Hubungi kami di

Berita

Rumah “The Hobbit” Versi Indonesia

Mike Wibisono

Terbit

|

RUMAH model “The Hobbit” seperti yang ada di film, ternyata bisa juga disaksikan di negara kita. Tak perlu lagi jauh-jauh lagi ke Selandia Baru.

Lokasinya ada di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kamu akan menjumpai wisata ala desa Shire dalam film fiksi ‘Lord Of The Rings’.

Adalah Desa wisata Serang, Kecamatan Karangreja, sebuah tempat wisata yang biasa disebut sekolah alam Kampung Kurcaci oleh masyarakat setempat. Disebut Kampung Kurcaci, bukan karena penduduk setempat berukuran kecil, melaikan karena menggambarkan filosofi bahwa sejatinya manusia itu terasa kecil dibanding keindahan alam.

Lokasi kampung kurcaci ini sangat sejuk, mirip seperti di Lembang Bandung. Bahkan suasananya lebih dingin karena berada di kaki Gunung Slamet.

Alam disekitarnya ditumbuhi hutan pohon damar yang sudah berusia ratusan tahun. Wisata tentu akan betah berlama-lama duduk di rumah pohon atau di bawa rindangnya pohon damar. Selagi Anda bercengkrama, wisatawan juga bisa berswafoto di berbagai sudut di lokasi seluar 3,5 hektar tersebut.

“Awalnya, kami menyiapkan sekolah alam untuk anak-anak desa. Untuk menarik anak-anak, kami buatkan semacam rumah Kurcaci, dan ternyata anak-anak sangat tertarik. Tidak hanya, anak-anak desa setempat, wisatawan yang datang kemudian berfoto dan mengunggahnya ke media sosial, menjadikan Kampung Kurcaci semakin ramai,” ujar pegiat desa wisata setempat yang sekaligus pengelola Rumah Kurcaci, Edi Susanto yang dikutip dari Purbalingganews.net, Sabtu 1 Oktober 2016.

Ketika wisata berada di bawah rindangnya pepohonan besar dan menjulang tinggi, Anda akan merasa lebih kecil seperti kurcaci. “Dengan filosofi itu, ketika wisatawan berkunjung ke rumah Kurcaci, diajak untuk berintrospeksi diri bahwa kita hidup harus saling menghormati, dan bersyukur serta berbagi,” tutur Edi.

Kampung Kurcaci terdapat keindahan alam dan beberapa fasilitas yang menunjang tempat wisata ini. Seperti air terjun, Terung, curug Lawang, rumah kurcaci, arena bermain tradisional, panggung kurcaci, camping ground, pendakian Gunung Kelir, perpustakaan alam, dan rumah pohon.

“Kami ingin menyajikan pula kepada wisatawan berupa hutan yang asri, udara yang segar, suasana damai dan persahabatan yang hangat,” ujar Kusin, seorang pemadu wisata kampung Kurcaci.

Untuk masuk di kampung Kurcaci, wisatawan cukup membeli tiket Rp 5.000 per orang. Sementara untuk parkir kendaraan sepeda motor hanya Rp 2.000. Para pengelolanya yang berjumlah 18 orang pun selalu berusaha ramah menyambut wisatawan.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Prayitno mengatakan, sekolah alam Kampung Kurcaci ini mulai dikenal saat libur lebaran lalu. Pengelola kampung ini sebelumnya lebih menfokuskan sebagai sekolah alam, namum ternyata juga berpotensi untuk dikembangkan seperti farm house di Lembang Bandung.

Pembenahan pun mulai dilakukan, termasuk untuk parkir sepeda motor dan kendaraan roda emat. Saat ini untuk parkir mobil memang masih kesulitan, tapi dalam waktu dekat, parkir mobil sudah disiapkan areal khusus yang jaraknya tidak jauh dari Kampung Kurcaci.

“Areal sekolah alam kampung kurcaci ini seluas kurang lebih 3,5 hektar merupakan lahan milik PT Perhutani. Pihak pengelola dalam kapasitas sebagai masyarakat anggota LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) tengah menyiapkan kerjasama dengan Perhutani. Tentunya kami berharap, Perhutani memberikan kemudahan dalam pengelolaannya. Prinsipnya, masyarakat tidak merusak tanaman hutan utama berupa pohon damar,” kata Prayitno. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook