menyerukan “Ganyang Malaysia”. Sementara negara itu merupakan eks koloni Inggris yang masuk dalam persemakmuran. Akibatnya, Angkatan Perang Indonesia berhadapan dengan tentara Inggris di perbatasan Kalimantan.

Perang dengan Inggris memang dapat terhindarkan. Tapi, kampanye Sukarno mengganyang Malaysia berujung gagal total. Sejak itu, politik dalam negeri maupun perekonomian tak kunjung membaik sampai menyebabkan Sukarno lengser. Hingga wafatnya, kunjungan Bung Karno ke Inggris urung terjadi.

Malah Ratu Elizabeth II yang berkesempatan datang ke Indonesia setelah rezim berganti. Pada Maret 1974, sang ratu berlayar ke Bali menumpangi kapal pesiar kerajaan, Royal Yacht Britannia. Selain Bali, Elizabeth II menyambangi Jakarta dan Yogyakarta. Bagi Elizabeth II, Indonesia punya tempat khusus di hatinya.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan inggris, Ratu Elizabeth II, sukarno
Admin 10 September 2022 10 September 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Bengkong Smiling Morning | Panitia Siapkan Hadiah Doorprize Ratusan Juta Rupiah
Artikel Selanjutnya 2.000 Peserta Pawai Lampion Bakal Meriahkan Festival Kue Bulan 2022 di Tanjungpinang

APA YANG BARU?

Tanjungpinang Riau – Agustus 1928 & 1938 (Bagian 2)
Histori 4 jam lalu 96 disimak
Kapal Kargo Tabrak KM Putra Buluh di Perairan Bintan, 4 Nelayan Masih Hilang
Artikel 5 jam lalu 105 disimak
Rumah Terbakar di Tanjungpinang, Diduga Akibat Obat Terapi yang Dibakar
Artikel 5 jam lalu 107 disimak
Harga Emas Antam dan UBS di Batam Tembus Rp2,8 Juta/ Gram
Artikel 5 jam lalu 98 disimak
Imigrasi Batam Gagalkan Keberangkatan 1.975 Calon Pekerja Migran Nonprosedural
Artikel 5 jam lalu 91 disimak

POPULER PEKAN INI

Cuaca Panas Masih Terasa di Batam, Waspadai Hujan Angin dan Petir
Artikel 6 hari lalu 513 disimak
Amsakar Lantik 2 Pejabat Eselon II, Geser Ratusan ASN di “Babak Pertama” Rotasi 2026
Artikel 6 hari lalu 491 disimak
BP Batam Dukung Pemerintah Pusat: Penataan Lahan & Laut Harus Ada Kepastian Hukum
Artikel 6 hari lalu 402 disimak
“Berkarya untuk Negeri”: Mobil Hias RW 20 Cipta Permata Ikut Ramaikan Pawai Pembangunan Kota Batam
Artikel 1 hari lalu 360 disimak
Diduga Terjadi Pengavelingan Laut di Teluk Tering, BP Batam Verifikasi Alokasi Lahan 28 Perusahaan
Artikel 2 hari lalu 314 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?